Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Rencana Daniel


__ADS_3

"Wanita hamil tidak baik melamun malam - malam begini," kata Daniel yang baru saja sampai dari taman belakang. Tadi, sewaktu berada di balkon, ia tidak sengaja melihat Kiran. Oleh karena itu Daniel pun langsung menghampiri Kiran.


Kiran menoleh ke arah Daniel. ia tersenyum tipis lalu menggeser tempat duduknya.


"Ada masalah lagi dengan Darren, Ran?" Tanya Daniel. ia menatap wajah Kiran dari arah samping.


Kiran menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, "Tidak ada masalah apapun," jawab Kiran.


"Benarkah? Tapi aku lihat wajahmu murung begitu. Apa karena Shelvi?" tanya Daniel lagi ia menatap lekat wajah Kiran.


Mendengar pertanyaan Daniel, Kiran menoleh dan matanya kembali berkaca - kaca. "T....Tidak, aku...., aku...., hanya....."


Ucapan Kiran terhenti ketika Daniel menariknya ke dalam pelukannya. Bahu Kiran bergetar hebat ketika merasakan usapan lembut pada rambutnya.


"A...Apa salah jika aku menyuruhnya membawa Shelvi pergi dari sini? Aku wanita biasa, Niel. Aku sangat sakit hati melihat mereka," ucap Kiran. ia meluapkan semuanya dalam pelukan hangat Daniel.


Daniel terdiam, ia menghembuskan napas panjang sembari mengusap rambut Kiran. Dani berharap Kiran bisa lebih menjadi tenang dari sebelumnya.


"Sepertinya keputusanku membawa Darren padamu salah ya? Mungkin kamu akan lebih berbahagia jika bersama dengan Arya," ucap Daniel.


"Aku pikir dia sudah berubah. Aku pikir dia tidak akan berbuat jahat lagi padaku. Tapi ternyata aku salah besar, Niel. Dia justru menorehkan luka yang semakin besar," kata Kiran.


Daniel tidak menjawab ucapan Kiran. ia merasa bingung harus melakukan apa. Namun, yang jelas Daniel tidak akan tinggal diam. Terlebih lagi, Sebentar lagi Kenzo dan Helena akan pergi. Daniel yakin, jika Shelvi tidak segera pergi, maka sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Sudahlah kamu jangan menangis! Kamu tidak pantas menangisi pria brengsek seperti dia. Lebih baik kamu pergi tidur," kata Daniel sembari melepaskan pelukkannya.


"Bagaimana aku bisa tidur, Niel? Rasanya begitu menyakitkan," ujar Kiran.


"Aku tahu, tapi lebih baik kamu istirahat dan jangan memikirkan apapun tentangnya."


"Tapi......"


"Sst..., ini udah tengah malam. ibu hamil tidak baik begadang di luar begini. Masuk ke kamar dan tidurlah! Besok pagi aku akan mengajakmu ke suatu tempat," kata Daniel. ia tersenyum tipis lalu mengacak puncak kepala Kiran.


"Ke mana? tanya Kiran. saat ini perasaanya sudah lebih baik setelah mendapat pelukkan dari Daniel.

__ADS_1


"Kemana saja yang kamu mau. Besok pagi aku janji akan menuruti semua keinginanmu. Ya anggap saja sebagai hadiah kehamilanmu," jawab Daniel sambil terkekeh.


"Kamu bisa saja. Tapi kalau memang begitu, boleh aku meminta sesuatu padamu?"


"Tentu saja. Katakan saja semua yang kamu mau. Aku pasti akan menurutinya, Kakak ipar" balas Daniel.


"Antarkan aku membeli perlengkapan bayiku. Usianya sudah tujuh bulan lebih, tapi aku belum membeli apa - apa,"


"Wah benarkah? kalau begitu itu suatu kehormatan bagiku bisa menemanimu belanja perlengkapan bayi."


Kiran menganggukan kepala. Setelah berbincang beberapa saat dengan Daniel, Akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk.


Kiran berjalan pelan menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan Darren. Sesampainya di kamar, ia melihat Darren yang sedang duduk di pinggiran sembari menundukan kepala.


Mendengar suara langkah kaki, Darren menoleh ia tersenyum tipis setelah melihat Kiran memasuki kamar. ia bergegas berdiri dan menghampiri Kiran.


"Kiran, aku....."


