
"Ayah tidak mungkin melakukan itu, Nak. Ibumu sudah tiada. Jadi Ibumu tidak mungkin kembali kesini," kata Pandu ia menatap sendu ke arah Kiran.
Lesti yang melihat Pandu tak berdaya, diam - diam ikut meneteskan air mata. Bahkan, sesekali isak tangisnya pun terdengar.
Tangan Lesti bergetar pelan. Dadanya terasa begitu sesak melihat hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia pikir hidupnya akan baik - baik saja bersama Pandu dan Arya. Namun, ia salah besar.
"Ini semua salahku, Nak. Maaf.. maaf karena sudah merebut Ayahmu," lirih Lesti Ia terduduk lemas di samping Pandu.
"Kamu tidak hanya merebut Ayah dariku. Tapi kamu juga sudah merenggut semua kebahagiaan keluarga kami!" Sentak Kiran. Ia menatap tidak suka ke arah Lesti.
Lesti menganggukan kepala. Semua yang di katakan oleh Kiran memanglah benar. Ia sudah merenggut semuanya. Dan sekarang, ia benar - benar menyesal.
"Aku sangat menyesal, Nak. Tolong maafkan aku dan juga Ayahmu. Biarkan kami hidup tenang di masa tua kami," sambung Lesti. Ia menggenggam lembut tangan Kiran.
"Kalian ingin hidup tenang? Lalu bagaimana denganku? Apakah kalian tidak pernah berpikir seberapa menderitanya aku?" tanya Kiran sambil menatap sendu ke arah Lesti.
Lesti tertunduk lesu. Bahunya bergetar hebat karena sedari tadi ia menangis.
"Maaf... maaf karena sudah membuat hari - harimu menjadi buruk. Tapi kami mohon, Nak! Maafkan kami," sambung Lesti.
Kali ini Kiran lebih memilih diam. Namun, tatapan matanya terus tertuju ke arah depan. Sorot matanya pun tampak begitu kosong. Seolah - olah jiwanya tidak berada lagi di tubuhnya.
"Ayah janji akan membahagiakanmu, Zivanna. Biarkan Ayah menebus semuanya," kata Pandu. Pria itu tampak begitu menderita karena sedari tadi selalu mendapatkan penolakan dari Kiran.
"Kalau begitu, pergilah dari sini! Jangan pernah menemui aku lagi," jawab Kiran lirih, suaranya begitu lesu. Pandu dan Lesti membelalakan mata. Keduanya saling berpandangan kemudian sama - sama menggeleng.
"Kalau kami tidak boleh menemuimu, bagaimana kami bisa menebus semua kesalahan kami, Nak?" tanya Pandu.
Kiran tidak menjawab. Ia memejamkan mata sembari menggenggam kuat lengan Darren.
Sama halnya dengan Kiran, Darren yang kini berjongkok di samping Kiran pun mendadak bingung. Ia terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa selain mengusap - ngusap punggung Kiran. Dengan begitu ia berharap Kiran menjadi jauh lebih tenang.
Sementara di sisi lain Kenzo dan juga Helena. Memilih diam dan memperhatikan keduanya tidak ingin ikut campur, sebab tidak tahu menahu tentang apa yang sedamg terjadi. Namun, meski begitu keduanya merasa cukup penasaran. Hingga akhirnya, Helena memberanikan diri untuk bertanya kepada Arya yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Kiran tampak histeris begitu? Dan kenapa orang itu mengaku sebagai Ayah Kiran?"
"Dia memang Ayah kandung Kiran, Tan. Saya, Daniel dan juga Darren, kami memang sengaja merencanakan hal ini, agar Kiran bertemu dengannya."
"Apa? Jadi selama ini Kiran masih punya Ayah? Tapi kenapa dia tidak pernah memberi kabar?" tanya Helena. Rasanya ia benar - benar terkejut saat mengetahui sebuah fakta yang cukup besar.
"Kalau itu saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas pria itu, memang tidak tahu dan kurang ajar," ucap Arya sembari bersedekap.
Helena memgernyitkan dahi. Namun, setelahnya ia pun kembali kepada Arya.
" Kamu mengenal orang itu?"
"Tentu saja, mereka orang tua saya, Tan," jawab Arya sambil menatap kearah Helena.
"J... jadi kamu dan Kiran bersaudara?" tanya Helena lagi.
"Ya begitulah.."
