Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Penculikkan


__ADS_3

Tadi setelah pulang bertemu dengan Bastian, Darren memutuskan untuk menyusul Kiran tentu saja ia sudah berkomunikasi terlebih dahulu dengan Luna. Niatnya sih mau memberikan kejutan untuk Kiran. Namun, nyatanya Kiran justru marah.


"Sayang, jangan marah lagi dong!" Kata Darren. Ia mencekal pergelangan tangan Kiran.


"Aku nggak marah, Mas. Aku hanya kecewa denganmu. Okelah, mungkin hal ini sangat biasa untukmu, tapi tidak denganku, Mas. Aku takut, aku juga sangat cemas saat melihat mu terus mengikutiku," rancau Kiran yang kini matanya sudah mulai berkaca - kaca.


"Ran, aku sunggung tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya ingin memberikan suprise saja untukmu. Maaaf kalau aku sudah membuatmu.ketakutan, "


Kiran tidak membalas ucapan Devan. Ia justru menangis sembari menundukkan kepada Kanaya. Meski hanya hal sepele, tetapi Kiran merasa hatinya tudak karuan.Apalagi, beberapa hari ini ia sudah cemas memikirkan marahabaya yang siap menimpa keluarganya kapan saja.


"Jangan menangis! Aku meminta maaf, Ran. Aku janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." kata Darren sambil menarik Kiran kedalam pelukannya.


"Aku cemas, Mas. Aku juga merasa gelisah. Apalagi akhir - akhir ini. Aku merasa ada rasa bahaya yang datang pada keluarga kita," Aku takut," ia membalas pelukkan hangat Darren.


Darren tercekat setelah mendengar ucapan Kiran. Selama ini Darreen tidak mengatakan apa pun tentang Kevin dan antek - anteknya. Lalu, kenapa Kiran bisa merasakannya?


Darren mengusap lembut punggung Kiran ia mengecup singkat kening Kiran kemudian berkata, " Kamu tidak perlu cemas, Sayang. Tidak akan ada bahaya yang menimpa keluarga kita."


"Tapi, bagaimana kalau tiba - tiba ada bahaya, Mas? Aku sangat takut tidak mau kehilangan kamu atupun Arka" ujar Kiran yang masih merasa takut dan resah.


"Kita akan selalu bersama. Aku janji" jawab Darren.


"Apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan aku atau pun Arka,"


"Iya, Sayang aku akan selalu ada untuk kamu dan anak kita.,"


"Terima kasih banyak..Jangan pernah berubah ya! Jadi tetap cintai aku yang seperti ini."


"Tentu saja. Tapi sekarang kamu jangan marah lagi ya! I love you," ucap Darren.


"I love you more, Mas"


***


Beberapa hari setelah Kiran pergi bersama dengan Luna. Kini kedaan Kiran sudah mulai membaik. Ia tidak lagi cemas memikirkan hal - hal yang buruk.


"Ran, aku berangkat kerja dulu. Jangan kemana - kemana, tanpa izin dariku!" Kata Darren sebelum ia berangkat bekerja.


"Iya, hati - hati di jalan, Mas." jawab Kiran.


"Hm, nanti ada orang yang akan menjaga Arka."


"Iya terima kasih, nanti siang mau aku bawakan makan siang, Nggak?" tanya Kiran. Setelah ia menyalami tangan Darren.


"Boleh.."


"Baiklah, nanti aku akan antar untukkmu,"


"Hm, aku berangkat ya."

__ADS_1


Kiran melengkungkan senyuman manis, sembari menatap kepergian Darren. Setelah mobil yang di kendarai oleh Darren sudah tidak terlihat lagi, barulah Kiran memasuki rumah.


Sesuai dengan perkataan Darren, tidak lama setelah Kiran masuk Seorang wanita datang dan mengaku sebagai babbysitter yang di sewa oleh Darren.


Setelah berbincang beberapa saat, Kiran menyerahkan Arka pada Lili, babysitter barunya tersebut. Namun, Kiran tetap mengawasinya.


Hari terasa begitu cepat berlalu. Setelah menidurkan Arka. Kiran bergegas bersiap menyiapkan makan siang untuk di bawa ke kantor Darren. Dan setelah semuanya siap Kiran pun berpamitan pada Lili.


"Mbak, tolong jagain Arka ya, kalau haus aku sudah siapin ASI." ucap Kiran pada babysitter barunya itu.


"Baik, Bu."


"Aku berangkat."


Kiran berjalan keluar rumah. Ia menghela napas pelan saat teringat jika hari ini supir yang berada di rumah Kenzo, semuanya sedang pergi. Ada yang mengatar Papa Kenzo dan Mama Helena yang sedang pergi, dan ada yang mengantar Luna juga.


Oleh karena itu, Kiran tidak punya pilihan lain, maka Kiran pun memutuskan untuk mencari taksi. Untungnya, tepat setelah ia keluar dari pintu gerbang, sebuah taksi sudah berhenti tak jauh dari rumah.


Tanpa rasa curiga sedikit pun Kiran bergegas mendekati taksi tersebut. Ia tersenyum lega jika sang supir tidak sedang menunggu penumpang siapa pun.


Akhirnya, Kiran pun masuk. Ia duduk manis sembari menghubungi Darren, jika dirinya akan segera sampai. Tidak lupa juga dia mengambil foto selfie dan mengirimkannya kepada Darren.


"Loh, ini bukan jalan ke kantor Suami saya, Pak. Ini sudah terlalu jauh," ujar Kiran yang mulai sadar jika taksi yang ia tumpanginya sedikit mencurigakan.


