
Daniel menatap intens wajah Citra yang kini sudah bersimbah air mata. Perasaan cinta yang begitu besar untuk Citra, kini perlahan - lahan surut tertelan kekecawaan. Daniel tidak menyangka jika Citra akan bertindak begitu licik.
"Kamu ingin mengorbankan diriku, untuk menutupi aib mu, Cit? Astaga, aku tidak menyangka, kamu tega melakukan hal itu," tukas Daniel sambil tersenyum miring.
"M..mas bukankah kamu mencintaiku, aku mohon, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa," lirih Citra ia menunduk sembari berdiri di depan Daniel.
"Cinta? Kamu benar, aku memang mencintaimu, tapi bukan berarti aku bersedia bertanggung jawab Cit. Aku bahkan tidak melakukan apapun padamu,"
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Mas? Aku harus minta tolong dengan siapa lagi?"
"Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Demi Tuhan, Cit. Aku tidak mau menikahi wanita yang sedang menggandung anak dari pria lain,"
"Aku tahu aku salah karena sudah meminta hal yang mustahil padamu, Mas. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau keluargaku menderita hanya karena aku," ujar Citra, dengan wajah yang tampak begitu frustasi.
"Kamu tidak ingin membuat keluargamu menderita? lalu bagaimana denganku? Kamu pikir aku adalah pria yang sangat baik hingga rela menikahi wanita yang sudah ternoda?"
"Mas...., aku janji akan melakukan apapun. Aku bersedia menuruti semua perintahmu. Tapi aku mohon, tolong aku." ujar Citra sembari berlutut di depan Daniel.
Citra menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Rasanya ia tentu sangat malu dengan Daniel. Namun, dirinya tidak punnya pilihan lain selain meminta pertolongan kepada pria yang ada di depannya saat ini.
Daniel menghembuskan napas pelan. Ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian berkacak pinggang.
"Maaf Cit. Aku tidak bisa membantumu. Aku tidak mungkin menikahi wanita yang sedang hamil sepertimu,"
"Mas....,"
Daniel menoleh, hatinya hampir goyah saat melihat wajah menyedihkan Citra.
"Aku tetap tidak bisa membantumu. Lagi pula, saat ini aku sudah memiliki kekasih," kata Daniel yang sukses membuat Citra membelalakan matanya.
__ADS_1
Bibir Citra bergetar karena menahan isak tangis yang siap keluar kapan saja. Tangannya pun gemetar merasakan sakit yang begitu besar di hatinya.
Kini harapan Citra musnah sudah. Selain terluka, karena mendengar ucapan Daniel. Ia juga merasa malu, jiwanya seolah tertampar oleh sebuah kenyataan.
"Kenapa aku bisa berbuat hal sebodoh seperti ini, Mas? Mas Daniel tidak bersalah lalu untuk apa aku memohon - mohon begini," gumam Citra. Ia terkekeh hambar sembari menundukkan kepala.
"Aku memang mencintaimu, tetapi aku juga tidak bisa menikah denganmu, Cit." kata Daniel sembari berjongkok di depan Citra. Tersenyum sendu sembari menepuk puncak kepala Citra.
"Maaf, Mas. Maaf karena aku sudah membuatmu tidak nyaman. Maaf juga karena aku sudah meminta hal gila padamu," lirih Citra. Ia tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandangannya dari Daniel.
"Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan Pria yang tepat. Aku pergi dulu, kekasihku sudah menunggu di sana," ucap Daniel sembari menatap ke arah seorang wanita yang cantik.
Citra mengikuti arah pandang Daniel. Hatinya mencelos dan perasaan malu semakin menjadi - jadi di hatinya.
"Maafkan aku," lirih Citra.
"Aku juga minta maaf karena sudah membantakmu tadi. Sekarang pulanglah! Maaf aku tidak bisa mengantarmu," kata Daniel sembari pergi meninggalkan Citra.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku malu, bahkan rasanya aku seperti seorang ******. T... Tapi aku tidak punya pilihan lain," lirih Citra dengan suara yang begitu parau.