Sama halnya dengan Helena, Kenzo pun terkejut mendengar semua ucapan Arya. Kenzo menghembuskan napas panjang kemudian memilih duduk di sofa.
"Pantas rasanya saya tidak asing saat melihat Kiran, ternyata dia anak orang itu," gumam Kenzo yang memang sudah pernah bertemu dengan Pandu beberapa kali.
***
"Kamu mau memaafkan kami kan, Nak? Tolong jangan membuat Ayah menderita"
Pandu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Sementara matanya, terus menatap penuh harap ke arah Kiran yang kini sudah duduk di sofa.
Kiran memghembuskan napas panjang. Setelah cukup sulit menenangkan diri, akhirnya kini Kiran mampu meredakan amarahnya. Namun, tetap saja Kiran tidak bisa memaafkan Pandu begitu saja.
"Ayahmu memang bersalah, Ran. Tapi tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Nanti, apa bedanya kamu dengan Ayahmu? Meski sulit, tapi cobalah untuk menerima." ujar Kenzo yang kini sudah memberanikan diri untuk ikut campur.
"Tapi dia sudah membuatku menderita, Yah. Andai saja dia tidak pergi. Mungkin Ibu ma...."
__ADS_1
"Jangan pernah menyalahkan takdir. Meski Ayahmu tidak pergi pun, kalau memang sudah waktunya Ibumu pergi, dia pasti akan pergi," sambung Kenzo sembari menepuk pelan bahu Kiran.
Kiran termenung, lalu menatap Pandu yang wajahnya cukup mirip dengannya. Kiran memejamkan mata, batinnya tengah berkecambuk dan dilema.
"Apa kalau aku memaafkanmu, kamu akan benar - benar menyayangiku?" tanya Kiran pelan.
"Tentu saja, Nak. Ayah akan menyayangimu dan Kakakmu," kata Pandu matanya mulai berbinar mendengar ucapan Kiran.
"Kakak? Tapi...."
"Tapi Arya. Dia Kakakmu," ujar Pandu sambil menatap ke arah Arya.
"Apa?!" Kiran sangat terkejut hingga tanpa sadar ia sudah berteriak.
"Arya terkekeh Pelan, kemudian mengedipkan sebelah matanya. " Hai, adik kecil," sapa Arya sambil merangkul pundak Kiran. Melihat hal tersebut sontak Darren langsung murka. Ia sangat cemburu saat Arya menyentuh Kiran.
"Brengsek! Jauhkan tanganmu dari istriku!" Ujar Darren sambil mendorong Arya hingga terjatuh dari sofa.
"Tapi dia adik saya,"
"Aku tidak peduli! Sekali saja kau menyentuh Kiran, Kupastikan tanganmu yang akan menjadi taruhannya!"
Kiran menatap tidak percaya ke arah Pandu. Rasa marah yang begitu kuat di hatinya, kini perlahan reda. Apalagi ketika ia melihat senyum tulus tersungging di bibir Pandu.
"Mas Arya, anak kalian?" tanya Kiran. Ia mengerjapkan matanya sembari sesekali menatap ke arah Arya yang masih beradu mulut dengan Darren.
"Ya dan dia adalah Kakakmu," jawab Pandu, kini hatinya jauh lebih tenang. Selain karena mendapatkan sedikit maaf dari Kiran. Ia juga bisa melihat sisi lain dari Arya. Jika biasanya ia hanya bisa melihat Arya yang selalu serius dan berwajah dingin. Maka kali ini berbeda. Pandu bahkan merasa cukup terkejut saat mengetahui jika Arya suka bercanda dengan orang yang ada di sekelilingnya.
"Tapi bagaimana bisa? Astaga ini sungguh kebetulan yang luar biasa," ucap Kiran. Ia tersenyum tipis sembari menatap ke arah Lesti dan pandu.
Meski mencoba untuk tetap ikhlas, tetapi rasanya masih sangat sulit untuk Kiran memaafkan Pandu. Namun, untuk kali ini saja, ia bertekad ingin melupakan semua yang terjadi. Meskipun ia tahu hal itu mustahil dan sulit untuk di lakukan.
"Tidak ada salahnya berdamai dengan masa lulu, bukan?" gumam Kiran. Perlahan - lahan hatinya mulai menghangat. Rasa damai dan juga ketenangan merambat hingga akhirnya menguasai hatinya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.