Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Ketakutan Kiran


__ADS_3

Darren tidak menjawab ucapan Kiran. Ia fokus menatap layar televisi yang menampilkan sebuah berita menggemparkan. Darren menghembuskan napas pelan, rasa - rasanya ia tahu siapa wanita yang di temukan tidak bernyawa.


"Ran..., bisa tolong ambilkan ponselku?" tanya Darren. Ia kemudian menatap Kiran yang kini justru tampak melamun.


Darren menghela napas pelan. Setelah itu, ia pun turun dari ranjang dan mendekati Kiran. Darren duduk di samping Kiran kemudian menepuk pelan pundaknya.


"Ran, kenapa melamun?" tanya Darren ketika Kiran sudah menoleh padanya.


"Entah kenapa aku tiba - tiba takut, Mas. Bagaimana kalau wanita itu benar - benar dia? Bukankah itu sangat mengerikan" tanya Kiran.


"Jangan berpikiran buruk begitu! Lagi pula belum tentu itu dia. Di dunia ini ada banyak sekali orang yang mirip," ujar Darren sembari mengusap puncak kepala Kiran.


"Tapi ciri - cirinya sama persis dengan Shel... Shelvi, Mas. Aku...."


"Ssst! Tenang Ran. Jangan di jadikan beban pikiran! Ingat saat ini kamu sedang hamil.Lagi pula, bukankah Shelvi pernah jahat padamu? Kenapa kamu masih mengkhawatirkan dia?" tanya Darren merengkuh pinggang Kiran sembari mengelus rambutnya.


"Entahlah, tapi yang jelas aku kasian, Mas. Dia jadi jahat kan karena terobesisi sama kamu. Tapi meskipun itu bukan dia, pembunuhnya sangat kejam," ucap Kiran. Ia mendongak dan menatap dalam ke arah Darren.

__ADS_1


"Ya... pembunuhnya memang sangat kejam. Dia merusak wajah korbannya, lalu membuangnya dengan keadaan yang tidak memakai baju," sambung Darren.


Kiran mengangguk, rasanya ia menjadi was - was dan takut.Bagaimana kalau diam - diam ada orang yang ingin bernit jahat padanya?


Kiran bergidik ngeri kemudian mengeratkan pelukannya pada lengan Darren.


"Aku pikir pembunuhan kejam seperto itu hanya ada di novel. Tapi ternyata di dunia nyata pun ada," balas Kiran.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia, Ran."


Kiran tidak lagi membalas ucapan Darren. Ia memilih memeluk Darren sembari menyandarkan kepalanya. Kiran memejamkan mata dan hatinya pun menghangat. Kiran merasa begitu aman saat berada di dekat Darren.


"Kira - kira siapa pelakunya ya, Mas? Apa mungkin Kevin yang melakukan itu? Karena selama ini Shelvi hanya dekat dengan Kevin," tanya Kiran.


"Entahlah, tapi aku rasa Kevin tidak sejahat itu. Dia tidak mungkin membunuh Shelvi dengan cara yang sangat mengerikan seperti itu, Ran. Lagi pula, aku juga tidak yakin, jika Kevin berani membunuh seseorang sampai seperti itu," jawab Darren.


Kiran menganggukan kepala, meskipun sedikit ragu, tetapi ia mencoba untuk percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Darren.

__ADS_1


"Sudahlah, sekarang jangan membahas berita itu lagi. Sekarang kamu pulang ya? Ini udah malam," kata Darren sambil melepaskan pelukan Kiran.


"Tapi, aku takut Mas. Bagaimana kalau nanti di jalan ada orang jahat? Aku nginep di sini dulu ya," balas Kiran sembari memegang tangan Darren.Matanya tampak berkaca - kaca saat beradu pandang dengan Darren.


"Tapi nanti, kamu sama Arka nggak nyaman kalau ada di sini. Kamu kan juga butuh istirahat, sayang. Lagi pula akan ada supir yang jagain kamu." sambung Darren sambil tersenyum lembut saat melihat Kiran mulai menangis.


" Tapi aku merasa aman ada di dekat kamu, Mas. Untuk malam ini saja, aku ingin di sini. Aku tidak takut pulang kalau hanya sendiri. Tapi ada Arka, Mas. Aku tidak mau dia kenapa - kenapa,"


Darren menghembuskan napas pelan ia mengangguk kemudian menyelipkan anak rambut Kiran ke belakang telinga. Entah kenapa, Darren merasa Kiran mudah sekali menangis di kehamilan yang keduanya ini.


"Baiklah malam ini, kamu tidur di sini. Tapi besok pagi, ingat! Langsung pulang dan beristirahat, ya." ujar Darren.


Kiran mengangguk, ia merasa lega karena Darren mengizinkannya untuk menginap di rumah sakit. Sejujurnya, Kiran merasa tidak nyaman jika berada di rumah sakit.Namun, hatinya terlalu takut untuk pulang setelah mendengar berita tadi.


"Terima kasih, Mas. Aku sudah tidak sabar kamu pulang ke rumah," bisik Kiran sambil menghabur ke pelukan Darren.


"Aku juga," balas Darren

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2