Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Cinta untuk Kiran


__ADS_3

"Kamu beneran nggak ada hubungan apapun dengan Arya, kan?" tanya Darren menatap Kiran. ia menatap wajah sang istri yang tengah berbaring di sampingnya.


"Memangnya kenapa kalau aku ada hubungan sama dengan Mas Arya? Tuan Suami marah?" tanya Kiran sembari menatap Darren. Wajahnya tampak berseri - seri terlebih lagi sedari tadi Darren setia mengusap - usap perutnya.


"Menurutmu, Aku harus marah atau diam saja, hm?" Darren bertanya balik. setelahnya ia terlentang dengan posisi kedua tangan yang ia gunakan di jadikan bantal. Darren menatap langit - langit kamar Kiran. pikirannya berkelana jauh, memikirkan saat - saat dimana ia sering menyakiti Kiran.


Darren menghembuskan napas panjang. perasaan bersalah kembali muncul di hatinya. Darren juga mendadak ragu untuk mengajak Kiran pulang kerumahnya. bagaimana kalau Kiran tidak bahagia hidup denganku? begitulah pikir Darren.


"Kalau Tuan Suami, memang mencintaiku seharusnya Tuan suami marah. Tapi...., aku tidak suka melihat Tuan marah - marah." ujar Kiran.Tangannya terulur menyentuh pipi Darren.


Darren tersentak kaget dari lamunannya setelah mendengar ucapan dari Kiran. ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian beranjak dan duduk di tepi ranjang.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Ran?" tanya Darren setelah beberapa saat ia terdiam. Darren melirik Kiran yang masih berbaring di sebelahnya.


"Tidak perlu izin kalau mau bertanya Tuan Suami. katakan saja, aku pasti akan menjawabnya," balas Kiran perlahan - lahan ia pun beranjak dan duduk disamping Darren.


Darren menatap wajah lekat Kiran. ia tersenyum manis lalu mengecup pelan pipi Kiran. "Apa kamu sangat bahagia saat bersama Arya?"


Kiran mengernyitkan dahi setelah mendengar ucapan Darren. Namun, setelahnya Kiran tersenyum begitu manis sembari merengkuh lengan Darren. Kiran tidak langsung menjawab, dia justru menyandarkan kepalanya pada bahu Darren. Kiran memejamkan mata demi menikmati rasa bahagianya dan ketenangan yang peralahan - lahan memasuki hatinya. "Aku sangat bahagia, karena Mas Arya itu orang yang baik. Dia juga perhatian dan selalu membantu saat aku sedang membutuhkan."


"Kalau begitu kenapa kamu tidak bersamanya? kenapa kamu masih setia setelah apa yang telah aku berbuat kepadamu?" tanya Darren. Suaranya terdengar lirih tetapi sukses membuat Kiran melepaskan pelukannya pada lengan Darren.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Tuan Suami? Aku ini istrimu, jadi sudah sepantasnya aku itu setia." balas Kiran. Tatapan matanya begitu serius ketika beradu pandang dengan Darren.


"Tapi bagaimana jika kamu tidak bahagia hidup denganku, hm? kamu tidak takut jika sewaktu - waktu aku berbuat jahat kepadamu?" tanya Darren. ia menggeser duduknya hingga berhadapan dengan Kiran.


Darren menggengam lembut tangan Kiran. tatapan matanya begitu teduh dan menenangkan bagi Kiran yang matanya sudah mulai berkaca - kaca. Darren tersenyum begitu manis hingga lesung pipinya terlihat.


"Aku tidak takut, Karena aku yakin kamu tidak akan melakukannya. kamu mencintaiku, kan? Aku percaya kamu tidak akan berbuat jahat lagi." ujar Kiran. Air matanya tumpah, membasahi pipinya yang chubby.


"Tapi bag....." Darren menghentikan ucapannya. ia membelalakkan mata ketika Kiran menarik tangannya lalu ******* bibirnya Darren tertegun, tetapi setelahnya ia pun membalas permainan bibir Kiran.


"Jangan bicara seperti itu lagi! jangan membuatku ragu dengan perasaanmu, Tuan Suami," lirih Kiran ia memeluk Darren dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya itu.

__ADS_1


Darren menghembuskan napas panjang. ia membalas pelukkan Kiran kemudian mengecup puncak kepalanya.


"Kalau begitu kamu mau pulang bersamaku, hm? kita mulai semuanya dari awal lagi," kata Darren nada suaranya begitu lembut, hingga membuat Kiran semakin melabuhkan hati untuknya.


