
Melihat banyaknya orang yang mendatangi rumah tua, Niko berdecak kesal ia buru - buru meninggalakan Alex dan Bastian.
Sementara itu, di sebuah ruangan yang terletak di ujung lorong. Darren meneteskan air matanya saat melihat Kiran yang tergeletak tak berdaya. Dengan tergesa ia mendekati Kiran.
"Ran..." Panggil Darren dengan suara lirih.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Kiran membuka matanya dia tersenyum begitu manis saat melihat Darren berada di depannya.
"Mas, kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi," kata Kiran dengan mata yang berkaca - kaca.
"Maaf sayang," lirih Darren sembari membawa Kiran ke dalam pelukannya. Darren menangis, ia tak kuasa menahan haru ketika berhasil menemukan Kiran.
Kiran membalas pelukkan Darren. Namun, sedetik kemudian ia melepaskan pelukannya ketika melihat lengan Darren yang berdarah.
"Mas, kamu baik - baik saja?"
"Ya, aku baik - baik saja. Sekarang ayo kita pergi dari sini sebelum Kevin datang," ujar Darren. Ia kemudian menggenggam tangan Kiran dan langsung membawanya menuju pintu.
"Kalian pikir bisa pergi dari sini?" tanya Kevin yang sudah berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum sinis sembari mengacungkan pistol ke arah Darren.
"Jangan menghalangiku, Vin! Daniel dan yang lainnya sudah datang, kamu akan tetap mati kalau tetap menghalangi jalanku!" Kata Darren.
"Kamu pikir aku takut, Darren? Bahkan aku akan memilih menghabisimu meski nantinya aku juga akan mati," sentak Kevin. Ia berjalan mendekati Darren tanpa mempedulikan apapun.
Darren menarik Kiran agar beralih kebelakangnya. Darren menatap waspada ke arah Kevin. Ia menelan saliva kasar saat melihat Kevin mulai menarik platuk pistolnya.
"Mas, bagaimana ini, kamu bisa terluka?" ujar Kiran sembari mencengkram kuat kerah baju bagian belakang Darren.
"Jangan khawatir, Ran! Aku akan baik - baik saja. Kamu diam dan jangan banyak bergerak ya!"ujar Darren. Menggenggam lembut tangan Kiran.
Kali ini Darren telah pasrah dengan apa yang akan menimpanya.
"Hentikan, Kevin!"
Darren dan Kevin menoleh ke arah sumber suara. Darren menghela napas lega saat melihat Daniel berdiri di belakang Kevin.
Daniel berjalan mendekati Kevin. Namun, dengan sigap Kevin mengancamnya.
"Jangan mendekat atau kau akan melihat Darren mati!"
"Jangan gila, Vin! Lepaskan pistolmu!"
"Tidak akan."
__ADS_1
Daniel menatap tajam ke arah Kevin. Sama halnya dengan Kevin, ia pun mulai mengacungkan sebuah pistol. Daniel berharap agar Kevin takut. Namun, alih - alih takut Kevin justru menyeringai kejam.
"Jadi kau benar - benar ingin melihat Kakakmu mati?
"Vin, kau...." ucapan Daniel berhenti ketika melihat Kevin tersenyum penuh arti sembari mengarahkan pistol ke arahnya.
Daniel pikir Kevin akan menmbakknya. Namun, dugaannya salah besar. Tepat saat menarik pelatuk, dengan cepat Kevin mengarahkan pistolnya ke arah Darren.
Set! Dor! Dor!
Arghh!
"Mas!!"
"Kak Darren?!"
Darren tergeletak setelah mendapatkan dua tembakan di bahu bagian bawahnya sekaligus. Darren meraung kesakitan sehingga membuat Kiran dan Daniel pun panik.
Keduanya lantas menghampiri Darren tanpa mempedulikan Kevin yang kini sudah langsung pergi entah kemana. Namun, sebelum itu Daniel sudah berhasil mendaratkan sebuah tembakan tepat di lengan kanan Kevin.
"Mas bertahanlah!" Kata Kiran sembari menggenggam tangan Darren erat. Ia menangis sejadi - jadinya ketika melihat Darren yang tak lagi merespon ucapannya.
"Kita kerumah sakit sekarang, Kak Darren! Aku mohon bertahanlah" Kata Daniel ikut menimpali. Tidak jauh berbeda denga Kiran ia juga ikut menangis. Daniel begitu khawatir melihat keadaan Kakaknya itu.
