
Sesampainya di luar, Kenzo menghampiri Bima yang sudah terbujur kaku di atas brankar. Di tatapnya wajah Bima untuk yang terakhir kalinya.
"Saya menyesal melihatmu mati dalam keadaan seperti ini, Bima. Tapi saya harap kamu akan tenang di alam sana."
Kenzo menghembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata lalu memanjatkan doa. Setelah itu, ia pun berniat untuk pulang. Namun, langkahnya terhenti karena dari kejauhan ia melihat sosok Darren yang sedang berdiri menatap ke arah Bima.
"Darren? Kenapa kamu bisa ada di sini? Siapa yang mengantarmu?" tanya Kenzo. Ia mendekati Darren menatap khawatir ke arah Putranya itu.
"A... Apa orang itu sudah mati, Yah?" tanya Darren tanpa menjawab pertanyaan dari Kenzo. Tatapan matanya begitu intens mengarah pada Bima.
"Darren, Om Bima bunuh diri. Dia sengaja menembak dadanya di depan Ayah. Sekarang dia sudah tidak ada. Maaf," ujar Kenzo sambil menepuk pundak Darren.
"Untuk apa Ayah meminta maaf, bukankah dia pantas mendapatkan ini?"
"Darren...." Kenzo menggeleng pelan. Hanya melihat dari wajahnya pun, Kenzo tahu jika saat ini Darren tengah memendam tangisnya.
Kenzo merangkul bahu Darren, lalu mengacak rambutnya kemudian berkata, "Dia sudah tenang. Jangan menangis!"
"Siapa yang menangis? Aku hanya sedang terharu karena Ayah baik - baik saja," balas Darren sembari mendorong Kenzo menjauh. Gengsi dong, masa udah besar di peluk - peluk sama Ayah di depan umum, pikir Darren.
"Oh ya?" Kenzo terkekeh pelan. Hatinya lega karena Darren tidak marah padanya.
"Tentu saja,"
"Kamu tidak sedih, Darren? Kamu tidak merasa kehilangan, hm?" tanya Kenzo wajahnya berubah menjadi begitu serius saat beradu pandang dengan Darren.
Darren terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Bohong kalau aku tidak sedih, Yah. Sebenarnya aku juga merasa kehilangan. Tapi tidak apa - apa mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita semua,"
"Kamu benar, mulai sekarang tidak ada berani mengusik kehidupan kita."
"Ya, semuanya sudah tenang...."
Hening...
__ADS_1
Keduanya memilih diam sembari menatap Bima yang kini sudah di bawa pihak dokter menuju ke rumah sakit.
"Hm, jadi kamu tidak beneran marah dengan Ayah, kan?" tanya Kenzo setelah beberapa saat ia hanya terdiam.
"Tentu saja aku marah. Kenapa Ayah tidak mengajakku? Ah, pasti akan sangat menegangkan jika aku ikut turun tangan," jawab Darren. Ia bersedekap sembari menatap Kenzo.
"Cih! Jadi kamu datang dengan siapa? Kamu kabur dari rumah sakit?"
"Tentu saja aku datang sendirian? Memangnya siapa lagi? Dan Yah, Ayah benar aku memang kabur dari rumah sakit," balas Darren tanpa berdosa sama sekali.
"Dimana adikmu, Daniel? Kenapa akhir - akhir ini Ayah jarang sekali melihatnya? Apa jangan - jangan dia sudah melupakan rumah, Darren?" Kenzo mendengus kesal pasalnya, sudah lebih dari tiga minggu lamanya, Daniel terlihat begitu sibuk.
Bahkan Putra keduanya itu, jarang sekali berada di rumah. Daniel hanya akan terlihat jika ada hal - hal penting yang melibatkannya. Seperti sewaktu Darren tidak sadarkan diri beberapa minggu yang lalu.
Mendengar pertanyaan Kenzo, Darren bersedekap. Ia memutar bola matanya malas.
"Ayah tahu, Daniel sedang mengejar cintanya ke ujung dunia,"
"Hmm... anak kedua mu memang terlalu plin plan,"
"Astaga, lalu di mana Arya? Seharusnya kamu menyuruhnya untuk mengantar kamu kesini, Dareen,"
"Arya sedang sibuk berkencan dengan Luna. Memang Ayah tidak tahu? Malam ini keponakanmu Luna menginap di rumahnya,"
"Apa?! Brengsek! Pria kurang Ajar! Berani - beraninya dia membawa Luna pergi. Ini tidak bisa di biarkan!" Ucap Alex berapi - api dan secara tiba - tiba muncul menghampiri mereka berdua
"Darren apa benar yang kamu katakan tadi, jika Luna sedang bersama dengan Arya,"
"Biarkan mereka bersama, Paman. Lagi pula Paman seperti tidak pernah muda saja. Lagian mereka berdua kan saling mencintai,"
"Tapi Paman tidak rela, Darren. Luna sangat cantik dan menggemaskan."
"Ya sedangkan Arya? Dia sudah tua dan berwajah sangar," Kenzo ikut menimpali.
__ADS_1
"Bukankah Arya seperti kalian berdua?"
"Apa maksudmu?" tanya Alex dan Kenzo bersamaan.
"Tua dan berwajah sangar," kata Darren yang sukses membuat Kenzo dan Alex mengusap dadanya pelan.
"Sabar - sabar!" Jawab Alex dan Kenzo bersamaan.
Apa yang di katakan Darren memang benar. Arya memang mirip dengan mereka dari segi sifat.
"Ngomong - ngomong apa Daniel sedang mengejar Citra, Darren?"
"Hm, memangnya siapa lagi? Daniel kan memang cinta mati dengannya tapi sok - sokan mau menikahi Bunga,"
"Daniel memang aneh," jawab Kenzo
"Ya. sama seperti Ayah,"
"Darren ja...."
"Ayah kan dulu juga sok - sokan membenci Mama. Eh taunya sekarang malah cinta mati,"
Alex pun hanya tertawa mendengar ucapan keponakannya itu.
Kenzo menggeleng pelan. Untuk pertama kalinya, ia gagal berdebat dengan Darren.
"Terserah kamu saja, Darren?"
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1