Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kondisi Darren dan Kiran


__ADS_3

Darren tersenyum tipis. Tidak lama kemudian tangannya yang berada di lengan Kiran mulai terkulai lemah. Begitu pula dengan kedua matanya yang perlahan tertutup rapat. Melihat hal itu sontak membuat Kiran menjerit. Ia mengguncangkan tubuh Darren, tetapi tidak ada respon apapun dari Suaminya itu.


"Demi Tuhan, Mas! Aku akan marah kalau kamu tidak bangun!"


Kiran kembali menangis kali ini ia memeluk kepala Darren cukup erat. Tangannya sedikit gemetar karena lelah dan rasa takut yang begitu besar di hatinya.


Kiran masih menangis ketika Daniel datang bersama Bara. Daniel begitu terkejut melihat Darren yang kini sudah tidak sadarkan diri.


"Ran...."


"Cepat bawa Suamiku ke rumah sakit!" Kata Kiran dengan nada suaranya yang cukup tinggi.


Bara dan Daniel mengangguk bersamaan. Setelah itu, keduanya pun mengangkat tubuh Darren.


"Tuhan, selamatkan Suamiku jangna biarkan dia pergi dulu! Aku mohon kepadamu," lirih Kiran dengan perasaan yang begitu tulus.


Sesampainya di rumah sakit, Darren langsung di bawa ke ruang ICU. Sementara Kiran, ia juga mendapatakan pengobatan karena beberapa saat yang lalu ia tidak sadarkan diri.


Di depan ruang ICU, Daniel tampak begitu panik. Sementara Bara, ia duduk sembari menatap khawatir ke arah pintu runag ICU.


"Niel, apa Kenzo sudah tahu tentang hal ini?" tanya Bara setelah Daniel duduk di sebelahnya.


Daniel menggeleng dan berakata " Ayah belum tahu, Om"


Kenzo memang tidak tahu menahu jika hari adalah hari yang sangat mengerikan terjadi pada keluarganya. Ia hanya tahu rencana yang sudah di siapkan oleh Darren dan yang lainnya untuk menghadapi Kevin.


Selama ini Kenzo memang jarang terlihat ikut campur. Namun jangan salah! Meski hanya terkesan diam saja, tetapi Kenzo selalu mengawasi gerak - gerik Bima maupun Kevin. Namun, sayangnya hari ini Kevin luput dari pengawasannya.


"Kalau begitu cepat hubungi Ayahmu, Niel. Dai dan juga Helena harus tahu tentang kondisi Kiran dan juga Darren.


Daniel mengangguk lemah. Setelah itu, ia pun beranjak dari duduknya untuk menghubungu Kenzo.


Kenzo yang saat ini sedang berada di luar kota pun merasa sedikit heran. Pasalnya, Daniel itu jarang sekali menelepon jika bukan karena hal penting.


"Ada apa, Niel?" tanya Kenzo ketika ia sudah menjawab panggilan dari Daniel.


Daniel tidak langsung menjawab. Ia merasa ragu untuk mengatakannya kepada Kenzo.Namun, Daniel juga tidak mampu kalau harus menanggung semua ini sendirian.

__ADS_1


"Ayah bisa pulang sekarang?" tanya Daniel dari seberang telepon. Suaranya bergetar karena ia menahan tangis setelah mendengar suara Kenzo.


"Kenapa? Tumben sekali kamu meminta Ayah pulang cepat. Apa ada hal yang sudah terjadi?" tanya Kenzo yang mulai khawatir.


"Kak Darren dan Kiran masuk ke rumah sakit. Kak Darren tertembak oleh Kevin, dan sekarang keadaannya kritis, Yah."


"Apa?! Jangan bercanda, Daniel! Ayah tidak suka kalau kamu membohongi Ayah dengan hal yang seperti itu."


"Aku tidak bercanda, Yah. Demi Tuhan, tadi setelah Ayah dan Mamah pergi. Semuanya menjadi sangat kacau. Kiran di culik, Kak Darren berusaha menolongnya tapi dia justru tertembak."


"Oke, Ayah segera pulang."


Tut!


Sambungan telepon terputus.


Kenzo meremas ponselnya di tanganny dengan kuat. Rasa khawatir sekaligus benci bercamlur menjadi satu di hatinya.


Mata Kenzo memanas dan berkaca - kaca. Namun, bibirnya justru menyeringai sinis.


"Kehancuran keluargamu ada di tangan ku, Bima! Selama ini aku sudah diam meski kau dan anakmu mengusik keluarga saya. Tapi tidaj untuk kali ini!" Gumam Kenzo.


