
Kenzo menggeleng pelan saat melihat Daniel yang sedang murung.
"Kenap Niel? Kamu masih mikirin ucapan Mama?" tanya Kenzo saat ia duduk di dekat Daniel.
Daniel tidak langsung menjawab. Ia mengangguk kemudian menatap Kenzo sekilas.
"Aku takut Mama tidak menyetujui hubungan ku dengan Citra, Yah. Sepertinya Mama sangat kecewa denganku."
"Kata siapa? Mama kamu tidak pernah tidak setuju dengan keputusan anaknya. Dia mendukung semua keputusanmu, Niel."
"Tapi tadi Mama marah, Yah. Aku jadi merasa tidak enak padanya,"
"Percayalah Mama tidak marah, dia hanya takut kamu salah dalam mengambil keputusan tapi sekarang, kamu tenang saja. Ayah sudah berbicara dengannya,"
"Benarakah? Apa yang Ayah bicarakan dengan Mama?"
"Kamu tidak perlu tahu, yang terpenting sekarang dia sudah tidak marah ataupun kecewa lagi denganmu.
Mendengar ucapan Kenzo. Daniel tersenyum lega.Beban di hatinya pun seolah sirna.
"Terima kasih banyak. Ah, ngomong - ngomong Ayah setuju kan, kalau aku dan Citra menikah secepatnya?"
"Hm, lakukan apapun yang terbaik. Dan ingat! Jangan kamu sekali - kali menyakiti hati seseorang perempuan lagi! Cukup Citra jangan sampai ada yang lainnya.
"Aku tahu, Yah."
"Bagus. Meski brengsek kita sebagai seorang pria tidak boleh menyakiti wanita," sambung Kenzo sambil menepuk pundak Daniel.
__ADS_1
"Ya. Aku akan selalu mengingat hal itu, Yah."
****
Hari sudah semakin siang. Akhirnya yang di tunggu - tunggu pun datang. Darren baru saja menghentikkan mobilnya di pelantaran rumah yang begitu ramai.
Dari kejauhan Kenzo dan Daniel memperhatikan Darren. Keduanya sangat terkejut melihat Darren yang tidak datang sendirian. Melainkan bersama dengan Kevin.
Melihat hal tersebut, Daniel mendadak marah. Ia mengepalkan tangannya. Dan bersiap menghampiri Kevin.
"Tahan emosimu, Niel! Jangan membuat keributan atau Ayah tidak akan segan untuk memukulmu," kata Kenzo. sembari mencekal pergelangan tangan Daniel.
"Tapi aku sangat tidak suka melihat Kevin, Yah. Aku sangat membencinya," ketus Daniel.
"Kamu pikir Ayah juga tidak, hm? Tapi lihatlah! Bukankah Darren sendiri yang membawanya kesini? Jadi biarkan saja"
"Tapi, Yah....."
Daniel menghembuskan nafas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah itu, tatapannya pun kembali pada Darren yang sedang mendorong kursi roda Kevin.
"Sepertinya Daniel tidak suka dengan kehadiranku di sini?" ucap Kevin saat ia tidak sengaja beradu pandang dengan Daniel.
"Memangnya siapa yang suka kamu ada di sini, Vin? Semua keluargaku membencimu," jawab Darren to the point.
Kevin tertohok setelah mendengar ucapan dari Darren. Ucapan Darren memang benar. Tidak ada yang menyukai dirinya. Dan sepertinya Kevin terlalu percaya diri dan salah paham atas perlakuan Darren padanya.
"S...setelah melihat Papa, bisakah kamu mengantarku ke rumah sakit, Darren?" tanya Kevin. Ia merasa tidak nyaman jika harus berada di antara keluarga Kenzo.
"Hm, nanti aku akan menyuruh sopir untuk mengantarmu,"
__ADS_1
"Terima kasih,"
"Ya,"
Sesampainya di dekat Bima, mata Kevin memanas. Tangannya gemetar dan dadanya pun terasa begitu sesak.Kevin tidak rela jika Bima meninggalkannya.
"P...Papa...., apa yang akan terjadi dengan hidupku ini jika tanpa Papa?" lirih Kevin.
Sementara Darren. Ia dengan perasaan yang tidak menentu.
"Maaf karena selama ini aku sangat durhaka padamu, Pah. Maaf juga karena aku sudah membuatmu mengalami hal ini, Pa... maafkan aku," kata Kevin. Kini ia menangis terisak sehingga membuat Darren pun meneteskan air matanya.
"Sudahlah, Vin. Biarakan Om Bima pergi dengan tenang," kata Darren sambil mengacak rambut Kevin.
Kevin menganggukan kepala. Setelah itu ia pun kembali berkata, " Setelah ini aku berjanji akan menjadi orang baik, Pa. Aku akan menebus semuanya,"
"Jadilah orang yang baik, Vin. Agar Om Bima bangga denganmu." ucap Darren. Ia tersenyum tipis lalu menepuk pelan pundak Kevin.
Kevin tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sembari memegang tangan Darren.
Setelah cukup lama berbicara di depan Bima, kini Kevin dan juga Darren membiarkan orang - orang untuk membawa Bima ke makam.
Darren dan Kevin mengantarkan kepergian Bima hanya sampai di depan teras. Keduanya di larang ikut oleh Alex. Alasannya karena Alex tidak mau ada drama tangis - menangis saat Bima di makamkan.
"Pergilah tenang, Pa. Maaf jika aku belum bisa menjadi anak yang kamu banggakan. Selamat tinggal," gumam Kevin.
"Terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan, Pah. Selamat tinggal..." lirih Kevin dengan air mata yang kini kembali menetes di pipinya.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.