
"Tidak perlu saya bisa mengatasinya sendiri. Lagi pula beberapa hari ini Ayah sangat sibuk. Jadi dia tidak akan melakukan hal buruk."
"Ya sudah kalau begitu aku serahkan semua padamu. Tapi kalau kamu membutuhkan pertolongan, jangan sungkan menghubungiku!"
"Ya. Tapi sebelumnya apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Arya sembari bersedekap dan menatap datar ke arah Darren.
"Apa itu?"
"Bisakah kamu mengundang Ayah dan Ibu saya saat acara syukuran Arka? Saya ingin membuatnya bertemu dengan Kiran."
"Kamu yakin, Arya? Ah.. maksudku, apa tidak masalah kalau kita melakukan hal itu. Aku takut Kiran terkejut dan marah."
"Saya sangat yakin, Darren. Dan menurut saya itu adalah satu - satunya cara agar mereka bertemu. Ya, anggap saja kita berpura - pura tidak tahu kalau ternyata Ayah saya adalah Ayah kandung Kiran.
"Jadi maksudmu, kita - kita berpura - pura tidak merencanakan ini semua?"
"Ya. Kamu benar."
Darren menganggukan kepala. Setelah itu ia pun berkata, " Boleh juga, kalau begitu baiklah, aku akan mengundang keluargamu.
"Ya terima kasih. Saya berharap semuanya berjalan sesuai rencana.
Darren menganggukan kepala. Ia yakin rencana mereka akan berjalan dengan baik.
Setelah itu, keduanya pun berbincang - bincang membahas banyak hal. Setelah cukup lama, Arya pun pamit undur diri.
Arya berencana ingin langsung menemui Pandu. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Pandu saat ia menujukkan foto masa lalu miliknya.
"Aku yakin, Ayah pasti akan terkejut setelah melihat ini," gumam Arya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya Arya sampai di perusahaan milik Pandu. Tanpa menunggu lama, ia langsung bergegas menuju ruang kerja Pandu yang terletak di lantai 14.
Arya tersenyum miring setelah sampai di depan ruang kerja Pandu. Tanpa permisi, ia langsung membuka pintu dengan kasar.
Brak!
"Hei pria tua! Sekarang tamatlah riwayatmu!," Tukas Arya sambil menyeringai dan berjalan mendekati Pandu.
__ADS_1
"Apa - apaan kamu,Arya?! Apa kamu tidak punya sopan santun, ha?!" Tanya Pandu, ia marah saat melihat Arya membuka pintu ruangannya secara paksa.
"Kalau iya kenapa? Saya rasa tidak perlu sopan dengan pria yang tidak bertanggung jawab sepertimu,"
"Apa maksudmu, Arya? Jangan berbicara yang tidak - tidak!"
"Saya tidak bicara yang tidak - tidak. Saya memiliki alasan kenapa saya mengatakan hal itu padamu,"
"Alasan apa yang kamu maksud itu, Arya? Sekarang keluarlah dari sini! Ja....."
"Ini fotomu, bukan?" tanya Arya sambil menyodorkan foto Pandu dan Larasati. Ia menyeringai saat Adam reflek terdiam setelah melihat foto tersebut.
"A.....Arya? Darimana kamu mendapatkan foto ini?"
"Dari putri sulungmu?"
"Apa?! Kau pasti berbohong!"
"Tidak. Saya....."
"Saya tidak akan mengatakannya sekarang. Saya akan mengatakannya jika kamu sudah benar - benar mengakui itu semua!" Ujar Arya dengan tegas.
Pandu menghembuskan napas panjang. Di tatapnya foto pernikahan yang sudah cukup usang, tetapi masih terlihat dengan jelas itu. Pandu memejamkan mata sejenak. Ingin rasanya ia mengakui semuanya. Namun, perasaan gengsi dan takutnya semakin besar.
Pandu gengsi mengakui kalau dirinya dulu hanyalah orang desa biasa. Ia juga takut jika Lesti akan marah mengetahui kebenarannya.
Pandu memijat pangkal hidungnya. Wajahnya tampak begitu sayu. Pikirannya pun begitu kalut. Hingga akhirnya ia memutuskan sesuatu.