Kiran menganggukan kepala. "Ayo pulang! kita buat keluarga yang bahagia bersama" balas Kiran sembari mendongak dan menatap wajah Darren.


"Kalau begitu jangan pergi lagi! Jangan meninggalkan aku apapun yang terjadi tetaplah di sisiku! ucap Darren serius


"Ya, aku berjanji, Tuan Suami. aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati." ucap Kiran nada suaranya terdengar lembut.


"Terima kasih banyak, I love you" bisik Darren sembari mengecup singkat bibir Kiran."


Keduanya saling berpandangan.Tatapan penuh cinta dari Darren, diam - diam membuat Kiran tersipu malu. pipi Kiran merona merah, membuat Darren yang melihatnya gemas seketika."


"Kamu cantik sekali, ngomong - ngomong kapan dia akan lahir?" tanya Darren kini pandangannya beralih pada perut Kiran.


"Mungkin sekitar antara dua sampai tiga bulan lagi" jawab Kiran ia tersenyum manis sembari mengusap perutnya.


"Aku tidak sabar, ingin bertemu dengannya."


"Tidak! panggil dia Daniel! dia adik iparmu Kiran. Aku cemburu jika pria lain kau panggil dengan sebutan seperti itu," ujar Darren matanya menatap penuh peringatan ke arah Kiran.


Kiran menghembuskan napas lelah. ia malas menatap ke arah Darren kemudian menganggukan kepala. "Baiklah kalau begitu, Ayo keluar. Aku takut Daniel dan Arya kelaparan" ujar Kiran sambil beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu.


Saat hampir membuka pintu. Kiran tersentak kaget ketika mendapat pelukkan dari belakang. Kiran melirik Darren yang menumpukan dagu pada bahunya.


"Lepaskan dulu Tuan Suami, ini sudah sore dan aku belum masak apapun." ucap Kiran dan berusaha melepaskan dirinya dari Darren.


"Tapi aku lapar, Ran." kata Darren alih - alih menyingkir ia justru mengeratkan pelukannya pada Kiran. Bahkan kini bibir Darren sudah mulai menari - nari di leher jenjang Kiran.


"Maka dari itu biarkan aku masak, Aku yakin Daniel juga lapar, Tuan Suami" ucap Kiran sambil memejamkan matanya ketika permainan bibir Darren menjadi semakin tak terkendali.


"Tapi aku lapar setelah melihatmu. Aku...., Sangat menginginkannya Ran." bisik Darren tepat di samping telinga Kiran.

__ADS_1


Kiran membelalakkan mata. Tentu ia tahu betul apa yang di inginkan oleh Darren. Namun, Kiran belum sanggup jika harus melayani Darren sekarang. Meskipun tidak, ia pungkiri jika tubuhnya pun menginginkan hal yang sama.


"Tidak sekarang Tuan Suami, Maaf aku belum bisa memberikannya. Lain kali saja ya," ujar Kiran sambil berbalik. ia menangkup kedua pipi Darren dengan lembut"


"Tapi..."


"Aku janji akan segera memberikannya untukmu. Tapi tidak untuk sekarang." ucap Kiran. ia mengecup sudut bibir Darren lalu tersenyum begitu manis.


Darren membalas senyuman Kiran. ia mengecup kelopak mata Kiran kemudian menganggukan kepala.


"Kalau begitu, aku akan menunggunya sayang," ucap Darren.


"E...Ehhh? S..Sayang?" pipi Kiran merona merah jantungnya berdegup dengan kencang. ia mendadak gugup setelah mendengar panggilan dari Darren untuknya.


"Kenapa? Kamu keberatan?" ucap Darren nada suaranya terdengar kecewa.


"T...Tidak. hanya saja aku...."


"Hanya saja apa?" tanya Darren ia terkekeh geli melihat tingkah Kiran yang malu - malu.


Kiran tidak menjawab apapun. ia semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Darren. Rasanya, Kiran begitu nyaman ketika mendengar detak jantung Darren.


"Ran...," panggil Darren.


"Apa?"


"Terima kasih banyak sudah mau bertahan sejauh ini. Aku sangat mencintaimu, istriku yang sangat cantik."


"Sudah puas bermainnya?" tanya Daniel ketika melihat Darren dan Kiran baru keluar dari kamar. Tatapan matanya begitu datar. jelas sekali kalau ia tengah marah kali ini.



Duhh...Aduhh Kasihan yah Mas Daniel diabaikan terus, sampai marah loh dia.😂 tanggung jawab tuh bang Darren😆

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote. kalau berkenan tekan tombol like...like....like...like yang banyak Yah.....


__ADS_2