Darren menggeleng pelan setelah mendengar ucapan Kiran. Dengan perlahan dan penuh perjuangan, ia membuka matanya. Darren tersenyum meski terlihat di paksakan.
Tangan Darren terangkat ia menyentuh pipi Kiran dan mengusapnya pelan.
"Aku tidak akan kemana - kemana. Aku akan selalu hidup di hatimu," lirih Darren dengan terbata - bata.
"Jangan bicara seperti itu, Mas! Aku tidak suka mendengarnya," kata Kiran sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Darren.
"Aku mungkin tidak bisa bertahan lagi, Ran. Tubuhku mati rasa, aku sudah sangat lelah," sambung Darren. Napasnya mulai tersengal sehingga membuat Kiran pun semakin panik.
"Tidak! Kamu harus tetap hidup dan mendampingiku, Mas! Aku mohon bertahanlah sebentar lagi Daniel akan kembali membawa bantuan." kata Kiran di tatap wajahnya Darren yang terlihat semakin pucat.
Darren menggeleng dan berkata, "Jaga Arka baik - baik ya! Jangan biarkan dia kekurangan kasih sayang,"
"Mas!!" Pekik Kiran ia merasa mulai tidak nyaman setelah mendengar ucapan Darren.
"Jujur aku sudah tidak kuat menahan ini semua, Ran. Aku sudah lelah menghadapi semua kebencian yang mereka berikan padaku. Selain itu, aku tak mampu menahan rasa sakit ini,"kata Darren panjang lebar, ia meringis menahan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.
"Jangan membuatku takut, Mas. Bukankah kamu sudah berjanji akan bertahan bersama denganku sampai tua nanti? Ayolah kamu pasti bisa," balas Kiran.
__ADS_1
"Tapi a.. aku sudah tidak kuat, Ran. Rasanya semuanya sudah terasa gelap dan menyakitkan."
Kiran menggelengkan kepalanya. Rasa khawatirnya semakin besar, apalagi sedari tadi Daniel belum juga kembali untuk meminta pertolongan.
Kiran terisak sembari menekan luka tembak Darren agar darahnya tidak terus keluar. Sesekali Kiran mengecup pipi Darren pelan. Ia berharap Darren tetap bertahan untuknya.
"Maaf ya, kalau selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Maaf juga kalau di awal pernikahan kita kamu sangat menderita"
"Cukup Mas! Jangan teruskan lagi ucapanmu! Lebih baik sekarang kamu diam sambil menunggu bantuan datang!"
"Aku tidak bisa diam, Ran! Rasa - rasanya ini momen terakhir kita untuk bersama. Aku tidak rela untuk berpisah denganmu. Ta... Argghh!" Darren mengepalkan tangannya sekuat tenaga, guna menahan rasa sakit yang semakin menghantamnya.
Kali ini Darren terdiam cukup lama. Napasnya tersengal - sengal seolah - olah habis terlepas dari tubuhnya. Kini seluruh tubuhnya pun mulai terasa sangat lemas. Bahkan, untuk sekedar membuka mata saja, Darren merasa sangat kesulitan.
"R.. Ran berjanjilah untuk tidak menikah lagi kalau aku sudah pergi," lirih Darren dengan mata yang terpejam.
"Kamu tidak akan kemana - mana, Mas! Kamu akan selalu di sampingku,"
"Jangan pernah melirik pria lain. Kamu tahu, aku akan sangat cemburu kalau kamu sampai berpaling dariku,"
"Sudah hentikan, Mas! Aku tidak mau lagi mendengar ucapanmu. Aku akan marah kalau kamu masih terus berbicara!"
"Ran..."
Cup!
Kiran mengecup bibir Darren, ia sengaja melakukan itu agar Darren berhenti berbicara. Rasanya ia tidak tahan mendengar semua kalimat yang di ucapkan oleh Darren.
Mungkin Kiran sudah gila karena ******* bibir Darren ketika kedaan sedang gawat darurat. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Kiran tidak ingin Darren kembali berbicara dan membuatnya semakin takut dan gelisah.
"Jangan bicara lagi, Mas!"
"Ya, ini terakhir kalinya aku akan berbicara padamu,"
"Mas, su...."
"Ketahuilah, Ran! Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu. Aku sangat bahagia menjadi Suamimu,"
"Aku juga sangat bahagia menjadi Istrimu, Mas."
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1