Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Sosok Penolong


__ADS_3

"Apa!! Apa kamu serius Darren? tanya Ivan kaget.


"Jangan banyak bicara Van, dan rahasiakan ini dari orang lain. Cepat, kau temukan dia sebelum semuanya terlambat." kata Darren suaranya terdengar begitu serius bagi Ivan.


"Terlambat bagaimana maksudmu?" tanya Ivan heran.


"Karena dia sedang hamil Van, aku takut terjadi sesuatu padanya." jawab Darren dengan suara yang terdengar khawatir.


"Apa?! Ya Ampun Darren..., kamu sungguh pria yang penuh dengan kejutan" ucap Ivan


"Hemmm" balas Darren singkat.


Sementara di ruang keluarga, saat ini hanya ada Shelvi yang sedang berdiam diri. raut wajahnya begitu muram bahkan matanya sampai berkaca - kaca karena rasa sakit di hatinya. Sedangkan Bara dan Kenzo sedang berada di ruang kerja untuk membahas masalah penting.


"Sudah puas kamu telah menghancurkan rumah tangga, Ka Darren?!"


Shelvi menoleh, ia mendengus kesal ketika melihat musuh bebuyutannya... Siapa lagi kalau buka Daniel, yang sedang berdiri tidak jauh darinya sambil bersandar di dinding.


"Siap yang menghacurkannya? lagi pula wanita itu saja yang lebay," ucap Shelvi


"Kamu bilang lebay? Hei dengar ini baik - baik, Seorang istri tidak mungkin tahan ketika melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain, Shel? ingat itu."


"Ya itu salah Darren sendiri. kenapa juga dia langsung membalas pelukanku? lagi pula aku mana tahu kalau Darren sudah menikah," balas Shelvi tidak mau kalah.


"Tidak tahu bukan berarti kamu bisa memeluk pria dewasa sesukanya Shel.., bukannya kamu ini wanita yang berpendidikan, yah?"


"Kamu..."


"Percuma berpendidikan tinggi kalau kamu saja tidak memiliki etika yang baik." ucap Daniel sinis sambil tersenyum miring.


"Jaga bicaramu! Dasar anak ingusan nakal," ucap Shelvi kesal di tambah dengan kehadiran Daniel.

__ADS_1


"Apa? Anak ingusan?" Daniel tersenyum sinis. dia biasanya bersikap jahil kini berubah menjadi dingin dan terlihat menakutkan saat bertemu dengan Shelvi.


"Ya, kamu memang anak ingusan"


Daniel terkekeh sinis sambil berjalan mendekati Shelvi yang tengah bersedekap di sofa. Daniel mulai membungkukkan tubuhnya dan tepat di samping telinga Shelvi.


"Jauh lebih baik menjadi anak ingusan dari pada menjadi anak yang tak tahu malu sepertimu."


Shelvi begitu marah dengan semua sikap Daniel. cukup sudah ia menahan diri untuk tidak mencaci maki Daniel.


"Kau benar - benar membuatku muak Daniel Atha Wijaya!!!"


Sementara itu, di jalanan yang masih sedikit ramai oleh lalu lalang orang. Kiran tampak berjalan dengan tertatih menyusuri trotoar. meski sudah berjalan cukup jauh setelah turun dari taksi, tapi isak tangisnya masih tak kunjung berhenti.


"Apa sekarang kamu telah merayakan kepergianku Tuan Suami?" tanya Kiran matanya begitu sembab dan penampilannya yang mulai berantakan.


"Apa yang harus mama lakukan, Nak? mama takut tapi mama juga tidak mau kembali." lirih Kiran sambil menatap kearah perutnya.


"Emm, Nona apa kamu baik - baik saja?" tanya pria yang duduk tidak jauh dari Kiran.


