
Hari ini rumah Kenzo terlihat begitu ramai. Selain karena sanak saudara yang datang, ada juga beberapa klien Kenzo dan Darren yang datang. Mereka datang untuk mengucapkan selamat atas kelahiran Arka.
"Tidak saya sangka, ternyata anak Anda sudah menikah ya, Pak Kenzo." Kata Surya rekan kerja Kenzo.
"Darren memang menyembunyikan pernikahannya, Pak. Katanya dia tidak mau ribet dengan mengadakan resepsi," ujar Kenzo sembari tersenyum tipis. Tentu Kenzo tidak mungkin mengatakan alasan yang sejujurnya. Bisa heboh kalau tahu Darren menghamili Kiran sebelum menikah.
"Pantas saja. Tapi selamat untuk kelahiran cucu pertamanya ya, Pak. Semoga menjadi anak yang berguna dan berbakti."
"Amin, terima kasih banyak, Pak Surya. Ngomong - ngomong, kenapa datang sekarang? Acaranya kan masih besok pagi," kata Kenzo.
"Besok saya ada urusan Pak. Makanya saya datang sekarang. Oh, iya dimana Daniel?" tanya Surya. Ia menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Daniel.
"Oh begitu, Entahlah saya tidak tahu dia dimana. Mungkin sedang bermain dengan keponakannya." jawab Kenzo.
Surya menganggukan kepala. Setelah itu, ia pun semakin mendekati Kenzo. Surya berbisik di dekat telinga Kenzo.
"Daniel, sudah punya pacar belum, Pak? Saya punya anak perempuan. Siapa tahu dia bersedia menikah dengan anak saya,"
"Saya juga tidak tahu, Pak. Sepertinya Daniel tidak laku. Selama ini saya belum pernah melihatnya dekat dengan seorang gadis manapun."
"Pandai sekali, Ayah berbicara seperti itu. Biar begini, gadis yang mengantri ingin menjadi pacarku itu banyak." kata Daniel yang tiba - tiba muncul di belakang Kenzo.
Kenzo terkekeh geli. Setelah itu ia merangkul sang putra dan mengacak rambutnya.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah membawa seorang gadis ke rumah? Atau jangan - jangan kamu nggak normal?" tanya Kenzo. Ia tertawa kemudian di ikuti oleh Surya.
Daniel berdecak kesal. Ia menjauhkan dirinya dari Kenzo kemudian berkata, " Ya. Kalau untuk menghamili wanita, aku masih sanggup, Yah. Atau Ayah mau bukti?" tanya Daniel sambil menaik turunkan alisnya.
"Tidak perlu, jadi bagaimana pendapatmu? Apa kamu mau berkenalan dengan anaknya Pak Surya?"
"Kalau dia cantik, aku mau." gurau Daniel.
"Tenang saja. Dia cantik Kok. Kamu lihat perempuna yang bergaun biru muda itu? Itu putri saya. Namanya Bunga."
"Bunga? Nama yang cantik." balas Daniel sambil memperhatikan seorang gadis yang sedang duduk sendirian di sofa. Daniel tersenyum tipis, Bunga memang cantik. Namun, sayangnya hatinya masih terpaut untuk Citra.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kamu tertarik dengan anak saya, Niel?" tanya Surya sambil tersenyum bangga sembari menatap Bunga.
"Bunga sangat cantik Pasti banyak pria yang tertarik dengannya. Tapi sayang saya..." ucapan Daniel terhenti ketika matanya tak sengaja menangkap sosok gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Ya...., Daniel baru saja melihat Citra yang memasuki rumahnya. Senyum Daniel memgembang, ia ingin menghampiri Citra. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Citra tidaklah sendiri. Di belakang Citra, seorang pria tampak mendekat dan merangkul pinggangnya dengan mesra. Daniel menghembuskan napas panjang. Hatinya mendadak menjadi sesak setelah melihat pemandangan tersebut.
"Bagaimana, Niel? Kamu....."
"Baik, Pak. Saya setuju untuk berkenalan dengan Bunga. Yah.., siapa tahu dia jodoh saya," jawab Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari Citra.
Surya tersenyum senang. Namun, lain halnya dengan Kenzo. Ia merasa justru aneh. Terlebih lagi saat melihat tatapan Daniel yang terus tertuju terhadap Citra.
