Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kekecewaan Helena


__ADS_3

Daniel membulatkan matanya. Ia benar - benar terkejut karena Helena baru saja menamparnya. Awalnya Daniel benar - benar tidak mengerti, tetapi saat melihat tatapan dari sang Mama, ia pun menghela nafas pelan. Rupanya Helena sangat kecewa karena Daniel tidak bisa menepati janji nya kepada keluarga Bunga.


"Mama tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria kurang ajar, Niel! Mama kecewa sekali sama kamu!" Sentak Helena tatapan matanya begitu tajam saat beradu pandang dengan Daniel.


"Ma, aku tidak mencintai Bunga. Lagi pula apa aku salah jika aku mengejar wanita yang aku cintai? Aku hanya mau Citra bukan yang lain."


"Kalau kamu memang menginginkan Citra, kenapa kamu memberikan harapan pada Bunga? Ya Tuhan, Niel. Kamu sangat keterlaluan!"


"Ma, sejak awal aku memang mencintai Citra. Tapi karena suatu hal. Aku lebih memilih untuk melepaskannya. Tapi setelah berpikir ulang, aku baru menyadari aku tidak bisa kehilangan dia."


Helena menghembuskan nafas panjang setelah mendengar ucapan dari Daniel.Selain kecewa, Helena juga sangat malu kepada keluarga Bunga. Terlebih lagi Ayah Bunga adalah rekan kerja suaminya.


"Seharusnya kamu jujur sejak awal, Niel. Kalau kamu jujur dan mengatakan semuanya, mungkin masalah seperti ini tidak akan terjadi,"


"Ma..." ucapan Daniel terpotong karena Helena menghentikannya.


"Mama, hanya takut keluarga Bunga marah, Niel. Mama sampai tidak mau kalau hal ini membuat keluarga kita di musuhi lagi. Mama lelah, Niel." lirih Helena, matanya terlihat berkaca - kaca.


Daniel tidak membalas ucapan dari Helena. Ia justru mengenggam tangan Helena, seolah - olah sedang meyakinkan Mamanya jika semuanya akan baik - baik saja.


"Sudah cukup selama ini Darren yang mengalami banyak bahaya, Niel. Mama juga tidak mau kalau kamu juga merasakan hal yang sama,"


"Mama jangan khawatir begitu! Aku berani jamin kalau keluarga Bunga tidak akan berbuat hal seperti itu,"

__ADS_1


"Tapi Niel...."


"Hel! Ikut saya sebentar!" Titah Kenzo yang sukses menghentikkan perkataan Helena.


Melihat tatapan Kenzo yang begitu serius, Helena pun mengangguk. Ia beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Kenzo menuju kamar.


Sesampainya di dalam kamar. Helena duduk di tepi ranjang. Sedangkan Kenzo? Pria itu tepat di hadapan sang Istri tercintanya.


"Jangan membahas hal yang tidak seharusnya, Hel! Kita sedang berduka, jadi tolong tahan dirimu!


"Tapi aku tidak bisa membiarkan Daniel berbuat seenaknya, Mas. Bagaimana kalau karena ulahnya, keluarga Bunga akan balas dendam pada kita?"


"Saya tahu. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu. Setidaknya biarkan pemakaman Bima berjalan lancar, Hel. Setelah itu, terserah kamu, mau mengatakan apa saja pada Daniel,"


"Tapi orang itu, bukan siapa - siapa kita, Mas. Dan dia juga sudah sangat jahat pada kita. Jadi untuk apa kita melakukan ini?"


"Sejak kapan kamu menjadi wanita pendendam, hm? Sejak kapan kamu menjadi penjahat seperti ini?"


"Mas.....!"


"Dengar, Hel! Sejahat apapun Bima kepada keluarga kita dia pernah menjadi mantan suami kamu. Kalau bukan kita yang mengurusnya, lalu siapa lagi?"


Helena terdiam setelah mendengar ucapan dari Kenzo. Ucapan Kenzo benar tidak seharusnya dia menaruh dendam pada mantan suaminya itu. Terlebih lagi, saat ini orangnya pun telah tiada."

__ADS_1


"Maaf Mas. Sepertinya saya sudah sangat keterlaluan."


"Hm. Sekarang ayo keluar. Dan ingat! Jangan memarahi Daniel. Dia sudah besar dan sudah tahu mana yang baik dan buruk. Untuk masalah Bunga kamu tidak perlu khawatir. Keluarganya tidak marah," ujar Kenzo yang sukses membuat Helena begitu terkejut.


"Tidak marah? Apa maksudmu, Mas?" tanya Helena bingung.


"Keluarga Bunga sudah menerima semuanya, Hel. Kemarin saya sudah menghubungi keluarganya untuk meminta maaf. Dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu lagi,"


"Benarkah?"


"Syukurlah aku jadi lega. Kamu tahu, Mas? Aku sungguh takut jika kehidupan Daniel akan sama seperti Darren yang penuh bahaya."


"Kamu terlalu mengkhawatirkan hal yang belum pasti, Hel. Ah, ngomong - ngomong Kiran ada di mana? Kenapa saya tidak melihatnya?"


"Kamu lupa, Mas? Setelah melayat Shelvi, Kiran kan langsung menginap di rumah Ayahnya?"


"Oh, ya sudah ayo kita keluar,"


Helena menganggukan kepala, setelah itu ia pun mengikut langkah kaki Kenzo. Helena tersenyum manis. Ia senang karena pada akhirnya keluarganya baik - baik saja.


"Aku harap kebahagiaan selalu bersama keluargaku untuk selamanya" ucap Helena dalam batin.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2