
"Sialan! Tunggu saja kamu, Ran! Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia terlalu lama," ucap Shelvi tatapan matanya begitu tajam. sembari menatap foto Kiran di tangannya.
"Ada masalah dengan wanita itu lagi?" tanya seorang pria yang kini tengah duduk di samping Shelvi.
"Ya! Hari ini dia telah membuatku kesal dan marah. Sial! bisa - bisanya wanita kampungan itu mendapatkan Darren. Bukankah aku jauh lebih baik darinya?" ketus Shelvi sambil bersedekap. Rasanya is benar - benar marah hingga merasa tidak sabar untuk melihat kehancuran Kiran.
"Kamu tenang saja. Bukankah kita sudah memiliki rencana yang bagus untuk menghancurkan Darren dan juga dia. Jadi kita hanya menunggu waktu yang pas."
"Tapi Kevin, rasa - rasanya aku tidak terima jika melihat Darren dengan Kiran. Mereka terlihat sangat mesra dan saling mencintai," kata Shelvi tatapan matanya begitu intens mengarah pada Kevin yang sedang mengemudi.
"Jangan marah - marah begitu! biarkan mereka bahagia dulu sebelum hancur berkeping - keping. Ah..., ngomong - ngomong bagaimana kalau kita bersenang - senang sebentar?" Tanya Kevin sembari tersenyum aneh kearah Shelvi.
"Brengsek! Bagaimana kalau istrimu tahu? Bisa - bisa pertemananku dengan dia hancur," jawab Shelvi. ia menyandarkan kepalanya pada kursi mobil lalu memejamkan mata.
"Kamu tenang saja, hari ini sampai minggu depan, Vanesha sedang berada di luar kota Jadi dia tidak akan tahu dengan apa yang kita lakukan," sambung Kevin sambil tersenyum nakal, Tangannya pun tak tinggal diam, ia mulai menyentuh bagian sensitif Shelvi.
"Ck! Kamu benar - benar brengsek Kevin! Memangnya Vanesha tidak bisa memuaskanmu? Sampai - sampai kamu melirik wanita lain begini," kata Shelvi ia memejamkan mata tanpa menghentikan tangan Kevin yang semakin merangkak naik.
"Dia terlalu monoton, Shel. Lagi pula Vanesha selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia juga sering pulang larut malam," balas Kevin. Tangannya yang semula berada di paha Shelvi, kini bergerak naik dan masuk ke baju Shelvi.
"Suruh siapa kamu me.....Kevin hentikan!" kata Shelvi menggeliat gelisah. Shelvi melenguh tertahan ketika merasakan tangan Kevin mulai menyentuh perutnya.
"Jangan munafik, Shel! Aku tahu kamu pasti menginginkan hal ini, kan?," Kevin terkekeh kemudian menyibak baju Shelvi hingga sebatas dada. Namun, tatapannya masih tertuju pada jalanan di depannya.
"Sialan kamu, Kevin," gumam Shelvi. ia bersandar dan pasrah apa yang di lakukan oleh Kevin padanya. Shelvi memejamkan mata sembari sesekali bergumam menikmati permainan tangan Vino di dadanya.
"Aku tahu kamu sudah pernah melakukannya, Shel. Di luar negeri pasti kamu sudah sering one night stand, Kan?"
"Nggak usah banyak bicara, Kevin! cepat kita check in dan selesaikan semua ini," tukas Shelvi.
"Haha..., baiklah mau di mana?"
"Terserah," jawab Shelvi sambil mengerang nikmat.
__ADS_1
"Kamu sudah berubah benar - benar menjadi ******, Shel!"
"Hm, aku tidak peduli."
"Om Bara, pasti menyesal punya putri sepertimu, Shel. Ah, tapi aku sangat beruntung karena sebentar lagi aku akan mencicipimu," bisik Kevin.
"Mereka terlalu kolot, Kevin. Papi selalu melarangku untuk melakukan apapun. Sedangkan Mami? dia hanya selalu mengikuti ucapan Papi saja."
"Tapi bukankan itu bagus? seorang gadis memang harus di jaga dengan baik oleh orang tuanya. Tidak seperti kamu ini, Shel," balas Kevin sambil terkekeh.
"Berisik! jadi nggak nih? kalau ngga antarkan aku pulang. Hari ini benar - benar menjengkelkan," tukas Shelvi sambil mencekal tangan Kevin yang mulai bergerak tak sopan.
