
"Kalau kamu memang tidak bisa ya sudah.Tadi aku sudah menyuruh supir untuk mengantarkannya sampai ke bandara."
Daniel mengangguk kemudian mengacungkan ibu jarinya. Daniel tersenyum cerah kemudian berkata, " Baguslah! Ya sudah sekarang aku pergi dulu. Kalau ada apa - apa segera hubungi Kak Darren atau aku!"
"Ya, hati - hati di jalan."
Daniel hanya mengangguk. Setelah itu ia pun bergegas pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Setelah memasuki mobil, Daniel menghembuskan napas panjang. Matanya terpejam erat dan tanpa ia sadari air matanya membasahi sudut matanya.
"Cih, baperan ya? Baiklah, mulai sekarang Daniel Atha Wijaya akan menjadi sosok yang baru," gumam Daniel sambil menyeka sudut matanya.
Setelah itu, Daniel pun mengemudikan mobilnya menuju tempat janjiannya dengan Arya. Daniel tersenyum tipis dan berharap agar hatinya kembali baik - baik saja.
Perjalanan Daniel untuk menemui Arya cukup jauh. Keduanya memutuskan bertemu di sebuah daerah yang cukup jauh dari kota. Alasannya? tentu saja agar Pandu tidak bisa memata - matai Arya.
"Kau lama sekali," ujar Arya tepat setelah Daniel duduk di depannya.
Daniel mendengus kesal. Ia menatap malas ke arah Arya kemudian berkata, "Masih untung aku mau menemuimu. Jadi ada apa kau mengajakku untuk bertemu disini?"
"Saya ingin meminta bantuan darimu?"
"Bantuan apa?" tanya Daniel. Wajahnya mulai serius saat Arya menatapnya.
"Saya ingin kamu membantuku memecahkan sebuah misteri. Kamu sudah mendengar dari Darren tentang Ayah Kiran, kan?"
"Hm, jadi kamu memintaku untuk mencari tahu siapa Ayah Kiran?" tanya Daniel to the point.
"Ya, tapi lebih tepatnya lagi, saya ingin kamu memata - matai Ayah saya."
"Bodoh! Untuk apa kamu menyuruhku untuk memata - matai Ayahmu? Cih, menyusahkan saja."
Arya memutar bola matanya malas. Ia bersedekap sembari menatap datar ke arah Daniel.
"Apa Darren belum menceritakan siapa orang yang saya curigai."
"Apa maksudmu? Kak Darren memang tidak menceritakan tentang hal itu. Tapi tunggu, jangan - jangan kamu dan Kak Darren mencurigai. Daniel membulatkan matanya. Ia benar - benar terkejut
__ADS_1
"Ya. Saya yakin bahwa Ayah saya adalah Ayah kandung Kiran. Dia sendiri pernah mengakuinya, tetapi saya merasa ragu untuk mengatakannya pada Kiran.
"Ragu kenapa?"
"Aku tidak punya bukti kuat. Lagi pula Kiran juga belum pernah melihat bagaimana rupa Ayahnya. Jadi aku takut jika Kiran akan menganggapku berbohong.
Daniel menganggukan kepala. "Benar juga. Kamu memang harus mencari buktinya. Tapi ngomong - ngomong, kenapa kamu tidak membawa Ayahmu saja ke acara syukurannya Arka besok? Siapa tahu saat dia bertemu dengan Kiran, keduanya merasakan sesuatu. Katanya, ikatan anak dan orang tua sangat kuat," ujar Daniel.
"Ah, kamu benar juga. Acaranya dua hari lagi, kan? Baiklah saya akan membawanya datang," jawab Arya. Wajahnya kini terlihat berbinar.
"Hm, ternyata kamu begitu bodoh sampai tidak bisa memikirkan rencana yang sebagus itu."
"CK! Jangan mengejek! Beberapa hari ini saya begitu stress hanya memikirkan itu?"
"Oh ya? Tapi sayangnya aku tidak perduli."
"Sialan! Ngomong - ngomong apakah sepupumu Luna sudah pulang?" tanya Arya tersenyum aneh.
Daniel mengernyitkan dahi. Ia menatap Arya penuh peringatan.
"Untuk apa kamu menanyakan Luna?"
"Jangan macam - macam dengan Luna, Arya!"
"Saya tidak akan macam - macam dengan Luna. Saya hanya ingin satu macam yaitu menikahinya."
"Brengsek! Pria tua bangka sepertimu tidak cocok untuk Luna!" Sentak Daniel sambil menatap tajam ke arah Arya.
