Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Perkelahian


__ADS_3

"Kamu memang sangat lemah, Darren."


"Kenzo dan keluarganya memang sangat lemah. Cih! Setelah ini akan aku rebut apa yang akan menjadi hakku!" tukas Niko sembari tersenyum miring menatap Darren.


"Benar Om, ha....."


Niko terkejut sampai tak sadar jika ia kini sudah mundur beberapa langkah.Di depannya sudah ada Alex dan Bastian tampak berdiri dengan senjata api di masing - masing tangannya.


"Alex? Ternyata kamu masih hidup, aku pikir kamu sudah mati," ketus Niko.


"Justru kamu yang akan mati, bodoh!"


"Oh ya? Kita lihat saja nanti," ucap Niko sambil memberikan aba - aba pada anak buahnya untuk menyerang Bastian dan Alex.


Niko tersenyum penuh kemenangan saat Alex kewalahan.


"Kau pikir aku selemah itu, Alex? Cih... hari ini aku pastikan kamu akan binasa di tanganku."


Napas Alex tersengal, keringat pun kini sudah mulai membasahi dahinya. Alex menyesal karena sudah meremehkan Niko. Ia pikir Niko masih sama seperti dulu. Tidak punya kekuasaan untuk memimpin orang.


Namun dugaan, Alex salah besar. Kini Niko justru menjadi sosok yang amat di segani.Selain itu, kekuatannya tak main - main. Sehingga membuat dirinya dan Bastian kuwalahan.


"Saya pikir kita akan mati sia - sia. Jika kita tidak meminta pertolongan pada anak buah kita, Bas." Kata Alex di sela - sela perkelahiannya dengan anak buah Niko.

__ADS_1


"Kamu benar Alex.Kita tidak akan mungkin menang tanpa bantuan. Sial! Kalau bakalan seperti ini aku pasti sudah meminta Red Wolf untuk ikut.," balas Bastian sambil menatap waspada sekelilingnya.


"Hm, Darren sepertinya juga sudah kuwalahan menghadapi Kevin. Apalagi saat ini tangannya terluka cukup parah." ujar Alex sambil memperhatikan Darren.


Bastian mengikuti arah pandang Alex. Napasnya tercekat ketika melihat tangan Darren yang mengeluarkan cukup banyak darah. Bastian ingin membantu, tetapi ia tidak bisa karena masih sibuk menghadapi orang yang ada di depannya.


Napas Darren mulai memberat. Meski ia jauh lebih pintar berkelahi dari pada Kevin, tetapi kondisinya saat ini sedang tidak memungkinkan. Selain lengannya yang sakit bagian perutnya pun terasa nyeri akibat tendangan dari Kevin.


"Bagaimana Darren? Bukankah lebih baik kamu menyerah saja?" tanya Kevin sembari bersedekap. Ia menyeringai sembari mencengkram kuat leher Darren.


"S..sampai kapan pun aku tidak akan menyerah, Vin. Meski aku harus mati, tapi tak akan ku biarkan kau menyentuh Istriku," hardik Darren dengan suara yang terbata - bata.


"Kalau begitu baiklah... aku akan bersenang - senang dengan mu lebih lama lagi," balas Kevin sambil terkekeh sumbang.


Napas Darren semakin tersengal. Dadanya kembang kepis menahan sesak napas akibat cekikan Kevin.


Dengan sekuat tenaga Kevin melemparkan Darren hingga membentur kursi lapuk di pojok ruangan. Darren meringis, tubuhnya seolah - olah remuk setelah menghantam kursi.


Darren menghembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata kemudian mulai mengatur napasnya lagi. Darren tersenyum tipis ketika bayangan Kiran menari - nari di pelupuk matanya.


Setelah di rasa tubuhnya lebih baik, Darren kembali bangkit. Ia mengepalakan tangan kemudian berjalan cepat menuju Kevin yang membelakangi tubuhnya. Darren melompat, ia mengangkat tangan kemudian....


Bugh!

__ADS_1


Satu pukulan tepat Darren berikan tepat mengenai pundak sebelah kiri Kevin.Darren tersenyum miring saat melihat Kevin yang tersungkur di lantai. Melihat kesempatan yang cukup bagus, Darren bergegas mencengkram kerah baju Kevin.


Darren menekan leher Kevin dengan kuat. Setelahnya ia menduduki perut Kevin sembari melemparkan beberapa pukulan, yang cukup mampu membuat bibir Kevin berdarah.


Bagai orang yang sedang kesetanan Darren terus memberikan pukulan, ia bahkan tidak mempedulikan keadaan sekitar yang semakin kacau. Bagi Darren, saat ini adalag waktu yang tepat untuk menghabisi Kevin.


"Ini untukmu karena sudah menculik Istriku!" pekik Darren sembari menonjok pipi kanan Kevin.


"Ini untukmu yang sudah berani mengusik keluargaku!" Sergah Darren ia memberikan pukulan yang bertubi - tubi hingga membuat Kevin tidak mampu lagi melawannya.


Darren tersenyum sinis. Matanya berkilat tajam. Menandakan jika dirinya sudah benar - benar murka. Darren melepaskan cekalan tangannya pada leher Kevin. Ia hendak beranjak dan membantu Bastian.


Namun, sayangnya ia terlalu lengah hingga membuat Kevin dengan segera membalikkan keadaan. Kini Darren tergeletak dengan Kevin yang duduk di atas perutnya. Kevin terkekeh sumbang, tangannya mengepal kuat dan siap memberikan pukulan untuk Darren.


"Kamu pikir aku akan kalah dengan mudah, Darren? Hahaha.. jangan harap, bodoh!" Geram Kevin napasnya memburu karena rasa marah dan benci yang begitu besar di hatinya.


Darren mencoba melawan. la menendang punggung Kevin dengan satu kakinya. Namun, karena tenaga Kevin yang masih cukup kuat, tendangan Darren tidak berarti apa - apa baginya.


"Aku sangat membencimu, Darren!" Sentak Kevin sambil mencengkram erat rambut Darren. Ia tertawa kejam seolah - olah tidak ada rasa kasihan di hatinya.


"Kamu harus mati di tanganku!" Pekik Kevin. Ia mengambil sembongkah balok kayu yang cukup besar. Ia mengangkatnya dan bersiap memukulnya kepada Darren.


Bugh! Duagh!

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like.. like... like yang banyak yah...😁


__ADS_2