
Mendengar ucapan Kiran. Citra membelalakkan matanya. mulutnya bahkan sampai ternganga, terlebih lagi ketika melihat mata Kiran yang ber kaca - kaca.
"Aku nggak salah dengar kan, Mbak? Jadi kamu masih punya suami? siapa dia?" tanya Citra. Kali ini Citra menarik tangan Kiran dan langsung membawanya menuju ke ruang ganti yang sepi.
Kiran tak kunjung menjawab. dia justru langsung memeluk Citra dan menangis terisak. Kali ini Kiran benar- benar mengeluarkan semua keluh kesahnya yang selama ini terpendam.
"Aku sangat lelah Cit. rasanya aku ingin selalu menyerah. Tapi kalau aku menyerah sekarang, bagaimana dengan anakku?" lirih Kiran. tangisnya semakin menjadi - jadi.
"Mbak jangan menangis lagi!" balas Citra sambil membalas pelukkan Kiran. matanya turut berkaca - kaca, apalagi ketika mendengar isak tangis Kiran yang tidak kunjung berhenti.
"Selama ini aku tidak tahu harus bercerita ke siapa. Aku hanya sendirian di kota ini, aku tidak memiliki siapa - siapa selain anakku."
"Kalau begitu, boleh aku tahu siapa suamimu Mbak? kenapa dia sampai tega menelantarkan kamu begini." ucap Citra. wajahnya berapi - api seolah ada kemarahan yang begitu besar di dalam dirinya.
Kiran terdiam sejenak. ia memijat pelipisnya lalu menghembuskan napas panjang. Kiran tersenyum sendu lalu berkata, kamu pasti mengenalnya Cit, dia orang yang sangat terkenal."
"Siapa? Aku makin jadi penasaran deh." ucap Citra.
"Dia Darren Wi...."
"Darren Wijaya? Dia pemilik ** Studio foto dan sekaligus fotografer terkenal yang sekarang beralih profesi sebagai pebisnis, Kan? Ya Tuhan, kamu tidak bohong kan Mbak?" tanya Citra.
"Aku tidak mungkin berbohong Cit. Aku ingin kembali, tapi rasanya takut. dia mungkin sudah memiliki kekasih yang lain." lirih Kiran sembari menundukkan kepalanya.
Citra terdiam beberapa saat. Ada rasa ragu begitu besar di hatinya. Namun akhirnya Citra memilih mengatakan sesuatu kepada Kiran. Citra meraih kedua tangan Kiran. ia mengenggam lalu berkata, "Mbak aku dengar - dengar beberapa bulan yang lalu Darren Wijaya sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita yang bernama Shelvi yang pada saat itu, menghadiri Acara resepsi pernikahan sahabatnya dan mereka terlihat bersama. bahkan beberapa hari yang lalu, aku membaca Artikel yang mengatakan kalau mereka sudah bertunangan."
Bagai di sambar petir di siang hari, Kiran merasakan hatinya begitu pedih dan rasa sesak di dadanya semakin bertambah. hingga perlahan - lahan Kiran pun luruh dan terduduk di lantai.
"Tapi dia masih menjadi suamiku, Cit! kenapa dia jahat? kenapa jadi seperti ini?" tanya Kiran. ia meraung sembari menepuk - nepuk dadanya yang terasa begitu sesak.
"Mbak..." Citra menghentikan ucapannya. mendadak ia merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang menyakitkan untuk Kiran.
"Aku pikir dia akan mencarinya. Aku pikir dia akan menyesal setelah aku pergi. tapi ternyata aku salah besar A..Aku begitu terluka, Cit. Aku..." Ucapan Kiran terhenti ketika matanya mulai mengabur dan berkunang - kunang.
__ADS_1
Kiran merintih, dan memegang kepalanya yang mendadak begitu sakit. hingga akhirnya, Kiran pun tergeletak dan tidak sadar kan diri. Kiran pingsan membawa sekeping hati yang terluka.
*****
Sementara di tempat lain, saat ini Darren sedang murka. tatapan matanya tajam dan aura kemarahan terlihat jelas dari wajahnya.
"Siapa yang menyebarkan berita bodoh seperti itu lagi, ha? tanya Darren. tangannya mencengkram kuat kerah baju yang di gunakan oleh Ivan.
"Aku juga tidak tahu Darren, tapi yang jelas berita pertunagan kamu dan Shelvi sudah tersebar luas ke seluruh kota," jawab Ivan ia menghembuskan napas panjang dan mencoba melepaskan tangan Darren.
"Kurang ajar!! cepat segera hapus semua berita murahan itu, Ivan! aku tidak sudi melihatnya." ucap Darren penuh emosi.
