
Citra tidak kunjung menjawab. Ia justru mendongak dan menatap sendu ke arah Daniel. Citra menghembuskan napas pelan lalu tersenyum sayu.
"Y...Ya aku baik - baik saja, terimakasih banyak." jawab Citra sembari menerima tisu pemberian dari Bunga.
"Syukurlah..., aku sangat khawatir saat melihat kamu menangis tadi. Aku kira mas Daniel sudah menyakitimu," kata Bunga. Ia tersenyum ceria lalu mengulurkan tangannya pada Citra.Ia ingin bersalaman dan berkenalan dengan Citra. Dengan sedikit ragu akhirnya Citra menerima uluran tangan dari Bunga.
"Namaku Citra. Kamu siapa?"
"Aku Bunga. Terima kasih banyak ya," ujar Citra.
"Sama - sama,"
Hening, ketiganya tidak ada yang berbicara. Mereka terlalu sibuk dengan pemikiran masing - masing. Citra sibuk menata hati dan juga rasa malunya. Ia malu teringat dengan tindakan bodohnya tadi.
Sedangkan Bella, ia sibuk dan menatap Citra dari atas hingga bawah. Wajahnya tampak ceria berbeda dengan Daniel yang terlihat murung sembari menatap Citra.
"Sayang, sekarang kita pulang ya. Aku ada urusan lain setelah ini," ujar Daniel setelah beberapa saat hanya terdiam. Ia tersenyu manis lalu merengkuh pinggang Bunga.
Deg!
Hati Citra mencolos melihat kemesraan pasangan yang ada di depannya. Citra menunduk hatinya semakin tersayat oleh luka yang begitu perih. Ada rasa cemburu yang diam - diam hinggap di hatinya.
'Tuhan, kalau memang ini jalanku. Tolong kuatkan hatiku,' batin Citra.
"Loh, kok cepet banget sih, Mas? Katanya hari ini kamu free. Aku masih mau kenalan sama Citra, Mas?"
__ADS_1
"Ada urusan mendadak. Ayolah, kita bisa berkenalan dengan orang asing ini, lain waktu."
Lagi - lagi Citra seolah - olah tertikam oleh belati setelah mendengar ucapan dari Daniel. Namun ia tidak bisa berbuat apapun selain menerima.
"Orang asing? Loh, bukannya tadi kamu bilang, kalau Citra itu te...."
"Kamu mau pulang sendiri atau sama aku," tanya Daniel to the point
Bunga mengerucutkan bibirnya. Ia bersedekap kemudian berjalan pergi mendahului Daniel.
Daniel menghembuskan napas panjang. Ia merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah dompet. Daniel mengambil cukup banyak uang, lalu menyerahkannya pada Citra.
"Aku tahu ini keterlaluan! Tapi bisakah kamu tidak menganggu hidupku lagi? Dan jangan pernah mengajakku bertemu lagi!"
Citra tersenyum tipis. Saat melihat uang di tangan Daniel.Ia menggeleng pelan lalu berkata, "Aku tidak butuh uang. Kamu tenang saja, aku tidak akan menganggumu. Bahkan, aku sangat menyesal karena sudag bertindak bodoh seperti yang tadi. Aku memang tidak punya malu, tapi aku tidak butuh belas kasihan."
Daniel berbalik, lalu berjalan meninggalkan Citra yang diam - diam kembali menangis.
"Kenapa aku bisa berbuat sehina tadi? Rasanya aku sangat menyesal" gumam Citra.
Citra tertunduk lemas di salah satu kursi. Ia menunduk sembari menormalkan detak jantungnya. Ia terdiam. Samar - samar ia mulai mendengar perkataan beberapa orang yang tidak jauh darinya.
"Dia tidak tahu malu banget ya. Hamil di luar nikah, tapi minta tanggung jawab sama orang lain,"
"Kamu benar. Dia pasti wanita murahan,"
__ADS_1
Citra terkekeh hambar sembari menutup kedua telinganya. Apa yang di ucapkan mereka semuanya benar. Ia memang murahan, tetapi semuanya bukanlah kehendaknya.
Kalau boleh memilih ia ingin memutar waktu. Hati dan pikirannya sudah terlalu lelah karena mendapatkan tekanan dari berbagai sisi.
Memang siapa wanita yang ingin menjadi wanita sepertinya? menjadi tulang punggung keluarga, di jodohkan, di ancam, di lecehkan dan sekarang hidupnya penuh penderitaan.
Kalau bukan memikirkan orang tua, sudah dari dulu Citra ingin mengakhiri hidupnya. Ia merasa jijik dan juga benci dengan tubuhnya.
Citra mengacak rambutnya dengan kasar. Ketika hinaan dari para pengunjung kafe semakin menjadi - jadi. Citra menangis, kalau bisa ingin rasanya ia mendatangi mereka dan mengatakan semuanya.
"Sepertinya tidak ada pilihan selain mati. Mereka bilang aku murahan, tapi tidak tahukah apa yang sudah aku alami selama ini. Kalau bisa aku pun tidak ingin seperti ini. Aku menahan semua penderitaan demi keluarga. Tapi saat aku hancur, mereka justru membuangku" gumam Citra lirih dengan putus asa.
Citra berjalan gontai menyusuri jalanan yang mulai sepi. Tangannya terkulai lemah dan matanya menatap kosong ke arah depan. Sesekali langkahnya terseok - seok. Namun, sama sekali ia tidak peduli meski hujan lebat sudah mengguyur tubuhnya.
"Aku membencimu," lirih Citra sambil meremas perutnya kuat.
Citra berhenti di sebuah pertigaan. Ia tersenyum miring sambil menatap sorot lampu mobil yang melaju cukup kencang di depannya.
Citra menghembuskan napas pelan. Setelah itu ia pun berkata, "Kita mati sama - sama ya," ucap Citra sembari berlari menghampiri dan menghalangi laju mobil tersebut.
Brak!
"Selamat tinggal dunia yang penuh kekejaman...."
Bersambung..
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen dan vote.