Sementara Daniel ia terus berjalan tanpa mempedulikan Citra. Daniel menghembuskan napas panjang kemudian menyugar rambutnya ke belakang.
"Maaf, karena aku sudah menjadi pria pengecut yang tidak bisa melindungi mu, Cit."
"Dia siapa, Mas?" tanya Bunga ketika Daniel sudah berdiri di depannya. Ia menatap heran ke Citra yang masih terduduk di lantai.
"Bukan siapa - siapa cuma temen," jawab Daniel sembari menyunggingkan senyum tipis. Ia mengangkat tangannya lalu mengusap pelan pipi Bunga.
Setelah perkenalan mereka beberapa minggu yang lalu, Daniel memutuskan untuk membuka hati untuk Bunga. Oleh karena itu, ia selalu bersikap lembut saat berhadapan dengan Bunga.
__ADS_1
"Teman apa maksudmu? Tidak mungkin hanya karena teman kamu sampai rela berjongkok seperti tadi. Apa dia seorang yang spesial di hidupmu?" tanya Bunga lagi. Kali ini ia menatap lurus ke arah Citra.
"Dia memang hanya teman, Bunga. Dulu kami memang sempat dekat, tapi sekarang tidak," balas Daniel. Ia tersenyum kecut karena sedari tadi Bunga terus memperhatikan Citra.
"Lalu kenapa dia menangis seperti itu? Sepertinya dia sedang ada masalah. Ayo kita darangi!" Ajak Bunga menggandeng lengan Daniel dan berniat menghampiri Citra.
"Tidak perlu! Lebih baik kita langsung pergi saja dari sini. Katanya kamu mau pergi ke taman hiburan, kan?"
"Iya, tapi aku kasihan liat dia begitu, Mas. Wajahnya terlihat sangat menderita." sambung Bunga. Kini rasa penasarannya semakin menguat di hatinya. Ia merasa jika di antara Daniel dan Citra ada hal besar yang di sembunyikan.
"Bunga..."
"Kamu kenapa sih, Mas? Aku kan hanya ingin membantu dia saja. Tapi kok, sepertinya kamu nggak suka banget? Atau jangan - jangan ada hal yang kau sembunyikan dariku?" tanya Bunga sembari menatap penuh selidik ke arah Daniel.
Daniel terdiam. Ia merasa sedikit gugup, tetapi setelahnya ia menormalkan ekspresi wajahnya. Daniel menghembuskan napas panjang lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku sedang kalut, Bunga. Jadi tolong jangan memikirkan hal yang tidak - tidak dulu! Sekarang ayo aku antarkan kamu pulang,"
"Benar dugaanku. Kamu memang tidak benar - benar mencintaiku, kan. Ah, seharusnya aku tidak menerima kamu," pungkas Bunga. Ia bersedekap kemudian mengalihkan pandangannya dari Daniel.
Daniel menyugarkan rambutnya ke belakang ia memejamkan mata sejenak kemudian tersenyum manis. Ia mendekatkan wajahnya dengan Bunga lalu mengecup pipinya singkat.
"Jangan bicara sembarangan, Sayang! Kalau aku tidak cinta mana mungkin aku mengajak menjalin hubungan, hm?" Daniel terkekeh pelan. Terlebih lagi ketika ia melihat rona merah di pipi Bunga.
"Benarkah, kalau begitu biarkan aku menemuinya dulu. Aku kasihan sekali melihatnya, Mas. Apalagi dari tadi ia menjadi pusat perhatian," ungkap Bella kini senyumnya merekah sempurna.
Daniel tidak punya pilihan lain. Ia mengangguk kemudian merangkul pundak Bunga. Jantung Daniel berdebar dan dadanya pun mendadak sesak. Entah mengapa, ia tidak tega saat melihat Citra menatapnya dengan tatapan penuh luka. Namun, hei! Ia juga terluka karena ulah Citra. Jadi, semuanya impas bukan?
"Hei, kamu baik - baik saja?" tanya Bunga sembari menatap Citra. Ia mengulurkan selembar tisu untuk Citra.
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan vote