Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Sebuah Ide


__ADS_3

Semilir angin malam membuat suasana menjadi lebih dingin. Darren bahkan tampak menggigil karena hanya memakai kaos oblong dan celana pasien.


Kini malam sudah semakin larut, tetapi Kenzo, Alex, Bara dan juga Bastian serta Darren masih berada di rumah Bima. Mereka sedang menunggu para Polisi yang tidak kunjung datang.


Selain itu, mereka juga sedang mengistirahatkan badan setelah melakukan perkelahian yang cukup lama. Semuanya terlihat terluka, begitu juga dengan Kenzo.


"Untuk pemakaman Bima, bagaimana? Siapa yang akan mengurusnya, Ken?" tanya Alex. Ia menatap Kenzo dan kemudian kembali memperhatikan jalanan yang tampak sepi.


"Saya. Sejahat apapun, tetapi Bima juga harus mendapatkan pemakaman yang layak, Lex. Setelah ini, kalian kerumah saya, urusi semua masalah pemakaman," jawab Kenzo tanpa menatap Alex. Ia memilih memejamkan mata sembari duduk di undakan teras rumah Bima.


"Kamu yakin, Ken? Memangnya Helena bakalan setuju? Gimana kalau dia nolak?" tanya Bara yang ikutan buka suara.


"Itu rumah saya, jadi terserah saya. Lagi pula Helena tidak mungkin menolak, dia selalu setuju dengan apapun yang saya lakukan, yang terpenting itu adalah hal yang baik."


Bara mengangguk pelan. Ia menatap lekat ke arah Kenzo kemudian tersenyum misterius. Sebuah ide gemilang tercetus begitu saja di otaknya.


"Bagaimana kalau kita buat kejutan untuk Helena? Haha, aku yakin dia pasti akan shock berat saat pulang dan saat melihat bendera kuning di rumah," gurau Bara. Ia terkekeh geli membayangkan bagaimana reaksi Helena.


"Kalau sampai kau melakukan itu, maka setelahnya saya akan membunuhmu, Bara."

__ADS_1


"Tapi itu sangat menarik, Ken. Sudah lama kita tidak melihat Helena histeris kan?" tanya Bara yang terus membujuk Kenzo.


"Ide kamu bagus juga, Bar. Selain Helena, Daniel dan Luna pasti akan terkejut juga. Ah, saya jadi ingin melihat wajah keponakan saya. Daniel, kalau sedang menangis seperti apa ya ," ujar Alex. Ia tersenyum miring membayangkan Daniel menangis.


"Sepertinya kalian sangat bodoh. Terserahlah! Saya mau mengatar Darren kembali ke rumah sakit. Kalian tunggu di sini, setelah itu datanglah ke rumah saya!" Perintah Kenzo.


"Siap, Bos!" Kata Bara sambil memberikan pose hormat ke arah Kenzo. Wajahnya tampak berbinar, tidak seperti tadi yang begitu suram dan menyeramkan.


Kenzo menghembuskan napas panjang. Setelah itu, ia membuka jaketnya dan di berikannya kepada Darren.


"Pakai dan ayo ke rumah sakit!"


"Kamu mau nurut, atau Ayah panggilkan Dokter untuk membiusmu?"


"Hm. Oke ke rumah sakit," jawab Darren menghela nafas pelan lalu menatap punggung Kenzo yang sudah mulai menjauhinya.


Darren tersenyum tipis, rasa - rasanya ia begitu beruntung karena mendapatkan Ayah seperti Kenzo.


"Aku janji akan menjadi Ayah yang baik untuk kedua anakku kelak. Aku tidak akan membiarkan mereka kekurangan kasih sayang," gumam Darren dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Setelah itu, Darren pun menyusul Kenzo. Ia naik di bagian kemudi.


"Biar Ayah yang menyetir Darren. Kamu masih sakit, jadi..."


"Ayah! Aku sudah besar dan aku juga sudah sembuh. Aku senang Ayah selalu khawatir padaku. Tapi aku rasa Ayah berlebihan," ujar Darren. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari memperhatikan raut wajah Kenzo.


"Siapa yang berlebihan? Kamu hanya belum merasakan menjadi orang tua yang hampir kehilangan anak, Darren. Ayah yakin kamu pasti akan melakukan hal yang sama seperti ini kalau terjadi sesuatu pada Arka,"


"Benarkah? Tapi aku harap Arka akan baik - baik saja. Sekarang ayo ke rumah sakit. Ayah juga perlu di periksa?" balas Darren yang menyalakan mesin mobilnya setelah itu, barulah ia mengemudikannya dengan kecepatan sedang.


"Ayah baik - baik saja. Tidak perlu periksa karena Ayah tidak merasa sakit sama sekali,"


Darren tersenyum miring, sembari melirik ke arah Kenzo. Tentu saja Darren tidak percaya dengan ucapan Kenzo. Pasalnya Kenzo terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ayah pikir aku akan percaya? Ayolah! Ayah itu sudah tua, jadi wajar kalau merasakan lelah dan sakit. Jangan memaksakan diri begitu!"


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote, dan hadiahnya.


__ADS_2