Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Aku Tidak Akan Membiarkanmu Pergi


__ADS_3

Kiran mengernyitkan dahi. Tatapan matanya begitu intens. " Bukankah kamu sudah tidak menjadi fotografer lagi? Lalu ke....."


"Memang bukan fotografer. Tapi sebagai model. Aku dan Vanesha a...." ucapan Darren terhenti seketika ketika tatapan Kiran penuh berubah tajam dan penuh peringatan padanya. Kiran merasa hatinya bergejolak dan menyuruhnya untuk menghentikkan Darren sebelum semuanya terlambat.


"Kamu barusan bilang apa, Mas?" tanya Kiran. Ia beranjak dari duduknya sembari tersenyum tipis. Namun, Darren merasa was - was ketika melihat senyuman Kiran.


"Aku dan Vanesha akan melakukan pemotretan bersama. Aku dan dia akan menjadi pa...."


"Pasanganmu itu aku! Dan bukan dia!"


"Ran, kamu kenapa?" tanya Darren sambil menatap Kiran. Darren merasa heran sebab tiba - tiba Kiran marah sembari mencengkram kuat dasi yang belum sepenuhnya terpasang di kerah kemejanya.


Darren mengerjapkan mata beberapa kali. Jantungnya berdetak kencang, terlebih lagi ketika Kiran semakin mendorongnya hingga mepet ke meja rias. Kali ini Darren benar - benar kesulitan bergerak karena ulah Kiran.


"Kamu yang kenapa, Mas? Bisa - bisanya kamu menerima tawaran pemotretan dengan Vanesha. Kamu kan punya istri, seharusnya ka...."


"Bukankah sebentar lagi kita berpisah, Ran? Jadi aku pikir hal itu bukan masalah besar. Lagi pula bayarannya cukup besar dan ini kesempatan bagus untukku," kata Darren. Ia tersenyum miring sembari terus menatap wajah Kiran. Di dalam hati, Darren tertawa melihat pancaran cemburu dari kedua manik mata Kiran.


"Berpisah semudah itukah kamu memutuskan berpisah dariku, Mas? Ya Tuhan, aku sungguh tidak menyangka kamu benar - benar akan melakukannya," ujar Kiran. Suaranya terdengar menggebu - gebu.


Darren membulatkan mata setelah mendengar ucapan Kiran. Ia merasa jika Kiran justru memutarbalikkan fakta. Bukankah Kiran sendiri yang mengajaknya untuk segera berpisah?


"Apa maksudmu,hm? Aku, Kan, hanya ingin menuruti permintaan kamu saja. Kamu ingin berpisah dariku, Kan?" ulang Darren. Ia tersenyum sinis sembari melepaskan cengkraman tangan Kiran dari dasinya.


Kiran diam tak berkutik perlahan - lahan, Ia pun berjalan mundur menjauhi Darren yang sedang merapikan bajunya. Jantung Kiran berdetak kencang. Rasa canggung dan juga malu seketika menghantui hatinya.


Kiran lupa jika dirinyalah yang mengajak Darren untuk berpisah. 'Sekarang apa yang harus aku katakan? Ya Tuhan, aku malu sekali," ucap Kiran dalam hati. Ia menunduk sembari meremas baju yang ia kenakan.


"Kamu tenang saja, Setelah ini kamu bisa bebas. Kamu boleh berdekatan dengan siapa saja. Termasuk Daniel." Kata Darren sambil merapikan dasinya. Dan sesekali melirik ke arah Kiran.


"Tapi aku tidak suka dengan Daniel. Lagi pula aku, kan, punya suami. Jadi untuk apa aku berdeketan dengan pria lain?" Kiran menatap malu - malu ke arah Darren. Pipinya bersemu merah, apalagi ketika matanya beradu pandang dengan Darren.


"Apa maksudmu? Sebentar lagi kita berpisah. Jadi kamu sebentar lagi akan menjadi seorang Jan...., Ran. Apa - apaan ini?" tukas Darren jantungnya berdetak tak karuan. Napasnya pun memburu akibat ulah Kiran yang tiba - tiba mendorongnya hingga terlentang di atas ranjang.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, Mas!" kata Kiran. Ia menatap serius kearah Darren. Setelah itu, Kiran berbalik dan menuju ke arah pintu. Kiran mengunci pintunya dari dalam.


"Apa maksudmu? Aku harus segera berangkat. Aku bisa telat kalau kamu mengurungku begini, Ran," balas Darren ia beranjak dan duduk, tetapi Kiran justru kembali mendorongnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau kamu dekat Vanesha. Pokoknya aku tidak akan membiarkan kamu pergi!" ucap Kiran dengan tegas. ia bersedekap sembari menatap intens wajah Darren.


"Tapi..."


"Nggak ada tapi - tapian, Mas! Kamu jangan pergi kemana - mana ya!" perintah Kiran kini suaranya mengalun rendah dan matanya pun berkaca - kaca.


