
"A... Ayah," lirih Kiran saat melihat kedatangan Pandu. Air mata yang sudah mengering, kini kembali membasahi pipi.
Entah, kenapa perasaannya mendadak lemah ketika melihat senyum tipis di bibir Pandu. Ia lantas mendekati Pandu dan menghambur ke dalam pelukannya.
"Kamu baik - baik saja, Nak? Maaf Ayah datang terlambat," ucap Pandu sembari membalas pelukkan Kiran. Ia tersenyum tipis merasakan kebahagiaan yang membuncah di hatinya karena mendapatkan pelukan dari Kiran.
"Aku baik - baik saja. Tapi suamiku... dia...," Kiran tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia semakin menangis bersandar di dada Pandu.
Pandu tidak langsung menjawab. Sebagai balasannya, ia mengusap lembut punggung Kiran untuk memberinya sedikit ketenangan.
"Darren, bukanlah pria yang lemah, Ran. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Ayah sangat yakin dia akan segera sembuh," balas Pandu ia tersenyum tipis lalu melepaskan pelukkan Kiran.
"Tapi sudah lebih dari empat hari lamanya, Yah. Suamiku tidak sadar - sadar bahkan kata Dokter kondisinya semakin menurun.
"Itu kan hanya dugaan Dokter saja, Nak. Sudahlah jangan terlalu bersedih begini. Lebih baik sekarang kamu berdoa dan jangan lupa jaga kesehatan!"
Kiran menghembuskan napas pelan. Setelah itu ia pun menganggukan kepalanya. Apanya yang di ucapkan Pandu memang benar adanya. Ia tidak seharusnya terlaru larut dalam kesedihan.
Kiran mengusap air matanya. Setelah itu ia pun tersenyum tipis. Kini perasaan Kiran sudah semakin membaik.
"Arka nggak kesini, Ran? Ibu kangen," kata Lesti. ia tersenyum manis sembari mengusap - usap rambut Kiran yang berada di sampingnya.
"Arka baru pulang tadi pagi, Mah? Kasian kalau dia harus di rumah sakit terus." jawab Kiran hatinya menghangat setelah mendapatkan perlakuan manis dari Lesti.
"Kamu benar, bayi memang tidak seharusnya berada di rumah sakit terlalu lama. Oh, Iya. Dia di rumah sama siapa?" tanya Lesti.
"Sama Mama Helena, tapi nanti malam aku mau pulang, Bu. Aku ingin beristirahat sebentar sambil menjaga Arka." jawab Kiran.
Lesti menganggukan kepala. Ia tersenyum karena setuju dengan keputusan Kiran.
"Kamu memang harus banyak - banyak istirahat, Ran. Apalagi kamu kan masih memberikan ASI untuk Arka.
"Iya Bu, sejak kemari aku memang kurang istirahat karena memperhatikan Mas Darren. Tapi sekarang aku sadar Arka juga tak kalah penting darinya,"
"Iya Suami memang penting,Nak. Tapi, jangan sampai kita mengabaikan anak. Kamu akan menyesal kalau sampai kamu mengabaikan Arka," balas Lesti sembari menatap sendu ke arah Kiran.
Ah, Lesti jadi teringat perbutannya dulu, yang terlalu memperhatikan Pandu hingga melupakan Arya. Ia menyesal tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain memberikan kasih sayang yang sempat tertunda.
"Ibu benar, aku menyesal karena beberapa hari yang lalu sempat mengabaikan Arka. Tapi sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi."
__ADS_1
Lesti menganggukan kepalanya. Setelah itu, ia menarik Kiran kedalam pelukannya.
Melihat Lesti dan Kiran yang terlihat begitu akrab. Pandu tersenyum senang. Oleh karean itu enggan menganggu keduanya dan memutuskan untuk keluar. Dan kebetulan ia bertemu dengan Kenzo yang hendak memasuki ruang rawat Darren.
"Apa kabar Pak Kenzo?" tanya Pandu sembari mengulurkan tangannya pada Kenzo. Ia tersenyum ramah saat beradu pandang dengan besannya tersebut.
"Kabar baik, Pak. Pak Pandu sendiri bagaiaman?" tanya balik Kenzo. Ia tersenyum tipis sembari membalas senyuman Pandu.
