
"Sekarang aku merasa seperti sedang kembali ke masa lalu?" lirih Kevin.
Isak tangis Kevin semakin menjadi - jadi. Bahkan, kini wajahnya pun sudah bersimbah air mata.
"Terima kasih karena sudah memelukku, Darren. Maaf, selama ini aku terlalu serakah sehingga kamu mengalami banyak sekali penderitaan," sambung Kevin. Napasnya tersengal dan dadanya pun terasa begitu sesak.
Darren terdiam dan hanya menepuk - nepuk pelan punggung Kevin. Bohong jika Darren mengatakan ia tidak membenci Kevin. Setelah semua yang terjadi, rasanya sulit bagi Darren untuk memaafkan Kevin.
Namun, di sisi lain. Darren juga tidak tega melihat Kevin yang terlihat begitu menderita.
"Jangan menangis! Semuanya sudah terlanjur, Vin. Tapi maaf, aku belum bisa memaafkan kamu seutuhnya," ujar Darren sembari melepaskan pelukan Kevin.
"Aku tahu, tapi terima kasih banyak sudah mau mendengarkan permitaan maaf dari ku. Setelah ini mungkin kita tidak pernah lagi bertemu," balas Kevin ia mengulas senyum tipis lalu mengusap air matanya.
Darren bersedekap. Tatapan matanya begitu intens memperhatikan setiap luka yang ada di tubuh Kevin. Jika bukan karena kakinya yang mengalami luka parah, Kevin pasti akan baik - baik saja.
"Sudahlah, jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Sekarang beristirahatlah! Aku mau pulang."
Kevin menganggukan kepala. Ia bersiap ingin pergi akan tetapi, langkah nya terhenti saat mendengar suara teriakan dar ruangan sebelah.
__ADS_1
"Kembalikan Suamiku!"
"Mama," gumam Kevin. Tangannya mengepal, ia pun menunduk setelah mendengar teriakan Cindy yang begitu nyaring. Sebagai seorang anak, Kevin merasa hatinya hancur.
Namun Kevin pun tidak bisa berbuat banyak semua yang telah terjadi adalah balasan untuknya dan keluarganya.
"Tante Cindy baik - baik saja.Jangan sedih lagi! Kamu harus menjadi anak yang kuat. Ya, meskipun setelah ini, aku yakin kamu akan mendapatkan hukuman,"
"Tapi sepertinya Mama nggak baik - baik saja. Dari beberapa waktu yang lalu dia sudah sangat stres. Aku takut kesehatan mental Mama terganggu dan...." Kevin tak melanjutkan ucapannya. Ia menunduk dengan hati yang di penuhi dengan rasa penyesalan.
"Jangan berpikir buruk begitu! Kalaupun Tante Cindy sakit aku pun akan membantu mengobatinya. Kamu jangan khawatir!"
"Selama ini keluargaku sudah jahat sekali padamu, Darren. Tapi kenapa kamu begitu baik? Kenapa kamu masih bersedia untuk membantuku?"
"Kamu pikir aku sejahat apa, hm? Sudahlah, aku mau pulang sekarang. Sebentar lagi Om Bima akan segera di makam kan. Aku mau membantu mengurusnya."
"Papa, aku belum mengatakan apapun sebagai salam perpisahan. Bisakah, aku ikut denganmu, Darren? Aku ingin mengantar Papa," ujar Kevin raut wajahnya begitu sendu sehingga membuat Darren pun tidak tega.
Darren menghela nafas pelan. Tentu ia bersedia membawa Kevin. Akan tetapi, bagaimana dengan Dokter? Darren tidak yakin jika Dokter akan mengijinkan Kevin pergi.
__ADS_1
"Dokter pasti akan melarang kamu pergi, Vin. Sudahlah kamu di sini saja, istirahat dan tenangkan dulu hatimu," balas Darren sembari menepuk pundak Kevin. Ia tersenyum tipis rasanya ia seoalah sedang kembali ke masa lalu. Masa dimana ia begitu memanjakkan Kevin.
"Tapi aku ingin ikut, Darren. Aku mohon, selama ini sudah begitu banyak dosa yang aku lakukan kepada Papa, aku ingin meminta maaf."
"Om Bima sudah tidak ada, Vin. Tidak mungkin dia bisa mendengarkan ucapan permintaan maaf darimu."
"Aku tahu, tapi aku benar - benar ingin melihat Papa untuk terakhir kalinya. Tolonglah Darren! Aku mohon padamu!"
Darren menghembuskan nafas panjang. Ia berkacak pinggang sembari menatap datar ke arah Kevin. Darren tidak punya pilihan lain akhirnya dia pun mengangguk.
"Oke, kalau begitu kami tunggu dulu2 di sini. Aku akan berbicara dengan Dokter," kata Darren setelah itu, ia pun berlalu pergi meninggalkan ruang rawat inap Kevin.
"Entah Daniel atau Kevin, mempunyai adik laki - laki memang sangat menyebalkan. Kenapa mereka semua tidak mau mendengarkan perkataanku?" gumam Darren.
Beesambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1