
Alih - alih terluka, Alex justru terdiam saat melihat seseorang tampak merintih kesakitan sembari memegangi lengan kanannya.
"Cindy? Apa yang kamu lakukan? Hei! Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan itu!" Ucap Bima. Ia terkejut dan panik saat Cindy berdiri di depannya dan menjadi tameng. Alhasil, Cindy pun terkena tembakan Alex.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu terluka, Mas," kata Cindy dengan tatapan yang sulit di artikan. Seolah - olah ada kode rahasia yang ia berikan kepada Bima.
"Sialan! Kau benar - benar biadab, Alex! Kau harus bertanggung jawab karena sudah mencelakai Istriku!"
Alex menyugar rambutnya ke belakang. Ia sendiri merasa terkejut tetapi ia sama sekali tidak merasa menyesal telah menembak Cindy.
"Ya, anggap ini sebagai balasan karena dia sudah membuat hidup Helena menderita di masa lalu," gumam Alex sambil tersenyum miring.
"Apa yang harus kita lakukan, Alex?" tanya Bastian yang merasa terkejut saat melihat Cindy yang kini sudah bersimpah darah.
"Bawa di pergi ke rumah sakit!" Perintah Alex pada Bastian.
"Tapi...."
"Cepat, Bas! Berikan dia pertolongan untuknya. Tapi ingat! Jangan biarkan siapapun tahu tentang hal ini!"
"Lalu bagaimana dengan Bima? Apa yang ingin kamu lakukan lagi," tanya Bastian lagi.
"Saya ingin bersenang - senang dulu dengannya," jawab Alex yang sukses membuat Bastian dan Bara bergidik ngeri.
"Mampuslah hidupmu, Bima," gumam Bara.
"Aku yakin Bima tidak akan selamat kali ini," ujar Bastian sambil tersenyum girang.
******
Saat Alex dan kawan - kawan sedang sibuk mengurusi Bima. Maka berbeda dengan seorang Pria yang kini telah terduduk lesu di sebuah kafe. dia adalah Daniel Atha Wijaya.
Daniel, hari ini sudah memiliki janji dengan Citra untuk bertemu. Meski rasanya begitu bimbang, tetapi Daniel tetap bersedia ketika Citra mengajaknya bertemu.
Namun, sudah cukup lama menunggu, tetapi Citra tidak kunjung datang. Oleh karena hal itu, Daniel pun menjadi lesu dan menganggap jika Citra hanya ingin mempermainkannya
"M..maaf, aku terlambat."
Daniel mendongak, di lihatnya Citra yang sudah duduk di hadapannya. Daniel terkejut saat melihat penampilan Citra yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Kali ini Citra sedikit lebih berisi dan tampak kacau.
"Hm, jadi apa yang ingin kamu katakan?" tanya Daniel to the point. Ia tidak mau hatinya semakin terluka saat melihat Citra.
"Bukankah lebih baik kita makan dulu. Aku pe...."
"Jangan basa - basi, Cit! Cepat katakan apa tujuanmu mengajakku bertemu?"
Citra menunduk, tangannya saling meremas satu sama lain. Dari tingkahnya, Daniel tahu betul jika Citra sedang gugup.
"M...Mas, Aku...."
"Kamu kenapa?"
"A..Aku hamil...."
Deg.
Jantung Daniel seolah terlepas dari dadanya ketika mendengar ucapan Citra. Hamil? Bagaimana bisa?
"Kamu bilang tadi apa, Cit?"
"Lalu apa hubungannya denganku, kalau kamu hamil, Cit? Seharusnya kamu bicara dengan calon suamimu?" ucap Daniel. Ia bersedekap sembari menatp tajam ke arah Citra.
Daniel merasa cukup terkejut dengan pengakuan Citra. Ia juga tidak menyangka jika gadis selugu Citra bisa melakukan hal yang begitu buruk.
Mendengar perkataan Daniel, Citra tertunduk lesu. Tangannya sedikit gemetar, terlebih lagi Daniel sedari tadi menatap lekat ke arahnya. Citra begitu gugup ia merasa tatapan Daniel kini berubah.
Jika biasanya Daniel menatapnya dengan penuh cinta, maka saat ini sorot matanya menunjukkan keterkejutan, dan juga rasa tidak percaya.
"D..Dia tidak mau bertanggung jawab, Mas. Dia berbohong dia hanya memanfaatkan aku saja," sahut Citra, matanya mulai berkaca - kaca, hingga tak lama kemudian isak tangisnya pun mulai terdengar.
