Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Koma


__ADS_3

selesai berganti baju dan istirahat beberapa saat, Darren kembali ke rumah sakit. Selain itu, Alex pun turut ikut menemani Darren.


Darren meneteskan air mata saat menatap putra kecilnya yang terlihat begitu lemah. Tubuhnya yang mungil tampak menggeliat tidak nyaman di dalam inkubator.


Rasa tak kuasa menahan haru. Hatinya menghangat saat mendengar tangisan lirih sang buah hati.


Alex tersenyum tipis. Ia turut menatap anak Darren yang terlihat begitu kecil dan rapuh. "Kamu sudah memiliki nama untuknya, Darren?" tanya Alex sambil menepuk pelan pundak Darren.


Darren menggelengkan kepala. Ia tersenyum sendu lalu berkata "Aku belum sempat memikirkannya, Om."


"Benarkah? Kalau begitu carilah nama yang tepat untuk putramu," ujar Alex sembari tersenyum tipis.


" Ya, Aku akan segera mencarinya, Om."


"Bagus, Om yakin dia akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan pintar. Sekarang jangan menangis lagi! Kamu harus kuat demi anak dan juga istrimu."


"Tapi rasanya sangat sulit, Om."


"Kamu pria Darren jangan cengeng seperti ini! Di uji seperti ini saja sudah menyerah. Lalu bagaimana cara kamu menghadapi Kevin nanti?"


Darren tertegun mendengar ucapan Om Alex. Lagi - lagi hatinya seolah tertampar dengan perkataan Om Alex yang begitu menusuk.


"Om benar. Seharusnya aku...."


Belum selesai bicara, Darren terkejut melihat Daniel berlari terburu - buru ke arahnya.


"Kak Darren, Kiran...., Dia...." Napas Daniel terengah - engah. Wajahnya pun terlihat begitu panik.


"Kiran kenapa? Dia baik - baik saja kan, Niel? Kenapa kamu lari - lari begitu?" tanya Darren yang mulai ikut panik, tetapi sebisa mungkin ia menyembunyikannya.


Daniel menggeleng perlahan. Dan berkata "Kiran..., tadi mengalami kejang, Kak Darren. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi yang jelas sekarang Kiran di nyatakan koma oleh dokter." jawab Daniel. raut wajahnya terlihat begitu sendu. Begitu juga dengan Darren.

__ADS_1


Tubuh Darren limbung. Kakinya seolah - olah tidak bisa menahan lagi beban tubuhnya. Beruntungnya, Alex dengan sigap memapah Darren dan membantunya duduk di kursi.


"Semuanya pasti akan baik - baik saja, Darren. Kiran hanya sedang beristirahat sebentar saja." Kata Alex. Ia tersenyum tipis sambil mengacak rambut Darren. Namun, jauh di lubuk hati Alex yang paling dalam, ia ikut merasa khawatir.


"Aku bukan anak kecil lagi, Om. Aku tahu saat ini Kiran sedang dalam ambang batas antara hidup dan mati. Dan jika Kiran menyerah, maka semuanya akan berakhir," kata Darren ia menunduk, kedua tangannya saling bertautan.


"Jangan pernah berpikir bodoh seperti itu! Istrimu tidak akan kemana - mana lagi. Lagi pula dia masih punya tanggung jawab untuk menjaga anak kalian. Jangan lemah, Darren! Lebih baik kamu sekarang temui Kiran," kata Alex menepuk pundak Darren pelan.


"Benar, Kak Darren, Siapa tahu dengan kamu, berada di sisinya, Kiran bisa cepat sadar." sambung Daniel. Ia tersenyum lalu menganggukan kepala.


"Tapi rasanya aku tidak sanggup melihat Kiran terbaring lemah begitu. Niel."


"Ayolah, Kak Darren! Kamu itu, kan, laki - laki. Jangan terlalu lemah seperti ini. Kamu harus tabah demi Kiran dan juga bayimu," ujar Daniel. Tatapan matanya begitu serius sehingga membuat Darren pun mulai tersadar.


"Benar, aku laki - laki dan tak boleh lemah, Apapun yang terjadi, aku tidak akan menangis lagi. Aku akan menjaga istriku dan juga anak ku. " Kata Darren, wajahnya pun terlihat bersungguh - sungguh. Sehingga membuat Alex dan juga Daniel ya melihatnya merasa sedikit lega.


