Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Panik


__ADS_3

Cukup lama bagi Darren untuk mendapatkan jawaban dari satpam rumahnya. Setelah terjawab, ia pun langsung bertanya.


"Pak, apa sekarang Kiran sedang ada di rumah?" tanya Darren pada Satpam di rumahnya itu.


"Loh, bukannya tadi Non Kiran mau ke kantornya Den Darren, ya?" tanya Pak Eko Satpam di rumahnya dari sebrang telepon. Dari nada suaranya Pak Eko juga terdengar keheranan.


"Tapi sampai sekarang Kiran belum sampai, Pak? Aku pikir dia masih ada di rumah." jawab Darren.


"Non Kiran sudah berangkat dari tadi, Den Darren."


"Dia antar sopir atau bagaimana, Pak?" tanya Darren lagi kini perasaannya semakin gusar.


"Naik taksi, Den. Kan semua supir lagi nggak ada di rumah. Tapi ada yang aneh, Den?" kata Pak Eko, suaranya terdengar serius.


"Aneh bagaimana, Pak?"


"Tadi ada taksi yang berhenti di dekat rumah. Saya pikir sopirnya sedang menunggu seseorang. Tapi saat Non Kiran datang, dia menerimanya," ujar Pak Eko panjang lebar.


Mendengar ucapan Eko, Darren mengernyitkan dahi. Ia beranjak dari duduknya lalu memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Darren heran, tetapi ia selalu mencoba untuk berpikir positif.


"Mungkin Kiran sudah memesannya terlebih dulu, Pak?"


"Tidak mungkin, Pak. Saya yakin betul, Non Kiran tidak memesan taksi itu."


"Kalau begitu kenapa Pak Eko tadi tidak melarangnya? Seharusnya Pak Eko mencarikan taksi yang lain," ketus Darren.


"Non Kiran sudah terlanjur pergi, tadi niatnya saya menghampiri Non Kiran juga mau pesankan taksi yang lain. Eh, pas saya tawarin, katanya tidak perlu, Den."


"Hm, lain kali jangan ceroboh Pak! Bapak di tugaskan untuk menjaga keluarga saya, tapi malah begini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Kiran? Apa Bapa mau bertanggung jawab."


"Maaf Den, lain kali saya tidak akan ceroboh lagi," ujar Pak Eko suaranya menunjukkan rasa penyesalan yang cukup besar.


"Hm. Sekarang segera periksa CCTV! Lihat berapa nomor plat taksi itu. Kalau sudah ketemu langsung kirimkan ke saya!"


"Baik, Den."


Tut!


Sambungan telepon terputus, Darren mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menatap ke arah Daniel.

__ADS_1


"Bagaimana, Kak Darren?"


"Sepertinya ada yang sedang bermain - main dengan ku, Niel."


"Apa maksudmu, Kak Darren?" tanya Daniel kali ini berdiri dan berjalan mendekati Kakaknya itu.


"Kiran tidak ada di rumah. Dan menurut penuturan Satpam yang ada di rumah, Kiran menaiki sebuah taksi yang memang sudah lama berhenti di dekat rumah kita. Bukankah itu mencurigakan" ujar Darren.


"Taksi? Ah, itu mungkin pesanan Kiran, Ka Darren. Lagi pula di dekat rumah kita kan memang sering ada taksi yang berhenti," balas Daniel. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Tapi Kiran tidak pernah pesan taksi online, Niel. Dia tidak tahu caranya. Kalau pun pesan biasanya aku yang memesankannya," sambung Darren.


Daniel mengernyitkan dahi, pria itu berkacak pinggang lalu berkata, "Kalau begitu kita harus cepat mencari Kiran, Kak Darren."


"Aku tahu, tapi kita harus mencarinya kemana? Tidak mungkin kan kita mencarinya tanpa petunjuk,"


"Lacak ponsel Kiran. Aku yakin! kita pasti bisa menemukannya."


"Dari tadi aku juga sudah melakukan itu, Niel. Tapi sangat sulit."


Darren menghembuskan napas kasar, ia mengepalkan tangan untuk meredam kemarahannya.