Kiran menoleh sekilas. ia mengernyitkan dahi lalu kembali menatap ke arah depan. Kiran mulai merasa ketakutannya kembali datang. ia pun berinisiatif untuk langsung pergi dari taman tersebut. Namun, belum sempat beranjak, tiba - tiba saja kakinya mulai terasa begitu lemas. pandangannya pun mulai berkunang - kunang. Kiran memegangi kepalanya ia merasa benar - benar pusing. Hingga akhirnya....


Brak! Kiran langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.


Si pria tersebut reflek langsung berlari dan mulai mendekati Kiran dan berkata " Hei Nona! apa kamu baik - baik saja?" tanya pria tadi yang sedang memperhatikan Kiran.


pria tersebut menghembuskan napas pelan, ketika melihat Kiran yang sudah tak sadarkan diri. " Apa saya harus membantunya dan membawanya kerumah sakit?" gumam pria tersebut.


***


Di lain tempat saat ini Darren sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi bagai orang kesetanan, ia mulai menekan pedal gasnya sekuat mungkin. sepanjang perjalanan pikiran Darren hanya tertuju pada Kiran. Senyum manis dan juga wajah cantik Kiran yang terekam jelas dalam ingatannya. " Kemana kamu pergi Ran," lirih Darren sambil menyugar rambutnya lalu mulai menuruni kecepatan mobilnya. Darren menatap sekeliling ia berharap dapat menemukan sang istri. Namun, sayangnya sia - sia.

__ADS_1


Saat ini bahkan, Darren tiba - tiba datang ke terminal untuk mencari Kiran. Darren mulai berjalan kesana kemari untuk mencari keberadaan Kiran di tengah keramaian terminal. kemudian ia memutari sudut bangunan terminal dan berharap bisa menemukan sang istri. Namun sayangnya, meski sudah berusaha keras, Darren sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Kiran. Darren menghembuskan nafas panjang. tangannya mulai mengepal kuat lalu meninju sebuah dinding yang ada di dekatnya. Darren begitu marah. dia bahkan tak memperdulikan tatapan orang - orang yang sedari tadi menatapnya.


"Kemana kamu Kiran? kembalilah, demi tuhan Ran! aku berjanji akan mulai belajar mencintaimu, jika kamu kembali lagi ke sisiku." Suaranya terdengar lirih dan terlihat sendu.


*****


Sementara itu, di sebuah Rumah sakit yang cukup besar, Kiran terbaring lemah dengan selang oksigen dan selang infus yang menghiasi lengannya. wajah Kiran terlihat begitu pucat, sehingga pria yang menolongnya tadi tidak tega untuk meninggalkannya.


" Bagaimana keadaannya Dok? tidak ada hal serius yang menimpanya kan?" tanya pria tersebut pria yang telah membawa Kiran ke rumah sakit.


" Istri Anda hanya kelelahan, pak. Akan tetapi kehamilannya cukup lemah. oleh karena itu untuk sementara waktu pasien harus di rawat inap." jawab sang Dokter sambil menatap kearah pria tersebut.


"H..Hamil dok? jadi nona ini sedang hamil Astaga..., bisa panjang urusannya kalau begini ujar pria tersebut.


"Loh memangnya pasien bukan istri Anda, pak?" tanya Dokter heran.


"Bukan dok, tadi saya menemukannya di taman. dia tiba - tiba jatuh pingsan jadi saya langsung bawa kesini," jawab pria tersebut


Pria itu melirik kearah Kiran yang masih memejamkan mata.Ada perasaan iba yang perlahan - lahan masuk ke hatinya. Namun, di sisi lain pria itu enggan berurusan dengan orang asing. " kalau begitu, lebih baik anda segera mencari keberadaan suaminya, pak? tanya dokter kembali.


" Ya saya akan berusaha mencarinya." balas si pria tersebut.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." pamit sang dokter.


****


ketika pria misterius tersebut sedang berpikir keras, perlahan - lahan kelopak mata Kiran mulai terbuka. Wanita itu mengerang lemah ketika merasakan pusing yang teramat sangat.



Jangan lupa Like, Komen dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2