Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Isak Tangis Darren


__ADS_3

Kevin mengernyitkan dahi. Ia berkacak pinggang sembari menatap intens ke arah Ivan. Kevin tersenyum penuh kepuasaan saat dirinya mulai menyadari sesuatu. Dan berkata, "jadi maksudmu, kamu sudah...."


"Ya, aku telah menukarnya dengan bayi milik orang lain, yang jauh lebih lemah dan menyedihkan. Dan aku yakin, bayi itu tidak akan bertahan lama," jawab Ivan.


Plok! Plok! Plok!


Kevin bertepuk tangan. Ia merasa begitu bahagia dengan kinerja Ivan.


"Bagus! luar biasa, kamu memang pantas menjadi pengikutku, Van." balas Kevin begitu gembira.


"Tentu saja. Sekarang apa rencanamu selanjutnya, Vin?" tanya Ivan penasaran.


Kevin tidak langsung menjawab. Ia berbalik sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Senyum sinis tersungging di bibirnya ketika ia membayangkan kehancuran Darren.


"Tentu saja menghancurkan Darren dan keluarga bodohnya!"


***


Tak terasa sudah lebih dari seminggu Kiran mengalami koma. Hingga saat ini belum ada tanda - tanda dirinya akan sadarkan diri. Karena terlalu mengkhawatirkan keadaan Kiran, Darren pun sampai lupa jika dirinya perlu beristirahat. Akibatnya kini ia harus jatuh sakit. Namun, Darren lebih memilih untuk diam dan tidak mengatakan kepada siapapun.


"Kamu tidak kasihan denganku, Ran? Aku lelah, Sayang," lirih Darren ia menunduk sembari menggenggam erat tangan Kiran.


Perlahan bahu Darren mulai bergetar hebat. Ia kembali menangis setelah empat hari yang lalu ia mencoba bersikap tegar ketika ada Helena dan Kenzo. Namun, kali ini ia merasa tidak sanggup lagi menahan semua beban yang ada di pundaknya ketika Helena dan Kenzo sudah kembali pergi.


Darren memejamkan mata. Ia merasakan kehangatan dari tangan kiran yang masih terkulai lemas. Selain lelah karena Kiran yang tak kunjung sadar. Darren juga merasa kasihan dengan Kiran yang terlihat semakin pucat dan kurus.


Bahkan Dokter Hendra juga mengatakan kondisi Kiran jauh lebih menurun dari sebelumnya. Darren sangat takut jika Kiran pergi. Namun, dirinya jauh lebih takut saat melihat keadaan Kiran yang begitu tersiksa dalam keadaan hidup dan mati.


"Aku merindukanmu, Ran. Aku rindu saat kamu bermanja padaku. Sungguh aku merindukan semua yang ada pada dirimu" kata Darren. dengan suara yang begitu parau.


Darren menatap wajah Kiran. Hatinya begitu teriris saat melihat pipi Kiran yang semakin tirus. Selain itu wajahnya pun begitu pucat.


Darren tercekat ketika melihat lelehan air mata dari sudut mata Kiran. Dan berkata "Apa kamu lelah, hm?" tanya Darren lirih sembari mengusap sudut mata Kiran.


"Rasanya sangat sulit untukku, tapi aku tidak akan memaksamu lagi, Ran. Kalau kamu memang ingin menyerah dan sudah sangat lelah. Aku tidak akan melarang," kata Darren. Isak tangisnya semakin terdengar ke seluruh ruangan.

__ADS_1


"Pergilah jika kamu memang ingin pergi. Jangan mengkhawatirkan anak kita, aku akan menjaganya dengan baik," ucap Darren sambil menatap lekat wajah Kiran.


"Maafkan aku yang tidak bisa membahagiakan kamu. Aku....." Darren tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya lagi. Ia semakin tergugu merasakan sakit sekaligus takut yang bercokol di hatinya.


"Arrgh! Darren meraung, ia berteriak untuk melepaskan semua beban yang begitu menghimpitnya.


Darren marah, ia marah kepada dirinya sendiri yang tidak mampu membahagiakan Kiran. Darren menyesal, tetapi ia merasa semuanya sudah sangat terlambat.


"Aku mencintaimu, Ran. Sampai mati pun hanya kamu yang akn aku cintai," ujar Darren sambil mengecup bibir Kiran singkat.