"Kamu yakin, Niel? Kamu sedang tidak bermain - main, bukan?" tanya Kenzo setelah Surya pergi untuk menghampiri Bunga.
"Siapa yang main - main sih, Yah? Aku memang ingin berkenalan dengan Bunga. Memang Ayah tidak mau kalau punya menantu secantik dia?"
"Bukan begitu, Daniel. Ayah hanya merasa heran saja denganmu. Kamu ingin mendekati Bunga, tapi kenapa matamu terus terarah pada gadis itu?" tanya Kenzo sembari menatap Citra.
"Ayah jangan sembarangan bicara. Mana mungkin aku menatap gadis yang hampir sudah menikah itu."
"Aku tidak mengenalnya. Aku....
"Kamu tidak bisa membohongi Ayah, Niel. Ah, dia wanita yang kita temui saat mencari Kiran dulu, kan?"
"Hm, namanya Citra. Beberapa hari yang la...."
"Damn it! Siapa yang berani menyuruh manusia gila itu datang kesini?" ujar Kenzo. Suaranya mengalun rendah, tatapan matanya begitu tajam mengarah pada sepasang suami istri yang baru saja memasuki rumahnya.
Sementara Daniel? Ia terkejut saat mendengar nada penuh kemarahan dari bibir Kenzo. Namun, Daniel ikut menggeram marah saat melihat siapa yang di maksud Kenzo.
"Yah...."
"Panggil Alex dan juga Bastian..."
***
__ADS_1
"Hei, apa yang kalian lakukan? aku hanya ingin bertamu dan mengucapkan selamat kepada anakmu. Tapi kenapa kalian justru memperlakukan aku begini?"
"Benar, kalian tidak tahu sopan santun. Seharusnya tamu itu di hormati, bukan malah di perlakukan seperti ini!"
"Kalian tidak pantas di hormati!" Sentak Kenzo. Tangannya mengepal saat melihat dua orang yang selalu mengusik keluarganya. Kenzo geram, bahkan rasanya ia ingin sekali menghancurkan keduanya.
"Kalau begitu kamu juga tidak pantas di hormati, Ken!" Tuan rumah kok memperlakukan tamu tidak sopan begini.
"Diam, Bima! Jangan membicarakan kesopanan jika kamu sendiri tidak memilikinya," balas Kenzo sembari menatap Bima tajam. Andai bukan karena permintaan Helena, dulu Kenzo pasti sudah menghukum Bima dan Cindy.
"Wah, sombong sekali." balas Bima tanpa rasa takut sama sekali. Ia justru kini terlihat begitu santai meski kini ia dan Cindy berada di ruangan yang cukup sepi.
Kenzo menghembuskan napas panjang. " Katakan! Apa tujuanmu datang kesini?" tanya Kenzo. Ia yakin betul jika Bima datang kerumahnya untuk merencanakan sesuatu.
"Apa kamu tuli, Ken? Aku sudah mengatakannya padamu. Aku datang kesini untuk melihat cucumu," jawab Bima
"Dan kamu pikir saya percaya begitu saja? Cih! Jangan harap, Bima!"
"Loh, memangnya siapa yang menyuruhmu untuk percaya? Aku tidak peduli meski kamu tidak percaya sekalipun,"
Bima terkekeh geli. Begitu juga dengan Cindy. Keduanya terlihat begitu santai. Padahal, baiasanya mereka akan sangat takut jika Kenzo sudah menunjukkan taringnya.
'Saya semakin yakin. Mereka berdua pasti sudah merencanakan sesuatu' batin Kenzo.
"Kalau begitu saya tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini."
"Tidak bisa begitu, Ken. Memangnya kamu ingin melihat Darren bersedih karena aku tidak datang?" tanya Bima ia menatap remeh ke arah Kenzo yang sedari tadi sudah mati - matian menahan amarah.
"Darren pasti sangat sedih, kalau kami tidak datang. Jadi tolong jangan halangi kami!" Sambung Cindy.
"Siapa yang sedih, hanya karena kalian tidak datang? Ah, aku justru sangat bahagia kalau kalian berdua tidak ada disini,"
Kenzo,Bima dan juga Cindy terkejut. Ketiganya lantas menatap ke arah pintu. Di sana, tampak Darren yang sedang bersandar di amabang pintu. Darren bersedekapa dan bibirnya menyeringai sinis saat beradu pandang dengan Bima.
"Darren? sejak kapan kamau ada di situ?" tanya Kenzo.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.