
Daniel mengernyitkan dahi. ia menatap heran ke arah Kiran. " Meyerah? apa maksudmu, Ran?"
"Bukan apa - apa. Ayo turun! Kita sudah sampai, kan?" Kiran tersenyum manis. Namun, hal itu justru membuat Daniel semakin merasa ada yang aneh.
"Apa menurutmu ini bagus, Niel? Ah semuanya lucu - lucu aku tidak bisa menahan diri," kata Kiran sembari menatap baju bayi di tangannya.
"Ini bagus, Va. Se......"
"Tidak! itu terlalu norak. Aku tidak mau anakku memakai baju penuh bunga - bunga begitu."
Kiran dan Daniel menoleh, keduanya terkejut saat melihat Darren bersedekap. Daniel menghembuskan napas kesal. Kalau bukan sedang berada di tempat umum, Daniel pasti sudah memberikan pukulan pada Darren.
"Tapi aku tidak meminta pendapatmu" balas Kiran tegas. ia menatap tidak suka ke arah Darren.
"Tapi itu untuk anakku, Jadi aku berhak memberikan pendapat, Ran," ucap Darren.
"Terserah! Kamu benar - benar membuatku kesal," kata Kiran ia kembali menggandeng lengan Daniel dan berjalan menjauhi Darren.
Mata Kiran berbinar - binar ketika melihat aksesoris dan semua perlengkapan bayi yang tampak menggemaskan. Kiran mengambil sepatu berwarna biru muda, ia tersenyum manis lalu menunjukkannya kepada Daniel.
"Kalau yang ini bagaimana, Niel? ini bagus dan lucu, Kan?" kata Kiran. Senyumnya mengembang sempurna seolah - olah tidak ada beban di hatinya.
"Iya itu bagus. Tapi......"
"Bagaimana kalau anak kita perempuan, Ran? Jangan warna biru begitu. Aku tidak mau kalau anakku sampai bersikap seperti laki - laki kalau pakai sepatu biru begitu," Ujar Darren yang lagi - lagi menyela ucapan Daniel.
Daniel menggeram tertahan. ia mengepal kan tangannya lalu menatap tajam ke arah Darren. " Sebenarnya apa maumu, Kak?" tanya Daniel.
"Aku hanya ingin mencarikan perlengkapan yang cocok untuk anakku," jawab Darren sembari tersenyum santai.
Daniel mendelik kesal. Namun, saat ia hendak membalas ucapan Darren ponselnya berdering.
Daniel menempelkan ponselnya pada telinga. Raut wajahnya tampak terkejut ketika seseorang di sebrang telfon tengah berbicara.
"Ran maaf, sepertinya aku harus pergi. ada hal penting yang tiba - tiba terjadi. Kamu tidak apa - apa kalau pulang sendiri, kan?" tanya Daniel ia menatap penuh rasa bersalah pada Kiran.
__ADS_1
"Tidak apa - apa Niel. Kan taksi banyak," jawab Kiran sambil tersenyum manis.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Hati - hati dengan buaya cap kadal ini. Jangan sampai tergoda dengan bujuk rayunya!" jawab Daniel sambil melirik sinis ke arah Darren.
"Brengsek! Kalau aku buaya, kamu apa? Komodo." balas Darren kesal.
Kiran menggelengkan kepala. Setelah Daniel pergi, ia memilih meninggalkan Darren. Kiran berjalan menyusuri rak - rak lain.
"Tidak jangan pilih itu, Ran! itu terlalu kecil untuk anak kita." kata Darren saat Kiran sedang menyentuh box bayi berukuran sedang.
Lagi - lagi Kiran mengabaikan Darren. ia mengambil beberapa baju dan juga beberapa perlengkapan yang lainnya.
"Kenapa hanya sedikit? Bagaimana kalau nanti anak kita banyak, Ran? Bukankah lebih baik kita sek..."
"Siapa yang mau punya anak banyak darimu, hm? Kalau boleh memilih, aku lebih baik mencari pria lain yang jauh lebih baik darimu," ketus Kiran. Matanya menatap tajam.
Darren ternganga mendengar ucapan Kiran. "Ran, kenapa kamu berbicara begitu? Ah, aku sakit hati sekali. padahal aku ingin membuat tim sepak bola," ujar Darren sembari berpura - pura sedih. Raut wajahnya murung dan ia berharap Kiran menoleh dan luluh padanya.
