Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Hancurnya sebuah kepercayaan


__ADS_3

"Ran! kamu jangan berbicara seperti itu! Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Aku minta maaf, Sayang. Aku..." Wajah Darren berubah menjadi cemas. ia benar - benar tidak menyangka jika semuanya akan berakhir dengan begitu rumit.


"Bukankah sekarang sudah sesuai dengan surat perjanjian itu, Mas? Tenang saja, Aku tidak akan marah atau melarangmu untuk dekat dengan Shelvi," kata Kiran senyumannya begitu tulus, tetapi matanya memancarkan luka yang begitu dalam.


"Sayang jangan bicara seperti itu! Maafkan aku," bisik Darren sembari merengkuh tubuh Kiran


"Tidak perlu meminta maaf. Bukankah disini aku yang bersalah, Mas? Aku terlalu banyak berharap kepadamu. Ah, Tapi ya sudahlah," kata Kiran ia terkekeh hambar kemudian melepaskan pelukkan Darren.


Kiran berbalik, ia membelakangi Darren kemudian mengusap air matanya dengan kasar. Setelah itu, Kiran pun berjalan menuju keluar kamar.


"Seharusnya aku tidak perlu berharap banyak dengannya. Dia memang sudah berjanji , tapi kalau seperti ini, apa gunanya? " bantin Kiran. Dadanya mulai menahan sesak yang begitu mematikan.


******


"Ran, kamu kenapa? dari tadi mama perhatikan, Kok dari tadi kamu murung gitu?" tanya Helena sambil menatap Kiran


"Aku tidak apa - apa, Ma. hanya sedang lelah saja," jawab Kiran sembari mengulas senyum tipis.


Helena mengernyitkan dahi lalu menatap wajah lekat Kiran. Helena mengangguk pelan, ia memang melihat raut lelah dari wajah maupun sorotan mata Kiran.


"Kalau begitu kamu istirahat saja sana. Biar nanti mama yang membereskan meja makan," ucap Helena.


"Iya, Ma. Tapi sebaiknya mama beristirahat saja. Besok pagi, Kan Mama akan pergi jauh," kata Kiran mengambil alih piring kotor di tangan Helena.


"Tapi, Ran....."


"Jangan khawatir, Ma. Aku baik - baik saja,"

__ADS_1


"Benarkah? Tapi kalau kamu lelah, biarkan saja meja makan di bereskan oleh bibi ya. Kamu istirahat gih!"


Kiran menganggukan kepala. Setelahnya ia membawa beberapa piring kotor ke dapur. Saat melewati kamar tamu, mata Kiran tidak sengaja melihat Darren yang sedang membawakan makanan untuk Shelvi.


Kiran terkekeh pelan. ia mendongak untuk menahan air matanya yang menggenang di pelupuk mata. Kiran menggeleng pelan. "Astaga, Ran. Seharusnya kamu sadar diri! Mana mungkin seorang pembantu bisa jadi ratu." gumam Kiran.


Sementara di kamar Shelvi. Darren berdecak kesal. ia yang berencana membujuk Kiran justru harus tertunda. Sebab, Shelvi memintanya untuk membawa makanan.


"Lain kali jangan manja, Shel! Kamu bisa bergabung dengan kami saat makan malam tadi." kata Darren.


"Tapi aku malu, Darren. Lagi pula aku merasa yang menerimaku disini hanya kamu. Jadi aku tidak bisa meminta tolong kepada yang lain."


"Hm, Lain kali jangan seperti ini lagi. Nanti, Kiran bisa salah paham," ujar Darren sembari berjalan keluar dari kamar Shelvi.


Darren menghembuskan napas panjang. ia memutuskan untuk menuju kamar untuk membujuk Kiran. Namun, Sayangnya ia tidak menemukan Kiran sama sekali.


Bahkan, Darren pun tidak menemukan Kiran di kamar mandi. "Apa mungkin dia masih di bawah? Ah, tadi aku lihat tidak ada siapa pun," gumam Darren.


Darren mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Matanya membulat, ia terkejut melihat Kiran menangis terisak sembari menatap sebuah foto. Hati Darren begitu tersayat, apalagi ketika ia mendengar rintihan kecil dari bibir Kiran.


"Maafin Mama ya,Nak. Malam ini kita tidur disini. M..Mama takut menganggu papamu yang sedang bersama wanita lain," lirih Kiran sembari mengusap lembut perutnya.


