
"Baguslah sebagai seorang pria kita memang tidak boleh memaksakan kehendak kepada wanita, Kak Darren."
"Hmm. tapi mungkin aku tidak bisa mengendalikan diri saat bertemu dengan Kiran nantinya."
Daniel menaikkan sebelah alisnya. ia tersenyum nakal sembari memainkan kedua alisnya. "Jangan bilang kamu akan langsung menggunakan Kiran, Kak!"
"Bodoh! kau fikir Kiran itu barang hah!!"
"Ya siapa tahu saja kamu langsung ngegas gitu. kan kasihan, Kiran belum memiliki persiapan," gurau Daniel.
"Kalau memang iya, kenapa? Kiran masih sah menjadi istriku, Daniel." ujar Darren sambil tersenyum nakal.
"Gemblung! Gak waras nih orang. jangan - jangan Kiran minggat karena nggak kuat meladeni gair..."
"Berisik! cepat kerjakan apa yang aku perintahkan. Aku mau tidur dulu" ucap Darren sambil berbaring di sofa.
"Sialan! dia yang butuh, aku yang harus ngerjain."
Dengan terpaksa Daniel akhirnya mengerjakan tugas yang di suruh kakaknya meski sudah lelah dan ingin tidur tapi dia tidak ingin mengecewakan kakaknya. Selama melakukan pencarian Daniel menghadapi banyak kendala salah satunya karena akun CitraSquad tak kunjung aktif. Daniel kini merasa gusar dan kacau karena belum mendapatkan informasi yang menditail tentang CitraSquad.
Sudah dua jam lebih terlewati dan Darren pun sudah mulai terbangun dari tidurnya " Ini sudah hampir tiga jam Daniel! Apa mencari inforamsi tentang CitraSquad saja begitu sulit?" tanya Darren sambil menatap jengkel kearah Daniel.
"Kamu pikir itu mudah Kak? Sialan! tunggu sebentar aku sedang melacak kota tempat tinggal si CitraSquad ini. semoga saja aku berhasil," jawab Daniel sambil fokus menatap ke arah layar laptop.
Darren mendengus marah, ia mencoba membuka akun instagramnya kemudian mencoba menghubungi CitraSquad. Namun, Sayangnya tidak aktif.
"Kak Darren lihatlah! kata Daniel yang nyaris berteriak. Wajahnya terlihat terkejut. tetapi pancaran matanya tampak berbinar - binar.
"Kamu sudah menemukannya?" Darren langsung mendekati Daniel. ia menatap layar laptop yang menunjukkan sederet informasi mengenai kota tempat tinggal CitraSquad."
"Pantas saja kita susah menemukan keberadaan Kiran, Kak. ternyata dia berada
sangat jauh dari kota ini." ucap Daniel.
Darren tersenyum tipis. jantungnya pun berdetak kencang merasakan bahagia sekaligus rasa cemas di hatinya.
"Segera carikan tiket pesawat ke kota itu Daniel! pagi ini juga aku akan berangkat mencari Kiran."
__ADS_1
****
Di sisi lain Arya masih senantiasa menjaga Kiran dan tak pernah meninggalkannya pergi dari ruang rawat Kiran berada.
"Sore nanti, kamu sudah boleh pulang?" ucap Arya. ia tersenyum begitu manis. tatapan matanya pun menenduhkan. benar - benar membuat Kiran merasa nyaman berada di dekatnya.
'Andai Aku bisa, aku ingin sekali melabuhkan cintaku padamu, Mas.' batin Kiran sambil menatap lekat wajah Arya.
Arya mengernyitkan dahi. ia heran sebab dari tadi Kiran terus menatapnya tanpa berkedip. Arya terkekeh pelan, Apalagi ketika melihat semburat merah di pipi Kiran.
"Kamu kenapa? ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Arya sambil melambaikan tangannya di depan wajah Kiran.."
"E..Ehh tidak Mas," jawab Kiran gugup sambil mengalihkan pandangannya dari Arya. Sungguh! Kiran benar - benar malu karena telah tertangkap basah sudah memperhatikan Arya.
"Saya kira kamu sudah terpesona dengan ketampanan saya" kata Arya dengan penuh rasa percaya diri. selanjutnya Arya tertawa renyah sambil mengusap rambut Kiran.
Kiran terdiam melihat tawa Arya yang benar - benar membuat candu bagi siapa saja yang mendengarnya. Jantung Kiran mulai berdebar dengan kencang. Setelahnya ia pun ikut tertawa bersama Arya.
"Oh, iya ngomong - ngomong bagaimana dengan pekerjaanku, Mas? kamu sudah meminta izin pada atasanku, Kan? tanya Kiran.
"Kamu jangan memikirkan masalah pekerjaan dulu, Ran. Selama dua minggu ke depan kamu tidak boleh untuk bekerja. Dan sebagai gantinya saya akan menemanimu."
