
"Ada apa, Om?" tanya Darren tepat setelah dirinya berada di luar ruang rawat Kiran. Setelah memastikan jika Om Alex masih berada di seberang telepon, Darren bergegas menuju taman rumah sakit. Ia ingin berbicara dengan tenang tanpa harus merasa terganggu.
"Ada yang ingin Om bicarakan dengan kamu. Bisakah hari ini kamu datang ke tempat Om?" tanya Alex dari sebrang telepon. Suaranya terdengar begitu serius sehingga Darren yakin jika ada hal penting yang akan di bicarakan oleh Alex.
"Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Kiran, Om. Bagaimana kalau Om yang datang ke rumah sakit?" tanya Darren balik.
"Om sedang tidak bisa pergi kemana - kemana. Hari ini Om sedang sibuk mengawasi Ivan dan juga temannya," jawab Alex.
"Mengawasi Ivan? Untuk apa, Om?" Darren bingung sebab Alex belum menceritakan apapun kepadanya. Alex bahkan belum mengatakan rencananya dengan Bastian.
"Itu salah satu hal yang ingin Om bicarakan dengan kamu. Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari itu," balas Alex. Di sebrang telepon, ia menghela napas pelan sembari menatap Ivan dan Dika yang asyik sedang menyantap makanan.
"Tapi aku benar - benar tidak bisa pergi Om. Aku tidak mungkin meninggalkan Kiran sendirian, kan?"
"Bagaimana dengan Daniel? suruh dia menjaga Kiran dan anakmu dulu. Atau kalau perlu, Om suruh Bastian untuk menjaga anak dan istrimu," sahut Alex.
Darren terdiam pikirannya begitu bimbang. Darren ingin bertemu dengan Alex, tetapi di sisi lain ia juga harus menjaga Kiran. Darren menghela napas pelan. Ia duduk di kursi sembari memejamkan mata.
"Tunggu, bagaimana kalau aku menyuruh Arya untuk menjaga Kiran? Ah, tapi aku takut dia akan membawa kabur Kiran lagi." gumam Darren untungnya tidak di dengar oleh Om Alex.
"Kamu mengatakan sesuatu, Darren?" tanya Om Alex.
"Tidak Om. Ya sudah kalau begitu aku matikan dulu. Aku akan mengusahakan untuk segera datang kesana."
"Baiklah, Om tunggu kedatangan kamu?"
Tut!
Sambungan telepon terputus Darren mengusap wajahnya pelan kemudian beranjak dari tempat duduknya. Darren memutuskan kembali ke ruang rawat inap Kiran.
Sesampainya di ruang rawat inap Kiran, Darren tersenyum tipis saat melihat Arya sedang duduk. Ia senang karena Arya paham dan tidak berlama - lama bersama dengan Kiran tanpa dirinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Darren sembari duduk di samping Arya.
"Saya tidak mungkin bersama Kiran terus menerus, kan? Lagi pula saya merasa tidak nyaman kalau hanya berdua dengannya, " jawab Arya tanpa menatap ke arah Darren. Saat ini ia sedang sibuk dengan ponselnya.
"Bagus kalau begitu. Kamu memang tidak boleh berlama - lama dengan Kiran" balas Darren.
Setelah itu hening. Tidak ada lagi yang membuka suara. Keduanya sedang sibuk memikirkan berbagai hal yang bergelanjut manja di pikiran.
__ADS_1
Saat ini Arya sedang memikirkan kemungkinan tentang Ayah dari Kiran. Sementara Darren sedang bimbang antara pergi atau tetap berada di rumah sakit.
Darren menghembuskan napas pelan. Ia menyugar rambutnya ke belakang. Setelah itu ia pun melirik ke arah Arya yang semakin fokus dengan ponselnya.
"Ada apa?" tanya Arya sambil melirik kearah Darren dengan tiba - tiba ia menaikan sebelah alisnya kemudian mematikan ponsel.
"Tidak ada apa - apa."
"Kamu dari tadi melihat ke arah Saya jadi saya berpikir kamu mau berbicara sesuatu," ujar Arya.
"Ah ya, sebenarnya saya ingin meminta bantuan darimu,"
"Bantuan apa? Katakan saja! Kalau bisa, maka saya akan menjawabnya." ujar Arya. sambil menyandarkan kepalanya pada dinding dan memejamkan matanya.