"Aku sedang tidak ingin membahas apapun," kata Kiran sebelum Darren selesai bicara.


"Tapi, Ran. Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Aku benar - benar menyesal sudah menamparmu tadi. Aku Khilaf," kata Darren. Wajahnya begitu serius dan ucapannya pun bersungguh - sungguh.


"Sayang, aku......"


"Selamat malam, Nak. Ayo kita tidur, Maaf ya karena seharian ini Mama membuatmu merasa sedih. Tapi kamu tenang saja, sekarang Mama baik - baik saja," ucap Kiran sembari mengusap perutnya yang membesar. ia sengaja memotong ucapan Darren karena hatinya sudah terlalu lelah berdebat dengan suaminya itu.


Darren menghela napas lelah. Setelah itu ia pun beranjak duduk di dekat Kiran yang sedang berbaring. Darren mengangkat tangannya, setelah itu ia mengusap perut Kiran.


"Jangan menyentuh anakku!"


"Ran, dia juga an...."


"Bukan, dia hanya anakku. Dan aku adalah Papa sekaligus Mama untuknya" jawab Kiran. tatapan matanya begitu nanar ketika beradu pandang dengan Darren.


"Tapi....."

__ADS_1


"Aku tidak mau anakku memiliki Papa yang jahat dan pembohong sepertimu."


Sementara di kamar lain, saat ini Daniel tengah menghubungi seseorang. Tepatnya setelah panggilan terjawab, Daniel langsung berbicara tanpa berbasa basi


"Jemput anak Om sekarang! dan jangan sampai dia menginjakan kakinya di rumahku lagi!"


"Apa maksudmu, Niel? Apa Shelvi sedang berada di rumahmu?" tanya Bara dari sebrang telepon.


"Ya, dan dia menghancurkan rumah tangga Kak Darren. Apa Om benar - benar mengusirnya dari rumah?" tanya Daniel.


"Om tidak pernah mengusir Shelvi. Dia sendiri yang memutuskan pergi dari rumah." balas Bara. ia menghela napas lelah. Rasanya ia begitu malu pada keluarga Kenzo karena Shelvi.


"Kalau begitu jemput Shelvi sekarang, Om! Dia sudah benar - benar keterlaluan," ujar Daniel nada suaranya di liputi kemarahan yang mampu membuat Bara terdiam seketika.


"Tapi Om tidak bisa, Niel. Saat ini Om dan tante Diah sedang berada di negara K. Kami tidak bisa pulang sampai beberapa bulan ke depan," jawab Bara.


Daniel membulatkan matanya. ia merasa begitu terkejut setelah mendengar ucapan Bara. "Lalu aku harus bagaimana? Tidak mungkin Shelvi terus berada disini," ujar Daniel.


"Om minta tolong padamu ya! Tolong sadarkan dia. Om sudah terlalu lelah menghadapi Shelvi yang tidak bisa di atur" sambung Bara suaranya terdengar sedikit parau.


"Tapi, Om...


"Maaf ya, Om ada urusan penting sekarang. Tolong bantu Om untuk menyadarkan Shelvi!"


Tut.


Sambungan telepon terputus. Daniel menghembuskan napas panjang. ia menyugar rambutnya ke belakang kemudian memilih berbaring di atas ranjang. Daniel memejamkan mata. Meski bukan yang mengalami, tetapi Daniel pun merasa ikut lelah dengan semua permasalahan rumit Kiran dan Darren.


"Aku tidak mungkin diam saja. Ah, Tapi apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin bisa mengawasi Kiran selama dua puluh empat jam," ujar Daniel. ia meremas rambutnya karena frustasi.


"Sial! Aku yakin Shelvi pasti akan bertindak buruk jika sampai aku dan Kak Darren lengah. Sepertinya aku membutuhkan seseorang untuk menjaga Kiran ketika aku dan Kak Darren sedang bekerja." kata Daniel sambil tersenyum tipis.


Sebuah ide brilian tercetus di benak Daniel. "Kamu tidak bisa berbuat apapun pada Kiran, Shel."


Seperti apakah rencana Daniel untuk melindungi Kiran? Lalu bagaimana reaksi Darren jika melihat Kiran dan Daniel pergi bersama?

__ADS_1


Nantikan terus kisah mereka ya~~~


Jangan lupa, like , komen dan vote.


__ADS_2