****


Hari terbilang sudah cukup malam ketika Kenzo sampai di rumah sakit. Sesampainya di depan ruang ICU, ia di sambut oleh Helena yang sudah menangis dan berwajah sembab.


"Mas...." Helena menghambur pelukan Kenzo. Tangisnya semakin menjadi - jadi. Sehingga membuat Kenzo merasa semakin membenci keluarga Bima.


"Darren akan baik - baik saja Jangan menangis!" Kata Kenzo sembari mengusap lembut rambut Helena.


"Aku tidak mau kehilangan Darren, Mas. Dia sangat berarti untukku," lirih Helena. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Kenzo.


"Saya tahu, Helena. Berhentilah menangis! Bukankah lebih baik sekarang kamu menenangkan, Daniel? Lihatlah putra kita terlihat sangat menyedihkan," ujar kenzo sembari melepasakan pelukkan Helena.


Mendengar ucapan Kenzo, Helena lantas menoleh ke arah Daniel. Ia terjekut saat melihat Daniel menunduk dengan bahu yang bergetar.


"Sepertinya Daniel sangat ketakutan, Mas. Dia pasti sangat terluka melihat Darren tadi," ujar Helena. Meski hatinya sedang tak karuan, tetapi sebagai seorang Ibu Helena tidak bisa mengabaikan Daniel.

__ADS_1


Helena berjalan mendekati Daniel, lalu duduk di sebelahnya. Helena mencoba tersenyum meski sangat terpaksa.


"Daniel....."


"Ma... maafkan aku. Maaf karena aku tidak bisa menjaga Kak Darren dengan baik. Maaf karena aku terlambat menyelamatkan, Kak Darren." kata Daniel sembari memeluk Helena. Kali ini ia benar - benar menangis dan tidak mempedulikan orang - orang yang melihatnya.


"Ini bukan kesalahan kamu, Niel. Ini semua karena kesalahan Mama yang sudah memaafkan orang seperti Bima. Mungkin jika dulu, Mama tidak memberi maaf pada mereka, semuanya tidak akan seperti ini," balas Helena. Ia menepuk - nepuk pundak Daniel untuk memberikannya sedikit ketenangan.


Sejujurnya, saat ini Helena sedang merasa begitu hancur. Bagaimana tidak hancur saat mengetahui Darren terluka parah? Selain itu, ia juga merana karena Daniel terlihat kacau.


Kalau boleh, Helena ingin sekali menangis meraung - raung, atau kalau perlu, ia ingin menangis berguling - guling demi menenangkan hatinya. Namun, semua hal itu tidak mungkin ia lakukan. Helena harus tetap kuat demi anak - anaknya.


"Aku sangat takut jika Kak Darren akan pergi. Aku......"


"Darren tidak akan pergi, Niel. Kakakmu itu kan dia orang hebat, jadi dia pasti akan baik - baik saja. Saat ini, dia masih berjuang untuk tetap hidup. Makanya, kamu harus selalu tetap mendoakan dia," tutur Helena. ia tersenyum sembari menepuk pundak Daniel.


Daniel menganggukan kepala. Ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian melepaskan pelukannya. Daniel tersenyum tipis, meski berat ia mencontoh Helena yang tetap kuat meski hatinya tengah hancur.


"Ngomong - ngomong bagaimana keadaan, Kiran? Mama sampai lupa menanyakan dia," kata Helena.


"Kiran pingsan, Mah. Tubuhnya kelelahan karena mengalami penyiksaan dari Kevin,"


Helena memejamkan mata setelah mebdengar ucapan dari Daniel.Napasnya memburu, tangannya mengepal kuat. Helena lantas berdiri dari duduknya dan berjalan dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"Mau kemana?" tanya Kenzo sambil mencekal pergelangan tangan Helena.


"Lepas, Mas! Aku ingin membuat perhitungan kepada mereka yang sudah menyakiti anakku dan juga menantuku!"


"Jangan gila kamu! Saya tidak akan pernah mengijinkan kamu pergi!"


"Tapi aku tidak tahan, Mas. Aku capek , mendengar semua kejahatan yang mereka lakukan pada Darren."


"Helena. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Biar saya yang menyelesaikan semuanya. Saya berjanji akan memberikan perhitungan kepad, Bima."


Bersambung....


Akankah Darren selamat? Atau justru dia akan meninggalkan Kiran dan juga Arka.

__ADS_1


Nantikan terus kisah mereka ya....!


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2