Saat ini perasaan Kiran tengah campur aduk. Rasanya ia ingin mengungkapkan semua perasaannya pada Darren. Namun, hatinya malu. Selain itu, Kiran juga takut jika Darren akan benar - benar mengurus surat perpisahan mereka.


Darren menghela napas pelan. Ia duduk di samping Kiran dan menatapnya. " Sekarang apa lagi? Kenapa kamu berubah seperti ini? Apa aku membuat kesalahan lagi padamu?" tanya Darren. Tangannya terulur mengusap air mata yang membasahi pipi Kiran.


Kiran menggelengkan kepala. ia menyentuh tangan Darren yang berada di pipinya. " Kamu membenciku, Mas?" tanya Kiran dengan suara lirih. Tatapan matanya begitu sendu saat beradu pandang dengan Darren.


"Apa maksudmu?" Tanya Darren. Rasanya ia semakin tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Kiran. Istrinya yang semula sangat anti berada di dekatnya. Kini justru mengenggam erat tanganya sembari menangis.


'Apa Kiran kesurupan? ' Batin Darren. Ia menggaruk tengkuknya yang taka gatal ketika tubuhnya tiba - tiba merinding.


"Kamu sangat membenciku hingga mau meceraikan aku kan, Mas?" tanya Kiran lagi.


"Loh, aku kan hanya menuruti per..."



Mendengar ucapan Kiran. Darren ternganga . Ia menggelengkan kepala sembari menatap wajah Kiran yang sedang bersandar di dadanya. Darren menggeram tertahan lalu mengacak rambutnya dengan kasar. Darren kesal sekaligus gemas dengan Kiran.


"Apa kamu bilang, Ran? Bercanda?" Tanya Darren.


Kiran mengangguk. "Aku hanya marah dan kecewa padamu, Mas. Aku sangat sakit hati karena kamu menamparku. Jadi aku tidak sadar mengatakan hal itu."


"Astaga, aku bahkan nyaris hampir gila karena bercandaan kamu yang tidak lucu ini, Ran. Kamu benar - benar keterlaluan," Kata Darren sambil melepasakan pelukan Kiran.


"Tapi kamu yang salah, Mas. Aku kan ha..."


"Tapi kamu juga salah, Ran. Kamu tahu rasanya jadi aku, hm? Aku hampir mati karena kamu terus mendiamkan aku, Ran."


"Ya kalau kamu tidak menyakitiku. Mana mungkin aku berbuat seperti itu," balas Kiran tak mau kalah.


Darren menaikan sebelah alisnya dia tersenyum miring sembari bersedekap. "Jadi kamu tidak mau di salahkan, Ran?" tanya Darren. Rasa kesalnya kini berubah bahagia.

__ADS_1


Darren merasa lega sebab Kiran tidak lagi mendiamkannya. Bahkan kini Kiran sudah kembali seperti dulu.


"Tentu saja tidak. Kan aku tidak salah. Yang salah itu kamu karena tidak peka, Mas. Jadi jangan menyalahkan aku," jawab Kiran. pipinya yang tembam tampak merona.


"Astaga...., Kamu menjengkelkan sekali, Ran," kata Darren sambil mencubit kedua pipi Kiran.


"Yang menjengkelkan itu kamu?"


"Aih! Baiklah, aku yang salah dan aku juga yang menjengkelkan," ujar Darren sambil mengacak rambut Kiran. Darren gemas yang melihat tingkah Kiran yang malu - malu tapi mau.


Kiran tersenyum tipis perasaan gugupnya perlahan memudar terganti rasa bahagia sekaligus lega. la mengalungkan tangannya di leher Darren, lalu kembali memeluk Darren.



"Jangan dekat - dekat dengan Shelvi atau Vanesha lagi karena kamu milikku, Mas. Jadi kamu hanya boleh dekat denganku," ujar Kiran posesif. Pelukakannya semakin erat, membuat Darren pun terkekeh geli.


"Jadi kita baikan nih?" tanya Darren sembari membalas pelukkan Kiran. ia mengecup puncak kepala Kiran lembut.


"Kata siapa? aku masih marah kok sama kamu. Sebenarnya aku nggak mau meluk - meluk kamu gini," balas Kiran ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Darren.


"Lalu kenapa kamu memelukku, hm?"


"Ya karena ini tuh keinginan anak kamu. Dia mau di peluk papanya. Coba kalau nggak, Mana mungkin aku mau," jawab Kiran ngasal. Pipinya semakin merona merah setelah mendengar kekehan geli dari bibir Darren.


"Anak kita atau kamu yang mau, hm?"



"Beneran anak ki....."


CUP!


Yeay akhirnya mereka berbaikan wkwk. Cape juga kalau kebanyakan nangis - nangis hehe.


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2