"Bagus, Sekarang ayo aku antarkan ke ruang rawat Kiran"


Darren menganggukan kepala.Setelah menguatkan hatinya Darren kembali berdiri. Sebelum menuju ruang rawat inap Kiran, Darren menatap sang putra yang tampak tenang meski ada banyak peralatan medis yang menempel pada tubuh mungilnya.


Setelah berpamitan kepada sang buah hati, Darren pun mengikuti Daniel yang sudah jalan terlebih dalu. Sepanjang perjalanan ruang rawat inap Kiran. Darren tak henti - hentinya berdoa. Ia berharap ada keajaiban yang datang dan membuat Kiran kembali sadarkan diri.


"Sekarang masuklah! Aku dan Om Alex akan menunggu di luar," kata Daniel sembari menatap Darren.


"Ya, Terima kasih karena kamu sudah menjaga Kiran tadi,"


Daniel menganggukan kepala setelah itu, Darren memasuki ruang rawat inap Kiran.


Darren terdiam melihat keadaan Kiran yang terbaring tidak berdaya dengan berbagai alat yang menempel pada tubuhnya. Hati Darren seolah teriris, perih dan juga sakit saat melihat keadaan Kiran.


Hening, Semuanya begitu hampa di hati Darren. Setelah puas memandangi wajah Kiran yang pucat, Darren pun memutuskan untuk duduk di samping brankar. Ia tersenyum sendu sambil mengusap lembut pipi Kiran.

__ADS_1


"Sayang, bangun." lirih Darren. Matanya kembali memanas karena air mata yang mendesak ingin keluar.


"Anak kita sudah lahir. Dia sangat kecil dan membutuhkan kamu, Ran. Jadi aku mohon, bangunlah!" kata Darren. Ia mengecup punggung tangan Kiran.


Cukup lama Darren terdiam. Hingga akhirnya Ia tidak mampu menahan diri untuk tidak menangis. Bahunya bergetar hebat, isakan lirih pun kembali terdengar dari bibirnya.


"Maaf karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik, Ran. Dan maaf karena aku belum bisa membahagiakan kamu," ujar Darren. Suaranya begitu parau dan terbata - bata.


Darren kembali menatap wajah Kiran. Ia beranjak dari duduknya kemudian mengecup lembut kening Kiran. Dan berkata, "Jangan tinggalkan aku, ya! Aku berjanji setelah ini tidak akan membiarkan siapapun berani melukaimu lagi." ucap Darren sedih.


Darren menghembuskan napas panjang. Ia mengusap air matanya dengan kasar. Setelah itu, tatapan matanya berubah dingin. Raut kemarahan terlihat jelas dari wajahnya yang tampan.


Darren mengepalkan tangan erat. Seringai kejam terukir indah di sudut bibirnya. "Aku juga berjanji akan memusnahkan siapa saja yang sudah membuatmu seperti ini." bisik Darren. Suaranya mengalun rendah dan sarat akan emosi.


Setelah puas bercakap - cakap dengan Kiran, Darren memutuskan keluar. Ia kemudian menemui Om Alex dan juga Daniel. Untuk membicarakan hal yang cukup penting.


" Om, sepertinya aku membutuhkan sesuatu," kata Darren tepat setelah ia duduk di samping Alex. Tatapan matanya yang dingin dan raut wajahnya yang serius, sukses membuat Alex dan Daniel merinding.


"Apa?" tanya Om Alex. Ia mengernyitkan dahi lalu bersedekap.


"Aku butuh beberapa orang untuk menjaga ruang rawat Kiran dan juga ruang NICU. Aku takut jika Kevin akan berbuat hal yang tidak - tidak kepada Anak dan juga Istriku." jawab Darren.


Alex menganggukan kepala. Ia menghembuskan napas pelan kemudian menyandarkan kepalanya pada dinding. Dan berkata, " Berapa orang?"


"Enam atau sampai 8 orang saja. Dan usahakan mereka adalah orang - orang yang benar - benar dapat di percaya " sambung Darren.


"Baiklah, tapi ngomong - ngomong di mana anak buahmu? Bukankah dulu kamu juga memiliki sebuah oraganisasi?" tanya Om Alex. sembari menatap penuh selidik ke arah Darren.


"Semuanya sudah hancur....


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.

__ADS_1


Ada yang mau kasih saran buat nama anaknya Kiran dan Darren nggak nih?😁


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2