Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Rencana Pertemuan Ayah Kandung Kiran


__ADS_3

Sementara itu, Bara dan Bastian masih saja meributkan tentang bagaimana cara pemindahan Bima agar aman.


"Kenapa kalian meributkan hal yang tidak pantas di ributkan? Kita tunggu saja di sini. Nanti malam kita bawa mereka" sambung Alex.


"Tapi...."


"Daripada meributkan hal itu, bukankah lebih kita berpikir tentang rencana apa yang sebenarnya yang sedang di sembunyikan oleh Bima? Saya yakin, saat ini dia pasti sedang menghubungi seseorang."


Bara dan Bastian memincingkan mata. menatap lekat ke arah Bima yang terlihat sedang menggunakan ponsel.


Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu jika terus di biarkan, maka Bima mungkin akan memanggil seseorang untuk membantunya.


"Apapun yang terjadi kita harus segera membawa Bima dan Istrinya pergi dari sini. Jangan sampai mereka merusak acara syukuran Arka besok;" kata Alex.


"Tapi, bagaimana caranya, Alex? Bukankah kita tidak bisa membawanya keluar begitu saja?" tanya Bara.


"Lewat pintu belakang. Malam ini juga kita selesaikan semuanya," tukas Alex ia beranjak dari duduknya kemudian mulai bersiap untuk membawa Cindy dan juga Bima pergi.


Sementara itu, Bima semakin panik. Sebab ia tidak bisa menghubungi siapapun untuk menolongnya. Bahkan nomor telepon Kevin pun tidak aktif.


"Bagaimana ini, Mas? Kita tidak mungkin berada di sini terus, kan?" tanya Cindy sambil mengenggam tangan Bima.


"Aku tahu, tapi tidak ada yang bisa di hubungi, Cindy. Tidak ada yang menjawab panggilanku," ujar Bima. Ia mengacak rambutnya gusar.


"Kenapa kamu tidak minta tolong saja dengan orang itu? Aku yakin dia akan membantu kita, Mas?" usul Cindy yang sukses membuat Bima menoleh ke arahnya.


"Tidak bisa, Cindy. Orang itu adalah senjata utama kita. Jadi kita tidak boleh mengeluarkannya begitu saja. Tunggu waktu yang pas."


"Tapi bagaimana dengan kita, Mas? mereka tidak mungkin membiarkan kita pergi dari sini, kan?"


Bima menghembuskan napas panjang. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Setelah itu, ia pun menatap lekat ke arah Cindy.


"Kita terima saja apa yang akan mereka lakukan. Untuk kali ini saja kita harus menuruti kemauan mereka."


"Tapi, Mas..."


"Ini semua demi keselamatan kita Cindy. Lagi pula, aku yakin mereka akan membawa kita ke markas Red Wolf. Jadi, bukankah itu kesempatan yang bagus untuk kita mengetahui lokasinya?" Bima tersenyu miring.


Cindy terdiam, meski apa yang di ucapkan Bima benar. Namun, tetap saja hatinya gelisah. Bagaimana kalau nantinya ia dan juga Bima tidak bisa keluar.


"Tapi, Mas...."

__ADS_1


"Sudahlah, Cindy! Kamu turuti saja perkataanku. Aku sudah bingung harus bagaimana?


Cindy menghembuskan napas pelan. Sepertinya ia dan Bima tidak mempunyai pilihan lain.


"Ah, aku menyesal ikut dengan Bima ke rumah ini," gumam Cindy.


***


"Bagaimana, Alex. Bima dan Cindy sudah kamu beres, kan?" tanya Kenzo saat keduanya bertemu di ruang tamu.


"Ya, kamu tenang saja. Mulai sekarang kamu jangan mengkhawatirkan apapun. Mereka berdua sudah di bawa Bastian dan Bara ke markas Red Wolf," jawab Alex sambil tersenyum tipis.


Kenzo menghela napas lega. " Tapi kamu yakin semuanya sudah beres, Alex?"


"Sekarang itu yang saya takutkan, Ken. Bima pasti sudah merencanakan sesuatu yang besar. Saya tidak tahu apa itu, tapi sepertinya itu hal yang sangat berbahaya,"


"Lalu apa yang harus kita lakukan, saya tidak mau mereka sampai mengusik keluarga saya lagi," kata Kenzo. Ia berkacak pinggang dan raut wajahnya pun terlihat gusar.


Alex menghela napas pelan. Setelah itu ia pun tersenyum sembari menepuk pundak Kenzo.