Kiran menghembuskan napas panjang. ia kesal karena Darren terus saja mengikutinya. Selain itu, ia juga belum bisa menahan rasa sakit hatinya ketika berhadapan dengan Darren.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Aku tahu aku bersalah, Ran. Tapi aku mohon maafkan aku. A...Aku merasa hampa tanpamu, Ran." ucap Darren penuh penyesslan.
Kiran mengernyitkan dahi. ia mengusap perutnya kemudian berbalik membelakangi Darren.
"Sejak kapan kamu pandai menggombal begitu? Ah, aku tidak suka." kata Kiran.
"Astaga, Ran. Aku sudah bersusah payah menggombal dengan belajar bersama pak satpam di rumah kita. Tapi kamu malah...."
"Aku, kan tidak menyuruhmu melakukan itu," balas Kiran. ia tersenyum tipis dan menghadap kembali ke arah Darren.
"Oke, Kalau begitu katakan apapun yang kamu inginkan. Aku janji akan langsung menurutinya," kata Darren meski tangannya pegal karena Kiran tak kunjung mengambil buket bunga dan perhiasannya. tapi Darren tetap mencoba bertahan. Demi cinta!.
"Kalau begitu aku memintamu segera pergi dari sini!"
"Yang lainnya, Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini sendirian."
__ADS_1
"Tapi..."
"Sayang, Jangan melawan Suami. Dosa loh," kata Darren sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Memangnya kamu suamiku?" Kiran tersenyum miring yang sukses membuat Darren gemas seketika.
"Bukan, Tapi aku adalah raja dihatimu," balas Darren sembari menaik turunkan alisnya.
Kiran bergidik ngeri sembari berpose mual - mual. "Huek! Menjijikan sekali ucapanmu!"
"Ran, Ayolah maafkan aku. Astaga, Aku sudah malu di lihat banyak orang begini," ucap Darren.
"Memangnya siapa suruh kamu melakukan itu? Aku tidak peduli meski kamu malu sekalipun."
Darren menghembuskan napas pelan. ia meletakkan kotak perhiasan di lantai. "Apa aku harus mencium kakimu, agar kamu mau memaafkan aku?" tanya Darren. ia menatap sendu ke arah Kiran.
"Boleh, atau perlu kita langsung datang saja ke kantor pengadilan ag....."
"Tidak jangan katakan itu, Ran! Aku mohon, hanya kamu satu - satunya yang akan menjadi istriku. Aku mencintaimu."
"Tapi sayangnya, Aku sudah terlanjur memben..." ucapan Kiran terhenti karena Darren mendorongnya hingga bersandar pada salah satu rak toko. Kiran mengerjapkan matanya beberapa kali, Setelah itu ia berusaha mendorong Darren.
Namun, Sayangnya Darren diam tak bergeming. Darren justru mencekal kedua tangan Kiran erat. Tatapan Darren pun begitu dalam dan meneduhkan seolah ada ribuan cinta yang tersemat di dalamnya.
"Jangan pernah mengatakan hal yang akan membuatku marah, Sayang! Sampai kapan pun, Kamu tidak boleh membenciku," ujar Darren suaranya mengalun rendah dan penuh peringatan di telinga Kiran.
"Kamu bisa marah juga rupanya?" tanya Kiran tersenyum tipis sembari menatap datar kearah Darren. Tatapan cinta yang biasanya ia tunjukkan kepada Darren, Seolah sirna di telan kekecewaan.
Darren menghela napas pelan. Tatapan matanya semakin menusuk, Tetapi tak membuat Kiran gentar. Kiran justru semakin kuat mendorong Darren agar menjauh darinya.
"Sampai kapan, kamu akan terus begini, Ran? Aku sudah meminta maaf padamu. Aku memang bersalah, tapi apa pantas kamu memperlakukan aku seperti ini,?" tanya Darren matanya menatap sendu ke arah Kiran. Rasa lelah dan putus asa semakin membuatnya tak berdaya."
Terima kasih sudah membaca. Kira - Kira Kiran mau memaafkan Darren atau tidak? Lalu apa maksud Kiran yang katanya ingin menyerah?
Nantikan terus kisah mereka, Ya!!
__ADS_1
Jang lupa like, komen dan vote.