"Percuma di hapus, Darren! semuanya sudah terlanjur tersebar. lagi pula, jejak di gital tak mudah di bersihkan," kata Ivan dan menghempaskan tangan Darren dengan kasar.
"Tapi bagaimana kalau Kiran melihat semua itu, Van? dia pasti akan salah paham dan menangis. tidak! tidak! aku tidak mau membuat dia menangis lagi," ucap Darren. matanya mulai memerah dan berkaca - kaca.
"Darren..."
"Kita tidak tahu dimana Kiran berada. semoga saja dia tidak membaca artikel bodoh itu. tapi sepertinya sulit, sebab artikel itu di siarkan melalui siaran televisi, Darren" ucap Ivan.
"Apa yang harus aku lakukan Ivan? selama ini, aku berusaha mencari Kiran. Tapi hasilnya sia - sia. Dia seolah hilang di telan bumi. lalu apa jadinya kalau dia sampai melihat ataupun mendengar tentang artikel itu?" tanya Darren ia menunduk dengan rasa frustasi yang begitu besar.
Ivan menghembuskan napas panjang. ia menyugar rambutnya ke belakang lalu bertanya "Untuk apa kamu masih memikirkan Kiran?"
Darren yang tengah terduduk di lantai sembari bersandar dinding pun mendongak. matanya menatap nyalang ke arah Ivan.
" Apa maksudmu?" tanya Darren dengan nada suara penuh penekanan.
"Bukankah selama ini Kiran menghilang atas kemauannya sendiri? lalu untuk apa kamu terus mencarinya seperti orang gila ha?" tanya Ivan nada suaranya mulai meninggi, sebab selama ini ia sudah terlalu muak melihat Darren terlihat tak berdaya karena Kiran.
"Karena dia istriku, Ivan! Dia adalah wanita yang aku cintai. mau sampai kapan pun, aku akan tetap mencarinya. aku tidak akan mengabaikan Kiran." ucap Darren.
"Jangan bodoh, Darren! kamu tahu sendiri kan, kalau Kiran pergi bersama pria lain. Bisa jadi dia dan Angga memiliki hubungan spesial di belakangmu." sinis Ivan.
__ADS_1
"Tidak Mung...."
"Apanya yang tidak mungkin ha! Apa mungkin Angga hanya akan membantu Kiran? Cih! jangan naif Darren! seorang pria tidak mungkin berbuat baik tanpa ada imbalannya." ujar Ivan.
"Tapi Kiran tidak akan mungkin mengkhianatiku. Kiran selalu mencintaiku. Van, dia wanita lugu yang begitu po..."
Bugh!!
Satu buah pukulan mengenai bibir Darren. Ivan yang terlanjur murka mencengkram kuat kerah kemeja Darren. meski Ivan selalu mendukung semua keputusan Darren, tetapi kali ini ia sudah begitu muak.
Ivan malas mengurusi Darren yang setiap hari marah hanya karena seorang Kiran. Awalnya Ivan merasa iba dengan Kiran.Namun, lama kelamaan ia marah dan lelah dengan semua hal yang berkaitan dengan Kiran. karena menurutnya Kiran sangat keterlaluan sebab pergi begitu saja.
"Lupakan Kiran! dan mulailah menata hidupmu! jangan gila hanya karena wanita seperti dia."
"Kamu tidak akan mengerti Van. bagaimana mungkin aku bisa melupakan wanita seperti Kiran sementara di hatiku sudah terlanjur mencintainya."
"Carilah wanita lain! atau pergi dan kencani Shelvi! bukankah dia tergila - gila padamu?"
"Van jangan..."
"Aku tidak bercanda Darren! Aku muak melihatmu seperti orang gila. Carilah kebahagian kamu!"
"Tapi, Van kamu tahu? kebahagiaanku hanyalah Kiran. sampai kapan pun aku tidak akan mencari wanita lain. Hanya Kiran yang akan menjadi istriku."
"Bodoh! kamu memang telah di perbudak oleh cinta Darren." ucap Ivan ketus
" Aku tidak peduli!!" sinis Darren sambil pergi meninggalkan Ivan di ruangannya.
Ivan tersenyum sinis. ia bersedekap kemudian berkata " Demi kebaikanmu, maka aku akan membuatmu melupakan dia Darren."
Kira - Kira apa yang akan dilakukan Ivan? Kenapa dia mendadak berubah kepada Kiran? Atau jangan - Jangan...
Oh,Ya jangan lupa,Vote like dan komen. Jangan lupa juga berikan Like kalau berkenan biar Author semangat nulis.
__ADS_1