Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kedatangan Kevin dan Bima


__ADS_3

"Sayang, dengarkan aku! Kalau kamu nggak istirahat, nanti kamu pulihnya akan semakin lama. Memang kamu mau di Rumah sakit terus?"


Kiran menggeleng perlahan, tetapi tatapannya tertuju pada Arka yang kini sudah kembali terlelap. Wajah Kiran berubah sedikit menjadi murung. Rasa rindunya yang begitu besar membuatnya enggan untuk menyerahkan Arka pada Darren.


"Nah, kalau begitu kamu istirahat dulu. lagi pula Arka kan ada disini. Jadi kamu bisa melepas rindu kapan pun kamu mau.


Kiran menghembuskan napas panjang. Akhirnya ia pun menganggukan kepala dan menyerahkan Arka pada Darren.


"Jaga Arka baik - baik ya, Mas! Jangan membuatnya menangis. Nanti kalau sudah dua jam, bangunkan aku. Arka harus minum ASI yang banyak." kata Kiran. Ia mengulas senyum tipis lalu mengecup kening Arka.


"Aku tahu, tapi ngomong - ngomong kamu tidak mengecup dahiku juga, Ran?" tanya Darren sambil terkekeh geli.


"Tidak! kamu kan sudah tua jadi....."


"Jadi bukan di kening lagi, tapi disini." bisik Darren sambil mengecup bibir Kiran. Darren memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya ia ******* lembut bibir Kiran.


Kiran membulatkan matanya. Ia terkejut dengan serangan Darren. Namun setelahnya ia pun membalas ******* Darren yang perlahan - lahan berubah menjadi 'panas'. Darren mengerang. Gelora panas yang sudah lama tidak ia rasakan, perlahan - lahan mulai menggelora.


"H....Hentikan, Mas! Aku takut kamu tidak akan bisa mengendalikan diri nanti," ujar Kiran sembari menjauhkan wajahnya dari Darren. Napasnya terengah - engah dan pipinya pun bersemu merah.


Darren menatap lekat wajah Kiran. Sedangkan kedua tangannya begitu erat mengendong Arka.


"Kamu benar, bahkan rasanya aku hampir meledak," jawab Darren ia tersenyum tipis, setelah itu ia pun meletakkan Arka ke dalam box bayi yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit.


Setelah memastikan Arka tertidur pulas dan nyaman Darren kembali mendekati Kiran. Tatapan matanya sedikit sayu, seolah gairah yang sempat muncul tadi masih bersemayam di jiwanya.


Darren duduk di kursi lalu mengenggam lembut kedua tangan Kiran. " Maaf ya, seharusnya aku bisa mengendalikan diri dan tidak bisa melakukan itu. Tapi rasanya aku tidak tahan saat melihat bibirmu, Ran," ucap Darren.


"Tidak apa - apa, Mas. Aku tahu kamu cukup tersiksa karena sudah lama tidak melakukan itu. Tapi aku harap kamu bisa menahannya lebih lama lagi," balas Kiran tatapan matanya begitu lembut saat beradu pandang dengan Darren.

__ADS_1


"Aku tahu sayang, sampai kamu benar - benar pulih dan juga siap. Aku tidak akan memaksamu.


Kiran mengangguk. Ia menarik tangan Darren kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat dulu. Aku akan menunggumu dan juga Arka di sini," ujar Darren sembari membantu Kiran berbaring di atas brankar.


Kiran menurut, setelah Darren menyelimutinya hingga sebatas pinggang, ia pun mulai memejamkan mata.


"Tidur yang nyenyak ya, Sayang. Dan cepatlah sembuh agar kita bertiga bisa berkumpul di rumah," bisik Darren sambil mengecup dahi Kiran.


***


"Gimana, Niel? Om Alex sudah berhasil menangkap Ivan, kan?" tanya Darren. Saat Daniel datang keruang rawat Kiran.


"Sudah. Dan saat ini Ivan dan juga satu temannya sedang berada di markas Red Wolf. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh Om Alex, tapi yang jelas mereka sudah punya rencana yang bagus untuk melawan Kevin.


Darren menganggukan kepala. "Syukurlah kalau begitu. Rasanya aku ingin sekali menghajar Ivan. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Kiran dan juga Arka sendirian," kata Darren. Ia menyuugar rambutnya ke belakang kemudian menatap ke arah Kiran.