Kevin tak lagi banyak bicara. ia mempercepat laju mobilnya menuju sebuah hotel yang berada di perbatasan kota. Sesampainya di sana, ia mengajak Shelvi untuk menikmati sesuatu yang jelas terlarang bagi keduanya. Beruntungnya hari sudah beranjak malam. Sehingga mereka tidak takut di lihat oleh orang yang mengenali mereka.
*****
Sementara itu di sisi lain Darren telah memasuki kamar dan menghampiri Kiran yang sedang berbaring di ranjang.
"Masih marah, hm? tanya Darren. ia terkekeh geli sembari duduk di tepi ranjang dan menatap Kiran.
"Nggak marah kok nggak mau senyum? Kamu masih kesal dengan ucapan Shelvi?"
Kiran terdiam, tapi matanya mulai berkaca - kaca ketika beradu pandang dengan Darren. Jujur saja, saat ini Kiran masih tersinggung dengan ucapan Shelvi.
"Mas...., Apa wanita yang hamil di luar nikah sepertiku, sangat memalukan?"
Darren menghembuskan napas pelan. Rasa bersalahnya kini kembali muncul. "Tidak! kamu hanya korban, jadi jangan berpikiran macam - macam!" kata Darren sambil memeluk Kiran.
"Tapi......"
"Ssst! Yang memalukan itu aku, Sayang. Karena aku yang sudah menghancurkanmu," bisik Darren. Suaranya parau karena ia menahan tangis.
"Tapi ucapan, Mbak Shelvi membuatku sedih, Mas. Rasanya aku seperti wanita menjiji...."
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu! karena kamu wanita yang luar biasa dan hebat," ujar Darren sambil menangkup kedua pipi Kiran. Tatapan matanya begitu dalam dan serius. Sehingga membuat Kiran pun mulai terlena.
"Benarkah?"
"Ya! Mulai sekarang jangan dengarkan apapun yang membuatmu merasa terluka. Dan ingat ini baik - baik, Ran! Katakan kepadaku siapapun yang nantinya membuatmu bersedih,"
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku akan menghancurkannya untukmu."
*****
"Lagi - lagi kamu pulang terlambat. Mau jadi apa kamu, Shelvi!" tanya Bara tatapan matanya begitu tajam menatap Shelvi yang baru saja menginjakkan kakinya di ruang tamu.
Shelvi tampak acuh, ia bahkan tidak mempedulikkan kemarahan Bara. Shelvi berjalan santai menuju ruang makan. ia duduk di salah satu kursi lalu menuang air putih dari sebuah teko.
"Shelvi! kamu harus jawab pertanyaan papi!" bentak Bara. ia merebut gelas dari tangan Shelvi. Bara benar - benar merasa gagal menjadi seorang Ayah. Terlebih lagi ketika ia melihat penampilan acak - acakan Shelvi saat pulang.
"Apa sih, Pih? Aku tuh cape kalau setiap hari harus di marahi seperti ini. Dan Aku tuh sudah muak dengan semua peraturan yang Papi buat," balas Shelvi. Suaranya meninggi dan aura kemarahan pun mulai menguasai hatinya.
"Papi membuat peraturan demi kebaikan kamu, Shel! Mau jadi apa kamu kalau terus seperti ini, ha?"
"Papi nggak usah ikut campur sama kehidupan aku deh. Terserah aku mau jadi apapun!" ujar Shelvi sambil bersedekap. Matanya memincing tajam. Tanpa mempedulikan perasaan Bara.
Bara menghembuskan napas panjang. ia menyugar rambutnya ke belakang lalu berkacak pinggang. Tatapan mata Bara beralih pada ceruk leher Shelvi yang terdapat bercak kemerahan.
Bara membulatkan matanya. Napasnya memburu, rasa kecewa dan marah pun seolah - olah mengalir deras memenuhi hatinya. Bara menggeram frustasi, tangannya mengepal kuat hingga otot - otot terlihat jelas.
"Apa yang baru saja kamu lakukan, Shelvi?!" tanya Bara. Suaranya terdengar rendah tapi sarat akan emosi.
Shelvi menaikan sebelah alisnya. ia bersedekap dan tatapan matanya. Semakin tajam ketika beradu pandang dengan Bara. Shelvi mulai merasa takut saat napas Bara mulai semakin memburu.
"Aku baru saja main dengan temanku. kenapa memangnya?" tanya Shelvi sembari menatap waspada ke arah Bara.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.