"Kamu jangan khawatir saya akan menemanimu, saya juga akan mengajakmu jalan - jalan dan bersenang - senang," balas Arya ia duduk di samping brankar sembari mengenggam tangan Kiran.
"Apa tidak apa - apa Mas? aku takut dengan perkataan semua orang - orang. karena tetangga rumah sering membicarakan aku. apa jadinya kalau kamu mulai tinggal bersama ku?"
"Hahahah, Saya tidak akan tinggal denganmu Kiran. Di daerah sini saya masih memiliki Apartemen. jadi kamu tidak perlu khawatir" jawab Arya sambil terkekeh geli
"E..Eh? Aku pikir M..."
"Saya sudah dewasa jadi saya sudah paham mana yang baik dan mana yang buruk, Ran. Ya sudah lebih baik kamu istirahat dulu ya." ucap Arya.
Kiran menganggukan kepala. ia kembali berbaring lalu memejamkan matanya. sementara itu. Arya menatap lekat wajah Kiran yang begitu cantik saat tertidur.
"Tidak bisakah kamu mencintai saya Kiran? kalau kamu bersedia menjadi istri saya, saya pastikan kamu akan menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini," lirih Arya. ia menghembuskan napas panjang dan mulai mengusap perut Kiran yang sudah semakin membesar.
Kiran tertegun ketika mendengar ucapan samar - samar dari Arya. Perasaaan Kiran mulai bergejolak. Ada rasa berbunga - bunga sekaligus perasaan bersalah di hati kecilnya.
__ADS_1
"Apa mungkin aku harus membuka hati untuknya?" gumam Kiran. kini perasaanya tengah bimbang.
*****
"Darimana kamu Shelvi?!" tanya Bara sambil berkacak pinggang dan menatap sang putri yang selalu pulang pagi.
"Papih kenapa sih? Dulu papih juga pernah muda kan? Jadi tahu dong kenapa aku baru pulang?" tanya Shelvi balik. Gadis cantik dan berwajah manis itu, tampak acuh ketika Bara mulai mengeluarkan aura kemarahan.
"Kamu itu perempuan Shelvi! papih tidak pernah melarangmu pergi kemana pun. Tapi ingat waktu, Nak! Bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu Ha?" ucap Bara, ia benar - benar kalap terlebih pakaian sexy yang di gunakan oleh Shelvi.
"Tidak ada yang berani padaku, Pih. Sudahlah aku sudah lelah aku mau tidur." balas Shelvi. ia menguap kemudian berjalan menuju kamar.
"Tunggu Shelvi! papi belum selesai bicara kepadamu." ujar Bara sambil mencekal pergelangan tangan Shelvi. matanya menatap nyalang, tapi Shelvi sama sekali tidak peduli.
"Apalagi Pih! kalau mau marah nanti aja deh. Aku ngantuk banget.
"Sejak kapan kamu memiliki pakaian yang kurang bahan seperti itu Shel? Apa begini kelakuan kamu saat di luar negeri, ha?!" tanya Bara. suaranya sudah meninggi sebab rasa marahnya sudah tidak bisa lagi ia tahan.
"Ada apa sih ribut - ribut? kamu kenapa baru pulang, Shel? tanya Diah. ia terkejut saat melihat Shelvi dan Bara sedang bertengkar.
"Lihat anakmu ini, Mah! Gara - gara kamu yang selalu memanjakannya, dia sekarang menjadi anak yang pembangkang dan kurang ajar dengan orang tua! ucap Bara. ia menatap Diah dengan rasa malas.
"Loh kok kamu nyalahin aku, lagian kan Shelvi udah besar pih, jadi terserah dong dia mau melakukan apa saja" ucap Diah sambil bersedekap, tentu saja Diah tidak mau disalahkan.
"Diam! Papi Sama Mami kenapa sih? ini kan hidup aku kalian nggak usah ikut campur. lagian aku kan masih muda, jadi bebas mau melakukan apa saja." ucap Shelvi sambil bersedekap.
"Kurang ajar! mau sampai kapan kamu mau merusak masa depanmu sendiri, Shelvi? sekarang papih sudah lelah menasehatimu."
Shelvi terdiam sesaat. ia memasang pose berpikir kemudian tersenyum begitu manis saat menatap Bara.
"Aku janji akan berubah tapi dengan satu syarat, Pih!" ucap Shelvi
"Apa?"
"Papi harus membantuku, untuk mendapatkan Darren. Kalau tidak, aku tak mau berubah." jawab Shelvi dengan mantap. senyumnya kembali mengembang, Sebab Shelvi yakin kalau Bara akan membantunya.
Plak!!
__ADS_1
Jangan lupa like,komen dan vote.