Darren menatap nanar ke arah Kiran. Perasaanya semakin terluka ketika melihat napas Kiran yang tidak beraturan dan berkata "Jangan menyiksa dirimu sendiri, Sayang! Jangan membuatku semakin gila!" kata Darren. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Kiran.


Darren memejamkan mata erat. Ia terisak sembari mebisikkan kata - kata cinta di samping telinga Kiran.


"Ran, Aku men....."


"M...Mas, kenapa menangis?"


Darren tertegun dan air matanya pun sontak berhenti membasahi pipi Kiran. Darren mengerjapkan mata beberapa kali. Tatapan matanya begitu sendu dan mengarah pada wajah Kiran.


"Jangan tidur lagi! Jangan tidur lagi dan jangan membuatku gemas. Aku hampir gila karena kamu tidak kunjung sadar, Ran." bisik Darren sambil memeluk Kiran.


Kiran tersenyum lemah. Matanya mulai memanas setelah mendengar ucapan Darren.


"Aku tidak mungkin pergi, Mas? A...Aku tidak mungkin meninggalkan kamu," balas Kiran.


"Aku sangat takut, Ran. Kamu hampir membuatku menyerah," sambung Darren.


"Sekarang jangan menangis lagi, Mas. Ja....Awww..." Kiran merintih merasakan sakit di perutnya.


"Jangan banyak bicara dulu, Ran. Aku panggil Dokter sebentar," ujar Darren sembari berjalan keluar dari ruang rawat inap Kiran.


Sesampainya di luar, Darren terkejut saat melihat Daniel berdiri dengan raut wajah panik di depan pintu.


"Daniel, Kiran....."

__ADS_1


"Kak Darren, Anakmu......."


Keduanya berbicara bersamaan. Namun, setelahnya mereka terdiam dan saling memandang satu sama lain.


"Anakku Kenapa, Niel?"


"Kak Darren, Anakmu dia sedang kritis?"


"Jangan bercanda Daniel! Kiran baru saja sadar dari komanya dan sekarang anakku kritis? Ya Tuhan cobaan apa lagi ini." kata Darren.


"Aku tidak mungkin bercanda Dan kata dokter kemungkinannya untuk sembuh sangat kecil, Kak Darren.


Deg.


"Sekarang bagaimana keadaan anakku, Niel?" tanya Darren. ia bahkan belum menemui dokter untuk memberitahukan perihal keadaan Kiran.


"Saat ini sedang di tangi oleh pihak Dokter, Kak. Meski kemungkinannya kecil, tetapi mereka sedang berusaha. Kamu berdoa saja," kata Daniel sambil menepuk pundak Darren.


Daniel tahu hal itu, sangat berat bagi Darren. Namun ia tidak bisa melakukan apapun. Daniel hanya bisa membantu dan menyemangati Kakaknya.


Darren menghembuskan napas panjang. Tubuhnya limbung, untungnya ada dinding yang yang meyangga. Darren kalut, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain berdoa.


"Rasanya sangat berat sekali, Niel. Padahal Kiran baru saja sadar. Dan bagaimana kalau dia tahu tentang kondisi anaknya? Apa semuanya akan baik - baik saja?" tanya Darren. Matanya menatap nanar ke arah Daniel.


Daniel membelalakan matanya ia terkejut saat mendengar jika saat ini Kiran sudah sadarkan diri. Dan berkata, "Benarkah Kak, Kiran sudah sadar? lalu bagaimana keadaanya? kamu sudah memanggil dokter?" tanya Daniel.


Darren menggelengkan kepala. "Aku tadi mau memanggil dokter. Tapi setelah mendengar kabar darimu, rasanya aku begitu lelah, Niel. Aku sangat muak dengan keadaan seperti ini." ujar Darren. Ia mengepalkan tangannya kuat - kuat.


"Jangan pernah berbicara begitu! lebih baik Kak Darren, cepat panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi Kiran. Dan masalah anak Kakak, jangan beritahu apa pun dulu pada Kiran." ucap Daniel sambil menepuk pelan pundak Darren.


"Hm, Kalau begitu tolong kamu panggilkan dokter ya, Niel! Aku tidak mungkin meninggalkan Kiran sendirian. Akut takut ada orang jahat yang datang kesini."


"Baik, Kak!"


Darren menyugar rambutnya ke belakang ia menghembuskan napas panjang kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Darren lelah, baru saja ia berbahagia karena Kiran sadarkan diri. Namun, ia kembali harus merasakan kesedihan mendalam.

__ADS_1


jangan lupa like komen dan vote


__ADS_2