"Tapi aku juga tidak bisa berdiam diri seperti ini, Daniel. Aku yakin Kevin dan papanya sudah merencanakan sesuatu yang buruk.


"Itu memang benar, tetapi lebih baik sekarang kita fokus pada kesembuhan Kiran dan juga anakmu dulu." Setelah mereka benar - benar sehat, barulah kita memikirkan yang lain.


Darren menghela napas. Ia memejamkan matanya sejenak sembari bersandar pada sandaran sofa. Rasa lelahnya semakin bertambah saat memikirkan Bima dan juga Kevin.


"Kamu benar, Niel. tidak seharusnya aku....." ucapan Darren terhenti ketika ia mendengar suara orang membuka pintu.


Ceklek!


Darren dan juga Daniel terkejut melihat dua orang pria yang sedang berdiri di ambang pintu. Darren menggeram tertahan, tangannya mengepal kuat dan aura kemarahan tercetak jelas dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Untuk apa kalian datang kesini?" tanya Darren suaranya meninggi sehingga membuat Kiran yang baru saja terlelap tersentak kaget.


Kiran membuka matanya. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat suasana yang mulai memanas karena ulah Darren. Terlihat sesosok pria paruh baya dan sesosok pemuda seumaran Darren, yang sedang berdiri di ambang pintu. Kiran membelalakan matanya ia tahu betul siapa yang berdiri di ambang pintu sembari menatap ke arahnya.


Kiran menelan salivanya susah payah dan segera beranjak dari atas brankar lalu mendekati Arka. Kiran takut jika Kevin dan Ayahnya itu mengambil Arka.


Apalagi beberapa hari yang lalu Darren sudah menceritakan semua padanya. Ya...., kini Kiran tahu jika keluarga dari pihak Kevin ingin berbuat buruk pada putranya.


Kaki Kiran gemetar hebat. Apalagi saat ia melihat senyum licik yang tersungging di bibir Kevin dan Bima.


"Apa dia istrimu, Darren? Wah, wah tidak ku sangka meski seorang pembantu ternyata istrimu begitu cantik, Darren, " kata Bima. Ia terkekeh kemudian berjalan memasuki ruang rawat inap Kiran. di susul dengan Kevin di belakangnya.


"Benar sekali Ayah, aku juga baru sadar jika istri Darren ternyata bisa secantik ini," ucap Kevin memandang kagum pada Kiran.


"Kalian jangan macam - macam disini! Lebih baik sekarang Om dan kamu Kevin pergi dari sini dan jangan kembali lagi! " tukas Darren. Ia bergegas mendekati Kiran dan merengkuh pinggangnya.


Darren tidak ingin Bima dan Kevin menatap aneh ke arah Kiran. terlebih lagi ia tahu semua masa lalu Kevin yang begitu nakal.


"Au dan Ayahku kesini hanya ingin menjenguk istrimu dan keponakanku saja. Memang apa salahnya?" tanya Kevin, ia bersedekap sembari tersenyum miring ketika menatap Kiran dari atas hingga bawah.


Melihat tatapan Kevin yang semakin kurang ajar. Kiran mencengkram baju Darren. Tubuhnya menggigil karena takut dan juga risih dengan tatapan Kevin.


"Tapi aku tidak mengijinkanmu menjenguk keluargaku. Pergilah sebelum aku membuat hal buruk padamu!" tukas Darren. Ia berkacak pinggang sambil menyembunyikan Kiran di belakang tubuhnya.


"Kurang ajar sekali kamu dengan kami, Darren. Memang apa salahnya kalau Om dan Kevin kesini?" tanya Bima. Tatapan matanya berubah menjadi tajam dan tidak menyenangkan bagi Darren.


"Karena kami tidak suka dengan semua keluargamu, Om. Cepatlah pergi sebelum aku dan Kak Darren bertindak," ucap Daniel yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan ucapan Kevin dan Bima.


"Aku sedang tidak bicara denganmu. Seharusnya kamu yang pergi, karena hal ini tidak ada sangkut pautnya denganmu," balas Bima sambil melirik tajam ke arah Daniel.

__ADS_1


Daniel menghembuskan napas panjang. Ia tahu Bima tidak akan mudah di kalahkan. Oleh karena itu Daniel pun memilih untuk kembali diam dan duduk .


Jangan lupa like komen dan vote.


__ADS_2