Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kepanikan Daniel


__ADS_3

Daniel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Wajahnya tampak begitu sumringah. Gurat - gurat kebahagiaan tampak begitu jelas dari pancaran matanya.


Hari ini, setelah perjuangan yang sangat panjang. Akhirnya Daniel bisa kembali mendapatkan sang pujaan hatinya.


Sesampainya di rumah, Daniel menghentikkan mobilnya secara mendadak. Matanya melotot melihat rumah yang begitu ramai dan bendera kuning yang terpasang di beberapa bagian.


Jantung Daniel berdetak kencang. Beberapa minggu ini ia memang jarang sekali berada di rumah. Namun, ia benar - benar tidak menyangka saat mendapati rumahnya penuh akan keramaian.


"Tidak mungkin Kak Darren meninggal. Dia pasti akan baik - baik saja. Lalu si- Ayah?!" Daniel buru - buru memarkirkan mobilnya secara asal. Setelah itu, Daniel pun keluar dari mobil dan berlari menuju ke rumahnya.


"Masih ingat rumah kamu, Niel?" tanya Alex yang sedang berada di dekat pintu. Ia bersedekap sembari menatap tajam ke arah Daniel.


"O...Om? Apa yang terjadi di rumah ini? Kenapa banyak sekali orang? Dan untuk apa bendera kuning itu?" tanya Daniel. Suaranya terdengar begitu panik.


"Menurutmu? Dasar anak durhaka! Dari mana saja kamu?" sentak Alex suaranya meninggi yang sukses membuat Daniel terkejut.


"O...Om. A..aku..."


"Hanya karena mengejar seorang wanita. Kamu sampai lupa melupakan rumah, Niel? Benar - benar kurang ajar."


"Aku tidak pernah melupakan rumah Om. Setiap hari aku pulang. Hanya saja aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku selalu pulang larut malam dan berangkat ketika semua orang masih tidur," jawab Daniel. Matanya mulai khawatir karena memanas dan juga takut.


Tak!

__ADS_1


Alex menjitak kepala Daniel kuat. Ia tersenyum miring kemudian berkata, " Kamu telah kehilangan seseorang,"


"Apa maksudmu, Om? Tidak mungkin Kak Darren meninggal, kan? Dia baik - baik saja dan sudah sembuh kan?"


"Memangnya kamu pikir hanya Darren yang bisa meninggal? Semua orang pasti akan mati, Niel. Dan saat ini Ayah ka...."


Belum selesai Alex menyelesaikan ucapannya, Daniel berlari masuk ke rumah.Wajahnya tampak gelisah yang justru membuat Alex tersenyum penuh kepuasaan.


"Mampus kan, suruh siapa dia tidak ikut membantu," gumam Alex.


Kaki Daniel terasa begitu lemas saat melihat tubuh seseorang terbujur kaku dan di tutupi oleh kain. Napas Daniel tercekat dan perlahan - lahan air mata pun mulai turun membasahi pipinya.


"A....Ayah? Kenapa pergi secepat ini?" gumam Daniel. Ia terduduk lemas di samping jenazah Bima.


Daniel benar - benar terpukul. Ia bahkan tidak segan menangis histeris meski kini sedang ada beberapa orang yang menatapnya. Daniel terus menangis dan ia tidak menyadari jika kini ada tiga orang pria tua yang sedang menatapnya sembari terkekeh geli.


"Ayah! Bangunlah, aku mohon. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik. Aku...."


"Kamu ngapain Niel? Masih waras, kan?"


Mendengar suara yang sangat familiar. Daniel lantas menoleh. Matanya membulat sempurna melihat Kenzo yang kini sedang berdiri tegak di belakangnya.


"Ayah?!"

__ADS_1


"Kenapa shock begitu?" tanya Kenzo sembari bersedekap. Ia menatap tanpa ekspresi ke arah Daniel.


"Ayah masih hidup? Lalu siapa orang itu?" tanya Daniel. Ia mendekati Kenzo kemudian memutari tubuhnya. Selain itu Daniel juga melihat ke arah kaki sang Ayah.


Daniel menghembuskan nafas lega ketika melihat kaki Kenzo yang menempel di lantai.


"Menurutmu?"


"Bukan Mama, kan?" tanya Daniel dengan hati - hati.


"Hm, lihat sendiri kalau kamu penasaran, Niel?"


"Tadi Om Alex bilang kalau Ayah sudah tiada.Aku sangat panik dan takut sekali, Yah." Ujar Daniel sembari mengusap air matanya.


"Kamu percaya dengannya? Lihatlah! Saat ini mereka sedang tersenyum puas melihatmu menangis," kata Kenzo sembari menatap ke arah Alex, Bara, dan juga Bastian.


Daniel mengikuti arah pandang Kenzo. Ia mendengkus kesal.


"Brengsek! Para tua bangka itu ternyata mengerjaiku


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2