"Benar, ini semua foto milik Ayah. Dan semua yang kamu tuduhkan itu benar. Larasati dan Zivanna adalah keluarga Ayah."
"Apa Ayah tahu ada seorang wanita yang menderita karena ulah Ayah ini?" tanya Arya. Napasnya memburu setelah mendengar pengakuan Pandu.
"Ibumu tidak tahu tentang hal ini. Jadi Ayah pikir dia tidak mungkin menderita!"
"Saya sedang tidak membicarakan ibu, saya sedang membicarakan putri sulungmu yang sangat menderita. Dia kehilangan Ibu dan juga Adiknya,"
"Kalau begitu ayo bawa Ayah untuk menemuinya. Ayah ingin memastikan apa benar dia memang anak Ayah atau anak dari pria lain?"
__ADS_1
"Apa maksud Ayah? Kenapa Ayah tega berbicara seperti itu? Dia benar - benar anakmu."
"Dunia ini licik, Arya. Bisa jadi ia hanya mengarang cerita untuk mengambil yang semua Ayah miliki," kata Pandu. Namun, entah kenapa merasa terluka setelah mengatakan hal tersebut.
Arya menghembuskan napas panjang. Ia meyugar rambutnya ke belakang. Tatapan matanya begitu tajam dan datar saat beradu pandang dengan Pandu.
Arya marah, ingin rasanya ia menghajar dan membawa Pandu untuk menemui Kiran. Ia sangat yakin, Pandu akan percaya setelah bertemu dengan Kiran.
"Apa harta jauh lebih penting, dari pada sebuah keluarga, Yah?" tanya Arya setelah ia merasa cukup tenang.
"Tentu saja! Ayah sudah bersusah payah untuk mencari kekayaan. Eh.., tiba - tiba datang seorang anak yang mengaku sebagai anak Ayah. Bukankah hal itu patut untuk di curigai!"
"Tapi dia tidak mengakuimu menjadi seorang Ayah. Bahkan, dia juga tidak tahu kalau Ayahnya ternyata masih hidup sampai saat ini." balas Arya, ia duduk di sofa sambil menatap lurus ke Pandu.
"Kalau begitu baguslah. Seharusnya kamu juga senang, Arya. Kalau dia tidak ada, maka semua harta Ayah yang Ayah miliki akan menjadi milikmu. Yah..., itu pun kalau kamu pantas mendapatkannya."
"Saya tidak butuh harta darimu! Dan satu hal lagi yang perlu Ayah ingat! Tidak akan lama lagi semuanya akan terbongkar. Seluruh dunia pasti akan tahu kalau Ayah hanyalah seorang pria yang pengecut yang meninggalkan anak istrinya demi harta.
"Ayah tidak pernah meninggalkan siapapun mereka saja yang bodoh! Larasati dan Zivanna tidak mencari Ayah. Jadi..."
Brak!
Arya dan Pandu menoleh ke arah pintu. Keduanya terkejut saat melihat Lesti bersedekap sembari berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak masam, bahkan raut kemarahan terlihat jelas dari wajahnya.
"Jadi ternyata benar kamu sudah mempunyai Anak dan Istri setelah kamu menikah denganku,?" tanya Lesti. Ia tersenyum simpul sambil menatap ke arah Pandu.
" Lesti? Sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Pandu balik. Wajahnya mendadak menjadi panik. Berbeda dengan Arya yang kini justru tersenyum saat melihat Lesti.
"Sejak kalian berdua berdebat di situ. Yah sebenarnya aku hanya ingin mengunjungi, Mas. Tapi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian dari celah pintu.
"Lesti aku bisa menjelaskannya padamu. Aku sungguh...." Pandu menghentikkan ucapannya saat Lesti mengangkat tangan. Lesti bersedekap, setelah itu berjalan mendekati Pandu.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Aku tahu semuanya. Terus terang, aku sangat kecewa dengan semua kebohongan kamu, Mas. Seandainya kamu jujur, mungkin aku tidak akan sekecewa ini," ujar Lesti ia menghembuskan napas pelan kemudian menatap Arya yang kini sedang menatapnya.
"Maaf Lesti. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya takut kamu marah dan meninggalkan aku. Itu saja," kata Pandu. Ia menatap penuh harap ke arah Lesti.
Jangan lupa like komen dan vote.
__ADS_1