
Sementara itu, di sebuah rumah mewah milik Bima. Kevin tampak duduk santai ssmbari berhadapan dengan Cindy.
Cindy? Ya....., beberapa saat yang lalu Kevin dan anak buahnya berhasil membawa Cindy pulang. Dan dalam perbuatannya itu, ia di bantu oleh salah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit. Kalau tidak, mana mungkin Kevin bisa mengelabui anak buahnya Bastian.
"Kemana saja kamu, Vin. Mama sama Papa sangat menderita di kurung oleh anak buahnya Alex."
"Aku mencari bantuan, Mah. Aku berpura - pura liburan untuk menjemput Niko. Dan Mama tahu? Saat ini dia berada di rumah ini," balas Kevin sambil terkekeh sumbang.
"Tunggu! Niko ada di rumah ini? Dimana dia?" tanya Cindy.
"Dia sedang istirahat di kamar. Ngomong - ngomong bagaimana keadaan Mama?"
"Ya, seperti yang kamu lihat. Mama baik - baik saja, Mama hanya luka kecil, tapi untungnya Mama berhasil mengelabui Darren,"
"Hahaha.. Mantan sahabatku itu memang sangat bodoh. Dan rasanya aku sudah tidak sabar ingin menghancurkannya."
"Kapan kamu ingin melakukannya, jangan menunda terlalu lama, Vin.Kasihan Papamu saat ini dia pasti sangat menderita,"
Mendengar ucapan Cindy, Kevin justru tersenyum lebar. Namun, pancaran matanya menunjukkan sebuah kelicikan.
"Mama tidak perlu khawatir! Keluarga Darren pasti akan hancur sehancur - hancurnya."
"Hm, jadi kapan kamu akan melakukannya? Dan apa saja yang sudah kamu rencanakan?" tanya Cindy yang penasaran dengan rencana yang sudah di susun oleh putranya itu.
"Mama tidak perlu tahu kapan aku akan melakukannya. Tapi yang jelas aku akan 'bermain' dengan seseorang sangat berharga di hidup Darren?"
"Siapa maksudmu, Vin? Tidak mungkin Helena, kan?" tanya Cindy. Ia tersenyum miring saat melihat Kevin yang menurutnya begitu pandai dalam menyusun rencana.
"Ck! Wanita tua itu tidak akan berguna, meski kita gunakan untuk mengancam Darren, Ma. Bukankah ada orang yang jauh lebih tepat untuk itu?"
"A... Apa maksudmu? Jangan - jangan kamu ingin...." Cindy membelalakan mata. Namun, tidak lama setelah itu ia menyunggingkan senyum sinis.
"Ya.., Mama benar. Aku akan menggunakan Zivanna Kirannia sebagai anacaman untuk Darren."
"Tapi menurut Mama ada yang jauh lebih tepat, Vin."
__ADS_1
"Siapa?"
Cindy tersenyum miring. Dan bersedekap kemudian berakata, " Arka"
"Woow! Mama benar - benar luar biasa. Tapi, aku tidak berminat berurusan dengan bayi, Ma. Akan sangat merepotkan kalau kita menggunakan anaknya untuk rencana ini," kata Kevin yang merasa kurang setuju dengan saran dari Cindy.
"Kamu benar juga, tapi terserah kamu saja mau bagaimana. Yang terpenting Mama mau kamu menghancurkan keluarga Kenzo. Kalau perlu kamu habisi, lalu ambil semua harta mereka."
"Mama tenang saja. Selama ada aku, maka mereka tidak akan berani berbuat apa - apa."
"Hm, ya sudah kalau begitu Mama ke kamar dulu,"
Kevin hanya menganggukan kepala. Setelahnya ia bersandar di sofa sembari memejamkan mata. Kevin tampak begitu santai sebab saat ini ia merasa begitu yakin bisa mengalahkan Darren.
Namun tanpa di sadari sedari tadi Vanesha mendengarkan semua ucapannya. Vanesha begitu terkejut, pasalnya selama ini ia tidak pernah tahu tentang rencana yang sudah di buat oleh Kevin.
Saat liburan kemarin pun, Vanesha tidak tahu menahu tentang rencana Kevin dan juga Niko. Yang Vanesha tahu, Niko adalah saudara Kevin yang ingin datang dan menginap.