"Apa maksudmu? Bukankah pria itu sangat mencintaimu?" tanya Daniel ia menghembuskan napas panjang setelah mendengarkan penjelasan Citra.
Citra menggeleng perlahan, calon suaminya Andi hanya memanfaatkan tubuhnya saja. Pria jahat itu selalu mengancam akan menjebloskan orang tua Citra ke penjara, jika sampai Citra tidak menuruti perintahnya.
Tentu saja Citra takut, ia tidak ingin melihat Ayah dan Ibunya mendekam di penjara. Oleh karena itu ia pun terpaksa menuruti kemauan Andi. Lagi pula, Citra juga berpikir semuanya akan baik - baik saja karena mereka akan segera menikah.
Namun, semuanya salah besar. Andi justru tertawa ketika Citra menyatakan kehamilannya. Andi merasa begitu puas karena sudah menghancurkan hidup Citra yang dulu pernah menolaknya.
__ADS_1
Ya....., dulu Andi memang sempat melamarnya. Namun, karena belum siap menikah, akhirnya ia pun memilih untuk menolaknya.
Dan beberapa hari yang lalu, Andi dan kedua orang tuanya datang. Mereka membatalkan pernikahan secara sepihak tanpa penjelasan yang masuk akal. Selain itu, Andi juga mengatakan kepada seluruh warga desa jika Citra tengah hamil di luar nikah dengan orang lain.
Alhasil semuanya pun menjadi kacau. Keluarganya pun marah besar bahkan semua warga menggunjingnya. Citra kalut, hingga ia nekat pergi ke kota untuk menemui Daniel.
"Aku sedang berbicara denganmu! Jangan melamun begitu!" Kata Daniel sambil melambaikan tangannya di depan wajah Citra.
Citra tersentak, setelah itu ia pun berkata, " Dia tidak pernah mencintaiku, Mas. Dia hanya mempermainkan aku dan juga keluargaku. Aku..., aku tidak tahu lagi harus bagaimana," ujar Citra dengan bahu yang mulai bergetar hebat.
"Lalu kenapa kamu mau di ajak berbuat seperti itu? Bukankah ini kesalahanmu sendiri?" tanya Daniel lagi, ia tersenyum miring saat beradu pandang dengan Citra.
"Dia mengancamku. Dia bilang akan mencelakai keluargaku jika aku menolaknya,"
Citra semakin terisak, bahkan beberapa pengunjung cafe mulai menatap ke arahnya. Daniel menghembuskan napas pelan, lalu bersedekap.
"Jadi dia mengikatmu bukan karena cinta?"
"Bukan. Sebenarnya aku terpaksa menerimanya. Kami di jodohkan karena Ayahku memiliki hutang yang cukup besar kepada keluarganya."
"Kenapa kamu tidak bicara deganku? Aku pasti akan membantumu," ujar Daniel.
"Aku tidak enak, jika harus bicara denganmu. Aku malu," balas Citra sambil menatap sendu ke arah Daniel.
"Malu? Untuk apa? Kalau kamu menceritakan semuanya padaku, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur," sambung Daniel sambil membalas tatapan mata Citra.
Citra menunduk. Pikrannya berkecamuk memikirkan sebuah rencana yang sudah ia susun sebelum berangkat ke kota. Citra ragu, tetapi ia merasa tidak punya pilihan lain
"M...Mas, maukah kamu membantuku?" tanya Citra matanya menatap penuh harap ke arah Daniel.
"Membantu apa?"
"T..Tolong nikahi aku, Mas. Aku...."
"Jangan gila, Cit! Aku tidak pernah melakukan apapun padamu, tapi kenapa kamu justru memintaku untuk menikahimu? Astaga, apa sekarang kamu tidak punya rasa malu lagi?!" Sentak Daniel. Ia reflek berdiri dari duduknya. Tatapan matanya semakin tajam seolah - olah ia siap memangsa Citra.
Citra terkesiap, jantungnya berdebar kencang mendapatkan bentakan dari Daniel. Citra menelan salivanya susah payah, lalu menatap ke arah Daniel.
"M...Mas aku tidak punya pilihan lain. Semua orang menuduhku yang tidak - tidak. Bahkan keluargaku sendiri pun tidak percaya denganku. jadi aku mo....." ucapan Citra terhenti saat Daniel mengangkat tangannya.
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiahnya.