Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Tidak Mengabaikan Arka


__ADS_3

Rencana yang sudah di susun oleh Bara dan juga Kenzo terpaksa di tunda. Kemarin malam Kenzo tidak bisa meninggalkan rumah sakit karena kondisi Darren yang semakin menurun. Kenzo memilih menunggu sembari menenangkan Helena dan juga Kiran yang histeris, tepat setelah dokter mengatakan kondisi Darren. Saat ini kondisi Kenzo pun belum membaik. Bahkan Darren pun di nyatakan koma setelah bertaruh nyawa ketika melakukan operasi.


Tentu saja karena hal itu Kenzo menjadi kalut. Ia bahkan tidak bisa berfikir jernih karena memikirkan Darren. Namun, meski ia menunda rencana balas dendam. Bara tetapa melaksanakan tugasnya yaitu menghancurkan seluruh hal yang telah di miliki oleh keluarga Bima.


Saat ini, Kenzo sedang berada di ruang rawat inap Darren. Ia duduk sembari memperhatikan Kiran yang terus menangis. Tidak ingin menganggu, Kenzo pun memutuskan untuk keluar dari menemui Bara.


Sementara Kiran, ia hanya mengangguk lemah pelan saat Kenzo berpamitan padanya. Sejak kemarin malam, ia tidak henti - hentinya menangisi keadaan Darren. Kiran takut Darren akan meninggalkan dirinya dan juga Arka.


"Mas, sampai kapan kamu akan menutup mata?" tanya Kiran sambil menyandarkan kepalanya pada ranjang rumah sakit.


Lagi - lagi, Kiran menangis. Wanita itu terlihat terguncang saat menyaksikan alat - alat medis yang terpasang di tubuh Darren.


"Kamu tidak akan membiarkan aku sendirian kan,Mas? K... kamu tidak akan pergi, kan?"


Kiran merasa begitu hancur. Jiwanya seolah hilang karena Darren tidak kunjung sadarkan diri. Hatinya pun terasa begitu hampa. Seolah - olah ada sesuatu yang menghilang dari dalamnya.


Ceklek!


Pintu ruang rawat inap Darren terbuka. Kiran menoleh dan meliha Daniel berdiri di ambang pintu. Air mata Kiran semakin banyak mengalir sehingga membuat Daniel pun turut bersedih.


"Ran, jangan menangis terus sepert itu! Kesehatanmu akan terganggu kalau kamu begitu," ujar Daniel. Ia duduk di sofa sembari menatap ke arah Kiran.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, Niel. Aku akan terus menangis sampai Saumiku terbangun," ujar Kiran.


"Jangan egois, Ran! Kamu terlalu mengkhawatirkan Darren sampai lupa dengan Arka. Apa kamu tidak kasian dengannya? Dia masih kecil, tapi sudah di abaikan olehmu," tutir Daniel. Suaranya memang terdengar biasa saja. Namun, kata - katanya sukses menusuk tepat pada hati Kiran.


Kiran terdiam, tatapannya beralih pada Daniel. Kiran menatap sendu ke arah adik iparnya itu. Kali ini hatinya seolah tertampar karena perkataan Daniel.


"Apa Arka baik - baik saja, Niel?" tanya Kiran.


"Tidak. Dia tidak baik - baik saja, Ran. Sejak kemarin Arka terus rewel dan menangis. Dia sangat merindukanmu," ujar Daniel sembari beranjak dari duduknya.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Darren sendirian di sini, Niel. Bagaiamana kalau dia tersadar dan mencari keberadaanku?"


Daniel menghembuskan napas panjang ia berkacak pinggang sembari menatap datar ke arak Kiran. Kamu seorang Ibu kan, Ran? Seharusnya kamu tidak seperti ini. Apalagi Arka masih sangat membutuhkan ASI darimu," balas Daniel selain merasa kasihan dengan Kiran dia juga merasa kesal. Pasalnya, Kiran seolah - olah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang Ibu.


Hati Kiran mendadak pilu setelah teringat dengan Arka. Memang sudah lebih dari satu hari ia bearada di rumah sakit dan tidak pulang untuk sekedar melihat kondisi Arka.


"Aku tahu kamu sangat khawatir dengan Kak Darren, Ran. Tapi bukan berarti kamu bisa melupakan Arka seperti ini. Coba bayangkan! Kalau tidak ada Mama apa yang akan terjadi dengan Arka?"


"Ar...."


"Sesulit apapun kedaanmu saat ini, terapi jangan pernah melupakan Arka, Ran! Dia anakmu, dia masih sangat kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang darimu,"

__ADS_1


"Aku tidak pernah sekalipun melupakan Arka, Niel. Demi Tuhan! Selama di rumah sakit ini pun. Aku selalu memikirkan dia. Aku sangat tersiksa, Niel! Tukas Kiran. Nada suaranya meninggi. Membuat Daniel terkejut.


Daniel terdiam sambil menatap lekat ke arah wajah Kiran. Hatinya berdesir lara ketika melihat Kiran yang tampak begitu rapuh.


"Kalau boleh jujur, aku juga tidak mau seperti ini. Aku ingin segera pulang dan bersama dengan Arka. Lalu siapa yang akan menjaga Suamiku." tanya Kiran


"Ada aku, aku yang akan menjaga Kak Darren, Ran" jawab Daniel.


"Tapi aku tidak bisa tenang Niel. Aku selalu mengkhawatirkan Suamiku. Aku takut jika dia tiba - tiba pergi tanpa ada aku di sampingnya."


"Ran...."


"Aku memang ibu yang buruk, Niel. Tapi aku tidak pernah berniat mengabaikan. Arka. Aku sangat menyayanginya" ucap Kiran lirih.


Daniel menghela napas pelan. Tangannya terulur lalu menepuk pelan pundak Kiran.


"Kalau be...."


Ceklek!


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.


__ADS_2