"Bisakah kamu menjaga Kiran untuk beberapa saat? Aku sedang ada urusan cukup penting,"
"Kamu yakin? Memangnya kamu tidak takut kalau aku tiba - tiba membawa kabur Kiran?" tanya Arya. Ia tersenyum miring sembari melirik sekilas ke arah Darren.
"Sebenarnya aku bimbang tapi aku tidak punya pilihan lain. Daniel sedang sibuk di kantor jadi aku tidak bisa meminta tolong padanya. Jadi bagaimana?" tanya Darren lagi.
"Sebenarnya saya juga memiliki urusan yang cukup penting. Tapi baiklah, saya akan menjaga anak dan istrimu di sini,"
"Hm, Saya tahu. Saya akan menjaga Kiran di luar agar tidak menimbulkan fitnah yang tidak - tidak." jawab Arya.
"Baguslah, kalau begitu aku mau ke dalam dulu. Aku harus berpamitan kepada Kiran"
"Ya, tapi sepertinya Kiran tertidur. Tadi dia bilang mengantuk dan ingin beristirahat."
Darren hanya mengangguk, setelah itu ia memasuki ruang rawat inap Kiran. Darren tersenyum tipis saat melihat Kiran yang sudah terlelap.
"Aku pergi dulu ya! Aku janji tidak terlalu lama," ujar Darren sembari mengecup dahi Kiran.
Setelah itu, Darren beralih pada box bayi. Ia tersenyum lembut lalu mengusap pipi Arka yang sedang terlelap "Jangan rewel ya sayang! Biarkan Mama istirahat," ucap Darren dengan penuh kelembutan pada anaknya.
Setelah berpamitan kepada Kiran dan juga Arka. Darren pun bergegas menuju ke parkiran,"
"Semoga kali ini Om Alex. Membawa kabar baik untukku,"
***
__ADS_1
"Siapa yang menjaga Kiran di rumah sakit, Darren?" tanya Om Alex sesaat setelah ia dan Darren duduk di sebuah ruangan yang berada di area markas Red Wolf.
"Arya, dia dulu orang yang membantu Kiran. Sebenarnya aku ragu tapi aku tidak punya pilihan lain. Lagi pula aku pikir Arya tidak mungkin melakukan hal buruk pada Kiran"
"Jangan asal mempercayai seseorang Darren! Bukankah dulu kamu sudah tertipu oleh Ivan?"
"Tapi Arya itu berbeda. Dia orang yang baik meskipun menjengkelkan," balas Darren
"Ya sudah kalau begitu. Tapi untuk berjaga - jaga, Om akan menyuruh Bastian untuk datang ke rumah sakit."
"Hm, jadi ada apa sebenarnya Om? Apa ada informasi baru mengenai Kevin dan Om Bima?"
"Tidak ada informasi apapun, Darren. Dan menurut beberapa laporan dari teman Om, mereka sedang tidak berencana apapun. Jadi untuk sementara waktu, kita bisa bernafas dengan tenang," kata Om Alex yang membuat hati Darren lega.
"Benarkah? Tapi bagaimana kalau mereka tiba - tiba menyerang kita?"
"Itu tidak mungkin terjadi Karena Om sudah memastikannya sendiri. Tapi kita harus tetap waspada sebab, kemungkin besar Bima sudah
bekerja sama dengan seseorang,"
"Seseorang? Siapa itu?" tanya Darren heran.
"Om juga tidak tahu. Tapi yang jelas orang itu pasti berbahaya," kata Alex dengan tatapan penuh serius ke arah Darren.
Darren menganggukkan kepala. " Jadi untuk sementara waktu kita tidak perlu khawatir ya?"
"Kamu benar. Akan tetapi untuk berjaga - jaga, Om akan tetap melakukan pengawasan." kata Alex
Darren menganggukan kepala. "Lalu apa yang ingin Om bicarakan tentang Ivan? Dan dimana dia sekarang? Bukankah dia sudah masuk penjara?" tanya Darren.
Mendengar pernyataan Darren, Alex menghembuskan napas pelan. "Ivan tidak masuk penjara. Bahkan sekarang dia sedang tidur nyenyak di dalam." jawab Alex.
"Apa?! Jangan bercanda, Om!"
"Om tidak bercanda. Tapi kamu tenang saja, Om sudah membuatnya takluk. Sekarang Ivan ada di pihak kita."
Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak Typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan Hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol Like... like... like yang banyak Ya~~
__ADS_1