"Oh ya? Kita lihat saja nanti. Saya pastikan akan membuatnya jatuh dalam pesona saya."
"Sialan! Mati saja kau, Arya!"
***
Beberapa jam yang lalu Kenzo, Helena dan juga Luna. Sampai di rumah dengan selamat. Oleh karena itu, suasana rumah yang semula sepi pun kini menjadi rame.
Setelah beristirahat sebentar Helena menghampiri Kiran dan Arka. Ia merasa sudah tidak sabar untuk menimang sang cucu.
__ADS_1
"Loh Mama nggak istirahat dulu?" tanya Kiran saat melihat Helena sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Mama sudah istirahat tadi. Sekarang Mama mau melihat Arka," Jawab Helena tersenyum manis. Langkahnya terasa begitu ringan saat melihat Arka tampak begitu terlelap.
"Harusnya Mama yang istirahat dulu. Biarkan aku saja yang membawa Arka ke bawah. Jadi Mama tidak perlu naik turun tangga," ujar Kiran.
"Mama masih kuat kok, Ran. Lagian Mama sudah tidak sabar ingin menggendong Arka." Balas Helena sambil menatap wajah Arka.
Helena tersenyum manis. Hatinya menghangat saat melihat Arka tampak pulas. Helena membungkuk, setelah itu ia pun mengecup pelan dahi Arka.
"Aku senang Mama sudah kembali. Rasanya begitu sepi saat tidak ada Mama dan Ayah Kenzo," kata Kiran sembari duduk di tepi ranjang. Ia menatap Helena yang tampak kegirangan saat melihat Arka yang tampak menggeliat lucu.
Mendengar ucapan Kiran, Helena lantas mendongak. Ia tersenyum lembut sembari berjalan mendekati Kiran.
"Maaf ya, Sayang.Kamu pasti kesusahan mengurus Arka. Apalagi kamu belum berpengalaman mengurus bayi sebelumnya" ucap Helena ia duduk di samping Kiran.
"Bukan begitu maksudku, Ma. Aku tidak terlalu kesusahan kok karena Papanya Arka juga ikut membantu. Aku hanya merasa kesepian saja sebab Mama tidak ada dirumah."
"Mama sebenarnya juga tidak mau pindah, Nak. Tapi ya mau bagaimana lagi? Ayahmu itu tidak mau pergi tanpa Mama," kata Helena sembari menggelengkan kepala pelan.
Kiran terkekeh pelan lalu berkata, " Ayah pasti sangat mencintai Mama ya? Dia pasti laki - laki yang sangat setia ya, Ma?" tanya Kiran sambil menatap Helena.
Helena menaikkan sebelah alisnya sembari membalas tatapann Kiran. Ia menghembuskan napas pelan dan berkata, "Perjuangan kami sangat berat Ran. Dulu Mama sama Ayah sempat berpisah cukup lama. Setelah berpisah Mama menikah dengan Papanya Kevin. Dulu Mama pikir dia jodohnya Mama. Tapi ternyata salah besar. Dua kali pernikahan, Mama selalu di selingkuhi."
"Apa? Jadi dulu Ayah juga selingkuh dan Mama pernah menikah dengan Ayahnya Kevin? kenapa Kiran baru tahu tentang itu, Mah? Apakah Darren dan Daniel juga tahu tentang ini, Mah?" tanya Kiran panjang lebar. Karena ia baru mengetahui suatu fakta yang membuatnya begitu terkejut.
"Bukannya selingkuh lagi Ran. Dia itu pawangnya para wanita. Pacarnya banyak dan ada di mana - mana. Untuk Daniel dan Daren mereka tidak tahu Kiran. Karena Ayah dan Mama tak ingin memberitahu kannnya."
"Jangan bicara yang tidak - tidak dengan menantu kita, Sayang. Lagi pula dari dulu sampai sekarang, yang saya cintai hanya kamu. Tidak ada yang lain," ujar Kenzo yang sembari bersandar di ambang pintu. Ia baru saja datang ke kamar Kiran dan tak sengaja mendengar ucapan Helena.
Kenzo gemas karena Helena menceritakan masa lalunya yang begitu buruk bagi Kiran.
"Hal gombal! Setelah di tinggal baru tahu rasa. Dulu kan pas pertama kali menikah, kamu jahat banget, Mas."
Kenzo menghela napas pelan. Kemudian berjalan mendekati box bayi.
"Itu kan masa lalu, Sayang. Sudah jangan membahas itu lagi. Lebih baik sekarang kita bermain dengan cucu kita ini," kata Kenzo tersenyum tipis saat melihat wajah Arka.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen dan vote.