"Saya juga baik. Ngomong - ngomong apa kita bisa bicara sebentar, Pak? Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan." tanya Pandu.
"Bisa Pak. Mau bicara dimana?" jawab Kenzo.
"Di sini saja, Pak. Biar kita bisa sekalian
menjaga Darren.," jawab Pandu sembari duduk di kursi tunggu.
Kenzo mengangguk pelan, setelah itu ia duduk di dekat Pandu. Kini raut wajah Pandu berubah menjadi serius.
"Sebenarnya siapa yang mendalangi ini semua, Pak? Kenapa Darren bisa mengalami luka tembak seperti itu?" tanya Pandu penasaran.
Kenzo meghela napas panjang. Ia melirik ke arah Pandu, sekilas kemudian menatap ke arah depan.
"Siapa yang berani menculik anakku?! Brengsek! Ini tidak bisa di biarkan." ucap Pandu kesal.
"Namanya Kevin. Dia dulu adalah sahabat dekat Darren. Sebenarnya Kevin menculik Kiran hanya mencoba untuk menjebak Darren,"
"Menjebak."
"Ya, Kevin sangat memginginkan kehancuran Darren dan keluarga saya," jawab Kenzo.
"Astaga, benar - benar kejam dan biadab sekali dia. Lalu apa Papa kandung Kevin tahu tentang hal ini?"
"Tentu saja dia sangat tahu. Bahkan dia sendirilah otak dari semua permasalahan yang terjadi?"
"Jadi Papa kandung Kevin bukanlah orang yang baik?"
" Begitulah,"
Pandu tampakurka setelah mendengar ucapan dari Kenzo. Napasnya mulai memburu seiring dengan gelombang panas yang menguasai hatinya.
__ADS_1
"Lalu apa sekarang mereka sudah tertangkap?"tanya Pandu.
"Belum Saya belum sempat melakukan apapun, Tapi yang jelas saya sudah menghancurkan mereka secara perlahan."
Pandu mengangguk - angguk saja. Meski kurang mengerti tetapi, ia sangat yakin Kenzo akan melakukan yang terbaik untuk Darren serta Kiran.
"Untuk selanjutnya apakah Pak Kenzo punya rencana untuk membuat mereka semua jera?" tanya Pandu setelah keduanya sama - sama terdiam beberapa saat.
"Ya, saya akan membuat perhitungan kepada mereka. Saya tidak peduli, meski nantinya saya akan masuk ke dalam penjara. Yang jelas saya akan menghabisi mereka?" jawab Kenzo.
Pandu tercengang mendengar ucapan Kenzo. Selain itu ia juga kagum karena Kenzo sangat menyayangi Darren.
"Kalau begitu apa saya boleh bergabung, Pak?" Pinta Pandu pada Kenzo.
"Bergabung?" Kenzo mengernyitkan dahi, sambil menatap ke arah Kenzo.
"Ya, saya juga ingin menuntut balas apa yang telah mereka lakukan pada Kiran dan juga Darren," jawab Pandu dengan penuh kesungguhan.
Kenzo menyeringai, ia mengulurkan tangannya ke arah Pandu,
"Selamat bergabung, Pak. Sekarang kita sebagai orang tua harus melindungi Anak - anak." jawab Kenzo sambil menjabat tangan Pandu.
Kini Bima sedang duduk termenung di teras rumah. Wajahnya tampak kusut dengan kantung mata yang terlihat menghitam dan tebal. Bima begitu frustasi sebab, kini perusahaannya sudah benar - benar gulung tikar.
"Sialan kau Kenzo! Tunggu saja pembalasanku!" Gumam Bima kesal.
Saat sedang memikirkan rencana yang cocok untuk memberikan pelajaran pada Kenzo, tiba - tiba sebuah mobil memasuki pelantaran rumahnya. Bima tersenyum tipis karena orang yang ia tunggu - tinggu akhirnya datang.
"Sudah menunggu lama, Bima?" tanya orang tersebut, yang tak lain adalah Niko.
"Hm, sangat lama,"
Niko terkekeh sumbang. Setelahnya ia duduk di samping Bima. Niko bersedekap, sementara matanya menatap lurus kedepan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Nik? Perushaanku sudah benar - benar hancur karena ulah Kenzo,"
Bersambung....
Jangan lupa untuk selalu like, komen dan juga vote.
__ADS_1