
Kiran pun akhirnya tersadar. dia begitu kaget karena ada pria asing yang sedang duduk di samping ranjangnya. " K..Kamu siapa?" tanya Kiran. dia menatap waspada ke pria misterius yang terlihat santai, tetapi penuh wibawa.
"Perkenalkan nama saya Arya Kusuma. tadi saya menemukan Nona pingsan di taman. Karena sekarang Nona sudah sadar, boleh saya tau alamat rumahmu, Nona?" ucap Arya sopan.
Kiran terhenyak, matanya membulat sempurna ketika mendengar ucapan Arya. Kiran Reflek menggeleng. Sungguh untuk sekarang ini, Kiran belum siap jika harus bertemu dengan Darren maupun keluarga Wijaya yang lain.
"A..Aku..T..Tidak punya rumah. A..A" ucap Kiran terbata - bata.
"Lalu dimana suamimu?" tanya Arya sambil memincingkan matanya.
Arya sedikit mulai kesal. dia merasa jengkel ketika melihat Kiran menangis dan tak kunjung menjawab pertanyaannya. dan berkata "Saya tidak menyuruh Nona untuk menangis kan?, jadi cepat katakan saja, di...." ucapan Arya terhenti ketika Kiran langsung menyelanya.
"Tuan, Kumohon bawa aku pergi jauh dari kota ini! Aku mohon Tuan! ucap Kiran sambil melepas selang oksigen dan berusaha bangung dengan posisi setengah duduk dan bersandar di ranjang, kemudian Kiran langsung menangkup kedua tangannya di depan dada. memohon kepada pria tersebut agar mau menolongnya.
Arya terdiam bebeberapa saat. Pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu tampak kebingungan setelah mendengar ucapan dari Kiran. " Nona, K..Kamu waras kan?" tanya Arya, Kini Arya menatap penuh selidik ke arah Kiran. ia bahkan mulai menatap waspada ke arah Kiran takutnya wanita tersebut akan mengamuk.
"A..Aku baik - baik saja Tuan dan aku juga tidak gila Tuan? jadi aku mohon padamu bawa aku pergi jauh dari kota ini. aku janji akan membayar semuanya jika keadaanku sudah lebih baik." balas Kiran. di sertai isak tangis.
Arya mengusap wajahnya pelan. rasanya dia ingin buru - buru pergi agar tidak terlibat masalah dengan Kiran. Namun, sayangnya ia tidak tega bahkan saat pertama kali melihat Kiran pun, ia merasa seolah ingin melindunginya.
"Saya rasa, Nona benar - benar tidak waras, dan saya tidak mau ikut campur dengan urusanmu. lagi pula kita tidak saling mengenal kan," kata Arya. untuk mencegah hal - hal buruk yang mungkin saja bisa menimpanya. Arya memutuskan untuk meninggalkan Kiran dan mengabaikan rasa ibanya.
"Aku mohon Tuan Tolong selamatkan Aku," lirih Kiran.
"Ck! Saya tidak punya urusan denganmu sekarang saya harus segera pergi, kamu tenang saja biaya rumah sakit sudah saya bayar." ucap Arya.
Kiran menggelengkan kepalanya. kemudian ia menatap kearah balkon kamar rumah sakit dan ia nekat melepas selang infusnya dan langsung beralari menuju ke balkon kamar rumah sakit tersebut sebelum Arya mulai menjauh darinya.
__ADS_1
Kiran perlahan - lahan mulai berpegangan pada tepi balkon Rumah sakit. Mendengar gebrakan pintu dari arah balkon Rumah sakit yang cukup keras, Arya begitu kaget saat menoleh kearah balkon tersebut ternyata sudah ada Kiran yang berada di tepi balkon Rumah sakit itu, reflek Arya pun lari langsung menghampiri Kiran.
" Nona Kiran, Apa yang sedang kamu lakukan, jangan bertindak bodoh! ucap Arya dengan suara yang rendah tapi masih terdengar sedikit panik dan khawatir
"Jangan mendekat!! ucap Kiran dengan nada suara yang begitu tinggi.
"Aku akan melompat. jika kamu mendekat. ucap Kiran penuh ancaman.
"Kemarilah Nona, kita masih bisa bicara dengan baik - baik kan?" ucap Arya berusaha untuk membujuknya.