"Sekarang jangan memikirkan hal itu! Untuk sekarang lebih baik kita fokus dengan acara syukuran Arka ini.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas usahamu. Ngomong - ngomong kamu mau langsung pulang atau menginap?"


Kenzo mengangguk lalu berkata, "Baikalah. Hati - hati di jalan, kalau ada masalah hubungi saya."


"Hm, saya pulang dulu."


Setelah berpamitan Alex meninggalkan kediaman Kenzo.


"Semoga semuanya baik - baik saja. Rasanya lelah sekali, jika harus memikirkan Bima." gumam Kenzo.


Sementara di lain tempat, saat ini Darren justru sedang berbicara dengan Daniel. Keduanya terlibat percakapan yang cukup penting.


"Kak Darren, kamu tidak apa - apa, kan?"


"Tidak apa - apa, bagaimana maksudmu?"


"Tadi ucapan Om Bima, sangat keterlaluan. Aku takut kamu merasa sedih. Apalagi setelah tahu bahwa Mama dulu mantan istri Om Bima. Akupun sangat marah setelah mendengar semua itu, termasuk kepada Ayah dan juga Mama kenapa mereka merahasiakannya dari kita"


"Tidak aku biasa saja. Kau juga jangan menyalahkan Mama dan Ayah, Niel. Mereka tidak membicarakannya mungkin karena ada alasannya.Lagi pula aku sudah sering mendengar Om Bima berkata seperti itu," jawab Darren berbohong. Padahal sudah jelas belum lama ini, Darren menangis hanya karena memikirkan perkataan Bima.

__ADS_1


"Benar Kak Darren, aku seharusnya tak marah kepada Ayah dan Mama." kata Daniel. Ia tersenyum sembari menepuk pelan pundak Darren.


Namun, meski begitu Daniel tidak mempercayai perkataan Darren sepenuhnya. Bagaimana bisa percaya kalau mata Darren begitu sembab dan sayu?


"Ngomong - ngomong, ada apa Kak Darren? Sepertinya ada hal penting yang ingin kau katakan."


Darren menghembuskan napas panjang. Ia menyugar rambutnya ke belakang. Setelah itu, ia menatap sekeliling. Di rasa sudah aman Darren mulai berbicara.


"Aku dan Arya, sudah tahu siapa Ayah kandung Kiran?"


"Apa? Kamu serius, Kak Darren?" tanya Daniel. Ia memang belum tahu kalau Pandu adalah Ayah kandung Kiran.


"Ya, dan kamu tahu siapa dia?" tanya Darren sembari bersedekap. Senyum tipis tampak terukir di bibirnya.


"Siapa? Apa aku mengenalnya, Kak Darren?"


"Mungkin kamu tidak mengenalnya. Tapi aku yakin kamu pasti mengenal siapa dia"


"Ayolah Kak Darren! Cepat katakan siapa dia? Jangan bertele - tele seperti itu!" Kata Daniel yang sudah tidak sabar ingin segera tahu siapa yang dimaksud oleh Kakaknya.


"Tapi kamu harus janji untuk tidak mengatakan apapun pada Kiran. Biarkan dia tahu dengan sendirinya." ujar Darren memperingati Daniel.


"Aku tahu, Kak Darren. Jadi siapa dia?"


"Ayah Arya adalah Ayah kandung Kiran."


"Tunggu! Jadi maksudmu, Kiran dan Arya itu saudara?" tanya Daniel ia membelalakan mata.


"Kamu benar. Dan besok pagi aku dan Arya akan mempertemukan mereka berdua," jawab Darren. Ia tersenyum tipis sembari menatap wajah Daniel yang terlihat terkejut.


"Jadi, kamu mengundang keluarga mereka untuk datang, Kak Darren? Tapi apa kamu yakin Kiran akan baik - baik saja?"


"Mungkin Kiran akan terkejut. Tapi, bukankah lebih cepat lebih baik, Niel? Aku tidak ingin menundanya lagi. Kiran juga harus tahu siapa Ayah kandungnya," ujar Darren sambil menatap serius ke arah Daniel.


"Kalau begitu kita harus mempersiapkan semuanya, Kak Darren. Aku yakin besok akan terjadi keributan di rumah kita.


"Hm, ngomong - ngomong bagaimana rasanya melihat Citra bersama pria lain, Niel?" Darren terkekeh, sembari menatap remeh ke arah Daniel.


"Sialan!" Ketus Daniel.


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2