"Memang siapa yang ingin membawamu ke tempat suamimu." tanya seorang supir taksi itu, sembari melirik ke arah Kiran.


"Apa maksudmu, Pak?" jawab Kiran.


Kiran terlonjak kaget saat sang supir taksi itu mengerem mendadak. Kiran menatap keluar jendela. Matanya membulat sempurna saat melihat rimbunnya pepohonan.


"Siapa kamu sebenarnya? Dan apa tujuan mu membawaku? Ah, atau kau sengaja berhenti di dekat rumah ku untuk melakukan ini." tanya Kiran.


Sopir taksi tersebut menoleh. Ia kemudian menyeringai sehingga membuat Kiran semakin ketakutan.


"Tentu saja. Aku sangat beruntung karena berhasil menculikmu. Dengan begini Kevin pasti akan membayar mahal diriku," jawab sang supir taksi.


"Kevin?" gumamnya pelan.Kemudian Kiran membelalakan matanya, ia bergegas membuka pintu taksi dan bersiap untuk kabur. Namun, sayangnya pintu terkunci dan Kiran tidak bisa melarikan diri.


"Kamu tidak akan bisa pergi dari sini!"


"Tolong! Tolong! Tolong! " Teriak Kiran berharap ada yang bisa menolongnya.


Kiran berteriak sekuta tenaga, tetapi tidak ada satupu orang yang mendengarnya. Di tengah rasa putus asanya Kiran mulai menghubungi Darren lagi. Ia mengetikan beberapa kata. Namun, terlambat.


"Jangan macam - macam!" Bentak sang supir itu pada Kiran. Sembari merebut ponsel Kiran. Setelah itu, ia pun merusaknya hingga terbelah menjadi dua bagian.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya Kiran. Ia mencoba bersikap tenang meski saat ini hatinya sedang gelisah bukan main.


"Tentu saja untuk menghabisimu dan juga Darren."

__ADS_1


****


Sudah dua jam lamanya Darren menunggu kedatangan Kiran. Namun, Istrinya itu tidak menunjukkan tanda - tanda kehadiran. Tentu saja Darren khawatir. Apalagi sejak tadi Kiran tidak ada kabar sama sekali.


Darren menatap gusar ke arah pintu ruang kerjanya, ia menghela napas pelan kemudian kembali menatap ke arah ponsel layar. Darren memijat pelipisnya yang mendadak pening.


"Apa mungkin Kiran belum berangkat. Tapi dua jam lalu dia mengirim pesan sedang dalam perjalanan," gumam Darren.


Darren mengusap wajahnya pelan. Ia termenung sembari menumpukkan kepalanya pada meja. Kali ini, entah kenapa Darren mendadak gelisah.


"Kamu kenapa, Kak Darren?" tanya Daniel yang baru saja masuk ke ruang kerja Darren dan sembari membawa setumpuk dokumen.


Saat ini Daniel, memang masih menjadi sekretaris pribadi Darren. Ia memilih bekerja dengan Darren sebelum nanti Darren mendapatkan pengganti dirinya.


Darren mendongak dan menatap Daniel. dan berkata, " Aku sedang mengkhawatirkan Kiran, Niel?"


"Khawatir kenapa?" tanya Daniel lagi. Ia meletakkan dokumen di atas meja Darren. Setelah itu, ia pun duduk sembari menatap wajah Darren.


"Sudah lebih dari dua jam, Kiran belum sampai kesini, Niel? Padahal tadi dia sudah bilang kalau dia sedang dalam perjalanan," ucap Darren.


Daniel terdiam setelah mendengar ucapan Darren. Aneh rasanya jika Kiran belum sampai dan sudah dua jam berlalu. Pasalnya, jarak antara rumah Kenzo dan Kantor bisa di tempuh dalam waktu 45 menit.


"Kamu sudah menghubungi orang rumah?"


"Aku belum memghubungi siapapun, Mama, Ayah, dan Luna kan sedang tidak ada di rumah, Niel. Mungkin saat ini hanya ada babysitter Arka."


"Tunggu! Kamu meninggalkan Arka sendiri dengan seorang babysitter? Jangan gila kamu, Kak Darren?!" Sentak Daniel. Sembari menatap tajam ke arah Darren.


"Kamu pikir aku bodoh, Niel. Sebelumnya aku sudah menyuruh orang untuk mengawasi orang itu. Kamu tenang saja, lagi pula aku sudah memastikan kalau orang itu adalag orang baik,"


Daniel berdecak pelan, ia bersedekapa lalu menatap Darren dengan datar. " Lain kali jangan mudah percaya dengan seseorang, Kak Darren? Belajarlah dari masa lalu." ucap Daniel.


"Hm, dari pada kamu disini menceramahiku lebih baik kamu keluar saja, Niel!" Ujar Darren sembari menunjuk ke arah pintu.


"Sial! Kamu memang tidak tahu berterima kasih, Kak Darren!" Teriak Daniel kesal.


"Ya, terima kasih atas pujiannya," balas Darren sembari menatap malas ke arah Daniel.


"Brengsek! Ngomong - ngomong, kapan kamu akan menghubungi orang rumah? Siapa tahu Kiran tidak jadi datang kesini,"


"Tapi bagaimana kalau Kiran tidak ada di rumah, Niel? Kamu tahu ke mana dia?"


"Coba saja dulu. Aku yakin Kiran tidak akan berani pergi kemana - mana tanpa izin dari kamu," balas Daniel.


Darren menganggukan kepala. Setelah itu ia pun mulai menghubungi seseorang yang sekiranya sedang berada di rumah. Darren memutuskan untuk menghubungi seorang satpam yang cukup ia percaya.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2