"Apa gunanya itu. Aku sudah mengatakan kepadamu bukan, kalau aku sangat membutuhkan pertolonganmu bahkan aku juga sampai memohon kepadamu untuk membawaku pergi jauh dari kota ini?. tapi tidak ada seorang pun yang mau menolongku, bahkan dirimu juga mengabaikanku jadi, Apa gunanya itu" ucap Kiran penuh emosi dan menangis kencang.
Kiran Menoleh kearah Tepi balkon dengan perasaan bimbang. dan kembali menatap ke arah Arya kemudian Arya mengulurkan tangannya dan Kiran pun mulai menyambut uluran tangan tersebut dan Arya langsung menarik tangan Kiran dengan sekuat tenaga kemudian langsung mendekap Kiran setelah Kiran sudah aman.
*****
Malam Sudah Semakin larut ketika Darren memasuki rumahnya. Darren langsung melepaskan jaketnya lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Namun, Sayang langkah kakinya langsung terhenti ketika mendengar panggilan dari seseorang.
"Darren! Kamu pergi kemana saja dari tadi aku nungguin kamu loh."
Darren menghela napas, melihat Shelvi berdiri di depannya. "Aku tidak menyuruhmu, untuk menungguku kan. Sekarang lebih baik kamu pulang Shelvi, Aku malas berurusan denganmu lagi!".
__ADS_1
"T..Tapi Darren.."
"DIAM Shel!! kau benar - benar membuatku muak. sekarang kamu memang sudah berubah." dengus Darren sembari berlalu pergi meninggalkan Shelvi.
Darren berjalan cepat menuju kamarnya. lagi - lagi langkahnya terhenti. ketika melihatnya Ayahnya yang sedang duduk termenung di ruang Makan. Darren Pun mulai mendekatinya.
"Yah, tolong bantu aku mencari Ki...." belum sempat Darren menghentikan ucapannya, Kenzo sudah lebih dahulu mengangkat tangan.
"Sampai kapan pun Ayah tidak akan membantumu untuk mencari Kiran". ucap kenzo penuh ketegasan
"Tapi, Yah...."
"Anggap saja ini sebagai pelajaran untuk kamu, karna kamu sudah mencampakkan Kiran. jadi sekarang kamu nikmatilah penyesalanmu." kata Kenzo sambil menyunggingkan senyum remeh ke arah putranya.
Darren terdiam sejenak, hatinya mendadak begitu sakit, setelah mendengar ucapan dari Ayahnya. "Apa aku pantas mendapatkan ini semua? Sial! Awas saja kau Zivanna Kirannia," Suaranya bernada rendah tapi penuh penekanan.
*****
Kini sudah hampir dua minggu lamanya Kiran pergi meninggalkan Darren. Namun, hingga kini keberadaannya masih belum di ketahui. oleh siapapun. termasuk Kenzo yang diam - diam mulai mencari tahu keberadaan Kiran.
Darren sebelumnya menyangkal perasaanya kepada Kiran. tapi kini dia mulai merasakan perasaan kehilangan yang begitu besar. bahkan Darren pun kerap terbangun dari tidurnya karena sering memimpikan Kiran. seperti pada malam sebelumnya, kali Darren terbangun ketika tengah malam. Keringat tampak mulai membasahi seluruh tubuhnya. selain itu, tubuhnya bergetar karena mulai merasakan takut dan cemas yang telah memenuhi hatinya.
"Kiran tidak mungkin terluka kan," gumam Darren ia menyeka rambut di dahinya yang sedikit basah karena keringat. Darren menghembuskan napas panjang karena lagi - lagi ia bermimpi buruk tentang Kiran.
*****
"Jadi Wanita mana yang sekarang kamu hamili Ar..?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik dan penuh wibawa.
"Saya tidak pernah menghamili siapa pun bu,?" jawab Arya sambil menunduk sopan.
"Lalu siapa wanita itu...? dan dari mana asalnya kenapa kamu membawanya ke rumah ini?" tanya Ibu Lesti yang tak lain adalah ibunya Arya.
***Lalu berhasilkah Darren menemukan Kiran? Akankah Darren menepati janjinya ketika Kiran kembali?
__ADS_1
Yah seperti itulah hidup penyesalan selalu datang setelah kehilangan***.
Jangan lupa Like,Komen dan Vote.