"Kita cari Kiran dulu. Masalah petunjuk kita cari nanti. Siapa tahu Kiran tersesat makanya dia belum sampai," gurau Daniel.


"Kau pikir Istriku anak kecil," balas Darren.


"Aku hanya bercanda, Kak Darren? Ayolah! Jangan terlalu tegang! Kamu tahu? Semuanya akan semakin rumit kalau kita juga panik dan tegang"


"Bagaimana aku tidak tegang, Niel? Istriku tidak ada kabar sama sekali. Aku sangat takut kalau Kevin mencelakainya," balas Darren wajahnya begitu sendu. Sehingga membuat Daniel pun tidak tega melihatnya.


" Its oke, Kak Darren.Kiran pasti baik - baik saja. Sekarang kita cari dia dan kita minta bantuan Om Alex untuk menyelesaikan ini. Kalau perlu kita bisa minta bantuan pada Arya."


Darren terdiam sejenak sebelum akhirnya ia akhirnya dia menggangguk dan berkata, " Baiklah, ayo kita cari Kiran di daerah sekitar sini."


Setelah sepakat, Darren dan Daniel bergegas meninggalkan kantor. Kedua terburu - buru menuju ke arah parkiran. Kali ini Daniel memilih yang mengemudi. Sedangkan Darren, ia memilih untuk menghubungi Om Alex untuk meminta bantuan.


"Kita cari dia di sekitaran ruamah dulu, Van? Siapa tahu Kiran ada di sana."


"Oke."

__ADS_1


Keduanya begitu fokus mencari keberadaan Kiran. Mereka menatap sepanjang jalan, tetapi tidak ada tanda - tanda keberadaan Kiran.


Darren menggeram tertahan. Rasa frustasi mulai hadir di hatinya. Saat Kiran tak kunjung di temukan.


Saat sudah mulai putus asa. Ponsel Darren bergetar menandakan jika ada pesan masuk. Dengan rasa malas Darren membuka pesan di aplikasi tersebut. Darren mengernyit heran melihat nomor yang tidak di kenal mengiriminya foto.


Tanpa ba - bi - bu, Darren pun langsung membukanya.


"Bangsat!"


Daniel reflek menoleh karena mendengar umpatan dari bibir Darren. " Kamu kenapa lagi, Kak Darren?"


Darren tidak langsung menjawab. Tapi napasnya justru semakin memburu, dan berkata, " Kiran di culik, Niel!"


"Apa maksudmu?"


Darren menunjukan sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya. Daniel terbelalak melihat foto Kiran yang sudah tidak sadarkan diri sedang duduk dan di ikat di sebuah kursi.


"Sialan, kita lengah, Kak Darren."


"Hm, putar balik. Kita datangi rumah Kevin sekarang, juga!"


"Jangan gila kamu, Kak Darren! Itu namanya bunuh diri, kalau kamu datang kesana." Bentak Daniel pada Kakaknya itu.


"Aku tidak peduli lagi, Niel. Aku sekarang ingin membuat perhitungan dengan Kevin. Aku sangat yakin dia adalah dalang dari penculikan Kiran." Teriak Darren.


"Aku tahu kamu marah dan sangat khawatir dengan Kiran, Kak Darren. Tapi jangan gegabah. lebih baik kamu tenang dan mari kita pikiran cara yang tepat!" ucap Daniel.


"Suami macam apa yang bisa tenang saat Istrinya sedang di culik, Niel?!" Sentak Darren. Ia melirik tajam ke arah Daniel lalu kembali mengalihkan pandangannya.


Daniel memghembuskan napas pelan. Berbicara dengan Kakaknya dalam situasi yang seperti ini memang bukanlah waktu yang tepat. Sejak dulu, Kakaknya itu memang gegabah ketika sedang panik.


"Begini Kak Darren. Aku yakin mereka tidak akan berani untuk melukai Kiran. Kamu tahu? Mereka menculil Kiran hanya untuk memancingmu. Kalau kamu sampai datang tanpa persiapan, aku yakin kamu akan celaka."


"Aku tidak peduli hal itu, Niel! Bagiku Kiran jauh lebih penting dari apapun itu."


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu, like, komen dan juga vote.


__ADS_2