Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Shelvi Menyesal


__ADS_3

Bima memilih menenangkan diri dan menuju ke taman belakang rumahnya. Namun, sesampainya di taman belakang rumah, ia justru melihat Shelvi sedang bermesraan dengan Kevin.


Bima memijat pelipisnya yang mendadak pening. Ia merasa semakin emosi setelah melihat kelakuan Kevin.


"Sial! Sepertinya Shelvi memang pantas di singkirkan! Dia membuat Kevin gila dan terus bermesraan." gumam Bima.


Sekali lagi Bima menghembuskan napas panjang. Ia mulai mengacak rambutnya yang mulai di tumbuhi uban meski sudah di warnai menjadi hitam. Setelah itu ia pun meninggalkan taman belakang rumahnya.


"Vin, sepertinya aku tidak bisa bersama kamu lagi," ujar Shelvi sambil bersandar di bahu Kevin. Ia menghela napas pelan kemudian sedikit menjauh dari Kevin.


"Apa maksudmu? Kamu mengkhianatiku, Shel?" tanya Kevin sambil menatap penuh selidik ke arah Shelvi. Matanya memincing tajam bagaikan seekor elang yang siap memangsa.


"Tentu. Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Aku tidak mau saja hidup miskin. Kamu dan orang tuamu kan sudah bangkrut," ujar Shelvi tanpa mempedulilan perubahan raut wajah Kevin.


"Apa maksudmu?" sergah Kevin. Suaranya begitu rendah dan syarat akan emosi.


"Aku mencintaimu, Vin. Tapi aku tidak bisa hidup miskin. Dan lagi, aku juga tidak mau ikut menjadi korban keluarga Darren karena ulah kamu."


"Jadi? Kamu akan meninggalkan aku, Shel? Lalu apa gunanya kemesraan kita beberapa saat yang lalu?" tanya Kevin dengan suara yang cukup tinggi


Shelvi sedikit takut, namun dia mencoba untuk tetap tenang. Shelvi menatap Kevin yang sedang bertelanjang dada setelah kegiatan panas mereka beberapa saat yang lalu. Ia tersenyum tipis lalu menepuk pundak Kevin.


"Tentu saja aku harus meninggalkan kamu, Vin. Ah, tapi tenang saja aku akan tetap menjadi kekasihmu,"


"Sial! Jangan pernah main - main denganku, Shel! Aku bahkan rela menceraikan Vanesha hanya untuk kamu."


"Aku tidak main - main, Vin. Biarkan aku mencari kekasih yang kaya raya. Aku akan ambil semua uangnya dan akan aku bagi denganmu. Bukankah ini ide yang sempurna?"


Kevin mendengus kesal, ia mengepalkan tangannya sembari menatap tajam ke arah Shelvi. Kevin tersenyum miring, tentu saja ia tidak akan menyetujui ucapan Shelvi.


"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh itu, Shel. Kamu hanya milikku dan hanya aku yang boleh menyentuhmu.

__ADS_1


"Tapi kamu sudah tidak bisa memberikan aku uang yang banyak, Vin! Kamu pikir seluruh biaya perawatan tubuhku ini murah, ha?!" Teriak Shelvi.


Mata Kevin seolah - olah menggelap setelah mendengar ucapan Shelvi. Rasa kecewa dan obsesinya terhadap Shelvi kini telah membutakan hatinya.


"Kamu mau perawatan yang jauh lebih mahal, Shel?" tanya Kevin dengan suara yang sedikit sumbang yang cukup mengusik ketenangan Shelvi.


Kevin tersenyum miring sembari beranjak dari duduknya. Setelah itu ia pun mendekati Shelvi yang kini merasa begitu ketakutan. Shelvi menelan salivanya susah payah saat melihat seringai mengerikan yang belum pernah ia lihat dari Kevin.


"Mau apa kamu, Vin?" tanya Shelvi sambil berjalan mundur menjauhi Kevin.


"Memberikan perawatan mahal untuk kamu. Setelah itu, aku yakin kamu tidak perlu lagi mengeluarkan banyak uang," jawab Kevin.Ia tertawa jahat seperti seorang pria psikopat yang siap mengeksekusi mangsanya.


"A... Apa maksudmu, Vin? Jangan berbuat macam - macam!"


