Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Semakin Jelas Ayah Kandung Kiran


__ADS_3

Kiran mengangguk, lalu mengusap air mata yang membasahi pipinya. Kiran tersenyum manis sembari merangkul lengan Darren.


"Hari ini aku melihat wajahnya, Mas. Hatiku mendadak sakit dan aku pun menangis," kata Kiran.


"Wajah siapa maksudmu?" tanya Darren ia menatap penuh heran ke arah Kiran.


"Wajah Ayah."


"Ayah? Tunggu? Jangan - jangan kamu sudah bertemu dengannya. Aku hanya melihatnya melalui sebuah foto yang berada di kotak itu."


Darren mengikuti arah pandang Kiran. Ia terkejut saat melihat sebuah kotak yang terletak di atas nakas.


"Boleh aku melihatnya, Ran?"


Kiran mengangguk, setelah itu ia mengambil foto Larasati dan seorang pria yang tidak di ketahui namanya.


"Ini, Mas."


Darren menerima foto tersebut. Matanya membulat sempurna saat melihat foto pria yang berdiri di samping Larasati. Ia merasa begitu familiar dan seoalah - olah pernah bertemu dengannya.


"Astaga Ran! Dia..."


"Dia siapa Mas? kamu mengenalnya?" tanya Kiran sambil menatap lekat wajah Darren. Kiran heran sebab Darren tampak begitu terkejut setelah melihat foto yang ia berikan.


"Ah, bukan siapa - siapa. Oh, iya Ran. Aku harus pergi lagi nih. Kamu tidak apa - apa kalau aku tinggal, kan?" tanya Darren wajahnya sedikit panik.


"Kamu tidak tahu orang itu,Mas? Atau jangan - jangan kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tuding Kiran. Tatapan matanya begitu serius dan penuh selidik ke arah Darren.


"Aku nggak menyembunyikan apapun darimu, Ran. Aku hanya pernah melihat orang ini. Tapi mungkin hanya perasaanku saja." jawab Darren. Ia tersenyum lembut sembari mengusap puncak kepala Kiran.


Kiran terdiam beberapa saat. Ia merasa jika seorang Darren tengah berbohong padanya. Namun, Kiran enggan memperpanjang masalah. Akhirnya ia pun memilih mengangguk dan percaya dengan ucapan Darren.


"Aku pikir kamu mengenal orang itu. Ngomong - ngomong kamu mau pergi kemana?" tanya Kiran. Ia menatap Darren yang kini sudah berdiri tidak jauh darinya.


"Aku ada urusan sebentar dengan seorang klien. Nanti kalau sudah selesai aku akan segera pulang. Tapi kalau kamu melarang aku tidak akan pergi," sambung Darren sembari merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

__ADS_1


"Kalau mau pergi silahkan, Mas. Aku tidak apa - apa kok. Lagi pula di rumah ini ada Mama dan Luna serta Ayah. Jadi aku tidak merasa kesepian." ucap Kiran ia menyunggingkan senyum manis kemudian berjalan mendekati Darren.


"Ya sudah. Oh iya aku pinjam ini sebentar ya. Aku akan memfotonya dan mengirimkannya kepada Arya. Siapa tahu ia mengenal orang ini." Kata Darren. Ia mengangkat foto lama Larasati ke hadapan Kiran.


"Tidak perlu, Mas. Sekarang aku tidak peduli dengannya. Aku tidak masalah meski seumur hidup tidak bertemu dengan orang itu," ujar Kiran. Ia berbalik memunggungi Darren.


Mendengar ucapan Kiran, Darren sontak tertegun. Ia tidak mengerti mengapa Kiran berubah pikiran. Padahal Kiran sebelumnya cukup bersemangat untuk mencari tahu siapa Ayah kandungnya.


"Kamu yakin Ran?" tanya Darren. Ia maju beberapa langkah kemudian menyentuh kedua pundak Kiran.


"Ya, aku yakin Mas. Rasanya aku enggan bertemu dengan orang itu. Aku tidak mau, rasa benci ini semakin menguat saat melihatnya," jawab Kiran sambil menyentuh tangan Darren yang berada di pundaknya.


Darren menghembuskan napas pelan. Setelah itu ia berangsur memeluk Kiran dari belakang. menyandarkan kepalanya pada pundak Kiran.