Vanesha menghebuskan napas pelan. Kali ini ia merasa begitu takut setelah mengetahui semua rencana yang telah di buat oleh Kevin.
"Kalau sampai semuanya berantakan, maka karirku pun akan hancur. Aku tidak boleh berdiam diri," ujar Vanesha berkacak pinggang kemudian bergegas menuju ke kamar.
"Kalau aku terus bersama Kevin, maka karirku akan terancam. Oh tidak, aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Tapi apa yang harus aku lakukan," gumam Vanesha.
Sejak dulu, Vanesha memang tahu Kevin begitu membenci Darren. Namun, ia tidak menyangka jika Kevin memiliki pikiran yang begitu jahat dan licik. Meski kini dirinya juga begitu membenci Darren dan juga Kiran, tetapi Vanesha tidak berpikir untuk menghancurkan keluarga mereka. Bahkan, Vanesha cukup menyesal setelah apa yang ia lakukan kepada Kiran dulu.
"Apa aku harus meminta bantuan Darren? Ah, tidak - tidak. Dia tidak mungkin percaya. Tapi, Ah, yang jelas aku harus segera pergi dari rumah ini," ujar Vanesha sambil beranjak dari duduknya.
Vanesha tidak memikirkan apapun lagi. Saat ini di otaknya hanya ada masa depan dan karir serta ketenarannya. Vanesha tidak peduli meski nantinya Kevin akan marah. Namun, yang jelas untuk saat ini, ia ingin pergi sampai semuanya terkendali.
"Enak saja. Aku tidak mau terseret dalam kasus apapun. Untuk sementara waktu aku akan pergi, kalau semuanya sudah terkendali aku akan kembali," gumam Vanesha pelan.
"Mau kemana?" tanya Kevin tiba - tiba.
Vanesha terlonjak kaget. Ia teflek menoleh dan melihat Kevin sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"A... Aku ada pemotretan di luar kota. Jadi aku harus pergi sekarang," jawab Vanesha berbohong.
"Berapa lama?"
"Mungkin sampai dua atau tiga minggu, bolehkan?" jawab Vanesha.
"Hm"
Vanesha bersorak di dalam hati. Ia senang karena rencananya akan berjalan mulus. Setelah bersiap - siap, Vanesha pun segera pergi meninggalkan Kevin.
Sedangkan Kevin? Ia tertawa puas setelah melihat kepergian Vanesha.
"Pergilah sejauh mungkin! Dan jangan pernah kembali agar aku puas bersama Shelvi" ucapnya.
***
"Dimana Istriku?" tanya Bima sembari menatap tajam ke arah Alex. Bima sangat marah karena sudah lebih dari 8 hari lamanya, ia tidak mendapatkan kabar apapun dari Cindy.
"Seharusnya saya yang bertanya padamu.Rencana apa yang sedang kamu susun bersama anakmu?" Alex menatap tajam ke arah Bima. Napasnya terlihat memburu, terlihat sekali jika saat ini dia sedang memendam amarah.
Bima mengernyitkan dahi. Namun tidak lama setelah itu, ia menyeringai lebar sinis. " Rencana yang akan membuat kamu mati, Alex!" Balas Bima dengan suara yang meninggi.
"Brengsek! Kau mau mati di tangan saya?" Alex berjalan mendekati Bima. Tangannya mengepal kuat lalu menarik baju Bima.
"Kamu pikir aku takut, Alex? Hahaha aku yakin sebentar lagi kamu akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini," balas Bima sembari membalas tatapan tajam Alex.
"Kau....." Alex menguatkan cengkarman tangannya. Matanya mendelik tajam. Namun, Bima sama sekali tidak takut.
"Apa kau takut, Alex?" tanya Bima.
"Tidak ada yang perlu di takuti dari manusia sepertimu!" Sentak Alex sembari mendorong tubuh Bima hingga membentur dinding.
Bima meringis, tubuhnya seolah - olah remuk karena perbuatan Alex. Apalagi belum lama ini, ia baru saja mendapatkan pelajaran dari Alex.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote, dan juga hadiahnya ya~~