Kevin tidak menggubris ucapan Shelvi. Ia mendekatkan dirinya kepada Shelvi lalu berbisik dan berkata, "Kamu tahu, aku sangat mencintaimu, bukan?"


"Y... ya,"


"Dan kamu pasti juga tau aku tidak bisa membiarkanmu bersama dengan pria lain, bukan?"


Shelvi seolah tidak bisa melawan apa yang sedang di lakukan oleh Kevin. Tubuhnya begitu tegang, hingga tanpa sadar, kini dirinya dan Kevin sudah berada di dalam kamar.


"Kamu mau apa,Vin? Jangan membuatku takut!" Kata Shelvi sambil menatap waspada ke arah Kevin yang kini sudah memegang sebuah borgol berkarat.


Kevin tidak menjawab. Tapi ia terus mendekati Shelvi. Seringai kejam yang sedari tersungging di bibirnya kini membuat Shelvi semakin ketakutan.


Tubuh Shelvi mengigil matanya mendelik lebar, ketika Kevin mendorongnya hingga terlentang di atas ranjang. Shelvi hendak protes, tetapi mulutnya justru di sumpal dengan potongan kain yang kotor dan bau. Air mata terus menetes di pipi Shelvi. Ia tidak menyangka Kevin bisa berubah menjadi iblis psikopat yang begitu mengerikan. Shelvi memberontak tapi tangannya sudah lebih dulu di borgol oleh Kevin.


Kini, tatapan keduanya bertemu Shelvi meradang saat melihat pancaran penuh kebencian yang terlihat dari kedua manik mata Kevin.


"Aku sangat mencintaimu, Shel. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mendekati pria lain apapun alasannya," bisik Kevin sembari mengusap lembut pipi Shelvi.

__ADS_1


Shelvi menggeleng kuat.Tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. Shelvi sangat ketakutan terapi ia tidak bisa berbuat apa - apa.


"Bunkankah lebih baik kamu menjadi boneka ku saja di sini? Hahaha..., boneka yang cantik harus selalu menuruti pemiliknya," ujar Kevin sambil tertawa sumbang.


Sungguh saat ini Kevin seperti sedang di rasuki oleh iblis gila yang sangat mengerikan. Pria itu terlihat menyeramkan, apalagi saat ini ia telah memegang sebilah pisau.


Shelvi kembali menggeleng kuat ketika ujung pisau yang tajam mulai menggores pipinya.


'Kevin benar - benar tidak waras. Apa gara - gara bangkrut dia menjadi gila dan depresi seperti ini?' batin Shelvi dengan air mata yang mulai lirih membasahi sudut matanya.


Shelvi merintih tertahan.Karena mulutnya tersumpal kain.Napas Shelvi memburu ia tidak pernah mengira jika Kevin akan berbuat hal seperti ini padanya.


Shelvi mendadak menyesal kara tidak mendengarkan ucapan Papinya. Apalagi setelah ia merasakan sakit pada pipinya yang mulai berdarah. Air matanya semakin banyak menetes, tetapi Kevin sama sekali tidak peduli.


'PAPi..! selamatkan aku!' Jerit Shelvi di dalam hati.


Sementara di tempat lain, Bara yang tiba - tiba berdiri merasakan sakit pada bagian dadanya. Ia meringis dan duduk di sofa.


"Shelvi...?!"


"Kamu kenapa, Bara?" tanya Kenzo. Ia heran karena melihat Bara tiba - tiba duduk sembari memegangi dada bagian kirinya.


"Shelvi." gumamnya pelan.Napas Bara tercekat saat perasaan khawatir dan tidak nyaman semakin merasuki hatinya. Hati dan perasaan Bara mendadak tidak enak karena teringat dengan sang putri.


"Kenapa dengan Shelvi? Apa sudah terjadi sesuatu dengannya?" tanya Kenzo. Ia mendekati Bara, kemudian menyodorkan sebotol air mineral.


Bara menerima air mineral dari Kenzo. Seyelah itu, ia menenggaknya dengan tergesa - gesa. Bahkan Bara sampai tersedak beberapa kali. Setelah minum. Bara menghembuskan napas panjang.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho. Kira - kira apa yang akan terjadi pada Shelvi?

__ADS_1


Nantikan terus kisah mereka ya...!


Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2