"Tapi, setidaknya kamu harus bertemu dengannya Ran. Aku yakin dia pasti akan memberi alasan yang kuat kenapa dia pergi. Atau paling tidak, biarkan Arka bertemu dengan Kakeknya itu," ucap Darren matanya terpejam menikmati aroma manis yang menguar dari ceruk leher Kiran.


Kiran terdiam. Hatinya begitu bimbang. Ucapan Darren memang benar, tapi mengapa ia seolah tak sanggup apabila harus bertatapan dengan Ayah kandungnya.


Namun, Kiran juga tidak boleh egois dan memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana kalau sesuatu terjadi yang mengharuskan Ayahnya pergi?


Lagi pula, belum tentu pria di foto itu Ayahmu, kan? Bisa jadi dia saudara Ibumu. Dan lagi, kita kan tidak tahu dia ada dimana."


"Kamu benar Mas, seharusnya aku tidak egois seperti ini," lirih Kiran. Ia berbalik kemudian memeluk Darren.


"Kamu tahu, Sayang? Terkadang seseorang yang berbuat yang jahat, memiliki alasan yang kuat mengapa mereka melakukan hal itu. Oleh karena itu, kita tidak boleh menghakiminya. Terlebih lagi, setiap manusia, kan memiliki kesalahan masing - masing," Kata Darren dengan penuh kebijakan. Ia tersenyum lembut sembari sesekali mencium puncak kepala Kiran.


Mendengar ucapan dari Darren Kiran semakin tersadar. Tidak seharusnya ia menghakimi seseorang tanpa tahu alasan yang sesungguhnya.


"Kalau begitu carilah dia sampai dapat, Mas! Meski berat, tetapi aku akan selalu mencoba berdamai dengannya."balas Kiran senyumnya mengembang saat ia merasakan kecupan bertubi - tubi dari Darren.


"Bagus, istriku memang hebat. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya."


"Ya hati - hati di jalan!"


Darren mengangguk. Setelah mengecup dahi Kiran, ia bergegas pergi meninggalkan kamar. Langkah kaki Darren begitu tergesa - gesa. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arya dan menunjukkan foto itu.

__ADS_1


"Arya, bisa kita bertemu sekarang? Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu," kata Darren setelah Arya menjawab panggilan darinya.


"Apa?" tanya Arya dari sebrang telepon.


"Aku menemukan sebuah foto yang terlihat mirip dengan Ayahmu. Dan kamu tahu, di sampingnya ada seorang wanita yang merupakan ibu kandung Kiran."


"Apa kamu serius, Darren?"


"Ya, makanya aku ingin menunjukkan padamu. Aku yakin ini bisa menjadi bukti." kata Darren lagi.


"Oke, kita bertemu di kafe venus sekarang. Oh, iya apa Kiran tahu kalau foto itu mirip dengan Ayah saya?"


"Tidak. Aku sengaja tidak memberitahunya."


"Ya...., Darren memang sengaja tidak memberitahu Kiran. Bahkan tadi dia berbohong dan mengatakan kalau dirinya ingin bertemu dengan seorang klien. Padahal, sejujurnya ia hanya ingin menemui Arya untuk membahas masalah Ayah Kiran.


"Baguslah! Memang seharusnya Kiran tidak tahu dulu. Biarkan dia tahu dengan sendirinya."


"Hmmm, Ya sudah aku segera ke kafe venus."


Tut!


Darren mematikan teleponnya. Setelah itu, ia pun bergegas menuju parkiran dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


***


"Kalau ini sudah di ragukan lagi, Darren! Memang Ayah saya," kata Arya tepat setelah ia menatap foto yang di berikan oleh Darren.


"Ternyata memang benar dugaanku. Dia memang Ayahmu. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Darren sambil menatap serius ke arah Arya.


Darren menghela napas pelan. Ia menyugar rambutnya kebelakang lalu memejamkan mata. Arya bingung bagaimana caranya agar Pandu bersedia untuk mengakui semuanya.


"Sekarang biar saya saja yang menyelesaikan ini, Darren. Kamu dan Kiran tidak perlu khawatir. Saya berjanji, tidak lama lagi semuanya akan terungkap."


"Kamu yakin tidak membutuhkan bantuanku, Arya? Aku takut Ayahmu akan menyangkal dan justru berbuat yang tidak - tidak"

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote.


__ADS_2