Darren menutup kedua matanya dengan tangan ia menghembuskan napas panjang lalu bersandar pada dinding. "Apa keputusanku membawa Shelvi ke rumah ini salah besar?"


gumam Darren


"Kalau nanti papa tidak menginginkan kita lagi. Kamu harus janji jadi anak pintar ya, Nak! Jangan membuat Mama kesus...."

__ADS_1


"Zivanna Kirannia!!! Hentikan omong kosongmu itu, Kiran!" bentak Darren. ia membuka pintu kamar Kiran dengan kasar. Tatapan matanya begitu tajam karena rasa marah yang tidak tertahankan.


Darren emosi setelah mendengar ucapan Kiran. ia pun tidak terima karena seolah - olah dirinya begitu bersalah dan tidak bisa di maafkan lagi. "Apa maksud ucapanmu itu, hm? Demi Tuhan, Ran! Aku hanya membawa Shelvi kerumah ini karena kasihan," ucap Darren matanya memincing tajam, Sehingga membuat Kiran pun menunduk dan merasa ketakutan.


"K..Kenapa kamu datang kesini, Mas? Bukankah kamu sedang sibuk bersama dengan Shelvi?" tanya Kiran suaranya terdengar lirih, tapi masih begitu jelas di dengar di telinga Darren.


"Kenapa kamu selalu mempermasalahkan shelvi, Ran? Dia sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan berbuat buruk padamu lagi. Apa itu kurang, hm?" tanya Darren ia berjongkok di depan Kiran yang sedang duduk di lantai. Tangan Darren terulur ia mencengkram erat dagu Kiran.


"Siapa yang mempermasalahkan Shelvi, Mas? Aku hanya bertanya saja. Kalau kamu tidak suka jangan marah seperti ini," kata Kiran ia menyentuh tangan Darren. Tatapan matanya begitu sendu seolah - olah luka yang begitu besar memancar dari sorot matanya.


"Tidak mempermasalahkan katamu? Kalau memang begitu, seharusnya kamu tidak begini, Ran. Kamu sangat egois, tahu tidak." balas Darren sambil mengepalkan tangannya.


"Kamu bilang aku egois? Siapa sebenarnya yang egois disini, Mas? Bukankah kamu yang terlalu mementingkan hidupmu sendiri?" tanya Kiran ia beranjak dan berdiri. Sorot matanya layu, Sebab Kiran sudah terlanjur lelah dan kecewa.


"Tentu saja kamu yang egois,Ran. Hanya karena aku membawa Shelvi kerumah ini, Kenapa kamu marah, hm? Coba bayangkan! bagaimana kalau kamu yang berada di posisi dia?" tanya Darren. Suaranya mengalun rendah, tetapi sarat akan emosi.


"Katakan, Mas! istri mana yang tidak marah saat melihat suaminya membawa wanita lain kerumah, hm? Terus terang aku terluka. Dan Aku tidak menyangka kamu akan melakukan ini," jawab Kiran. ia menunduk dengan bahu yang bergetar hebat.


Kiran menangis, tapi sayangnya Darren justru tampak acuh dan tidak peduli. isak tangis Kiran yang begitu memilukan, tidak membuat Darren merasa iba sama sekali. Hati dan matanya seolah sudah buta tertutup oleh kemarahan.


"Dan lagi, apa menurutmu kamu akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi Shelvi, hm?" tanya Kiran.


Darren terdiam. Tatapan matanya begitu sulit di artikan. Lama menunggu, tetapi Darren tak kunjung menjawab. Alih - alih menjawab Darren hanya menatap datar ke arah Kiran.


Melihat hal itu, Kiran pun terkekeh hambar. ia menggelengkan kepala pelan lalu menepuk pundak Darren. "Sudah aku duga, mana mungkin kamu sudi melakukannya hanya untuk seorang pembantu sepertiku," kata Kiran


"Jangan mengatakan hal yang semakin membuatmu terlihat begitu rendah, Ran! Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Sekarang kamu bukanlah pembantu. kamu itu istriku," balas Darren. Suaranya terdengar begitu datar.

__ADS_1


"Istri, kamu menganggapku sebagai seorang istri, kan? Kalau begitu bawa Shelvi, pergi dari sini, Mas. Aku tidak mau tinggal satu rumah dengan wanita itu," kata Kiran suaranya terbata - bata.


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2