
Bara begitu kecewa, tetapi di sisi lain. Ia ingin berbicara sesuatu pada Shelvi. Oleh karena itu, ia pun mengesampingkan rasa sakit hatinya.
"Papi ingin berbicara denganmu. Mungkin ini bukanlah waktu yang cocok. Tapi Papi ingin mengatakan hal yang sangat penting kepadamu," kata Bara ia berjalan mendekati Shelvi.
"Cepat katakan! Aku tidak mempunyai banyak waktu. Setelah ini aku harus segera pergi," balas Shelvi tanpa menatap ke arah Bara.
Bara menghembuskan napas pelan ia memejamkan mata sejenak kemudian mulai berbicara.
"Berhentilah untuk ikut campur dalam kehidupan Kevin. Dia bukan orang yang baik, Shel. Dia hanya membawa pengaruh buruk padamu," ucap Bara penuh keseriusan.
"Apa hakmu, melarangku. Aku tidak pernah sekalipun mengusik hidupmu. Jadi, jangan coba - coba kau ikut campur dengan apapun yang ku lakukan!" Ancam Shelvi pada Bara.
"Papi serius, Shel! Kamu hanya akan menderita jika terus mengikuti dia. Kamu anak Papi satu - satunya, jadi menurutlah, Nak?! Papi hanya tidak ingin kau akan semakin terjerumus!"
"Cukup! Tahu apa kamu tentang Kevin. Dia jauh lebih baik dari siapapun, termasuk kamu ataupun Istrimu!" Sentak Shelvi kali ini ia menatap tajam ke arah Bara.
"Tapi kamu akan menjadi musuh Papi, kalau sampai kamu tidak berhenti mengikuti Kevin.Kamu akan menderita, Nak!" Ucap Bara memberi pengertian.
Mendengar ucapan Bara, alih - alih merasa takut Shelvi hanya tersenyum lebar dengan kedua mata yang melotot tajam.
"Musuh? Hahaha, bagus sekali? Justru itu yang aku inginkan. Bukankah akan sangat menarik jika seorang Ayah bermusuhan dengan Putrinya sendiri."
Bara mengusap wajahnya. Ia gusar justru Shelvi sangat bersemangat setelah mendengar ancamannya. Akhirnya Bara pun tidak punya pilihan. Ia memilih menggunakan sedikit kekerasan agar Shelvi bersedia menuruti ucapannya.
"Kamu bisa mati, kalau sampai tidak menjauhi Kevin. Kamu hanya akan menyesal dan hancur." ucap Bara.
__ADS_1
"Siapa yang peduli, Kevin dan yang lainnya pasti akan melindungiku." ucap Shelvi sambil tersenyum sinis ke arah Bara.
Bara menggelengkan kepala.Napasnya mulai memburu saat melihat tatapan Shelvi di tujukan kepadanya.
"Demi Tuhan, Shelvi!" Kamu pasti akan menyesal seumur hidup, karena tidak menuruti Perintah Papi!" ucap Bara memberikan peringatan pada putrinya itu agar segera sadar akan pilihannya untuk tidak bergabung dengan Kevin.
"Oh ya? Hm, aku rasa aku akan jauh lebih menyesal, jika harus menuruti ucapan pria sepertimu," jawab Shelvi.
"Kau...." Bara naik pitam. Ia tak mampu membendung kemarahannya akibat tingkah laku Shelvi yang tidak memiliki rasa sopan santun kepadanya.
"Kenapa?! Kamu ingin marah padaku! Silakan saja! Aku sama sekali tidak peduli!" Bentak Shelvi pada Papinya itu.
"Kamu benar - benar keterlaluan, Shel. Percuma saja selama ini Papi sangat mengkhawatirkan kamu!" Seru Bara dengan mata yang mulai berkaca - kaca. Ia tidak menyangka jika putrinya berani berbicara seperti itu.
"Hei Tua bangka! Aku tidak pernah menyuruhmu untuk khawatir padaku. Ah, sudahlah lebih baik aku segera pergi dari neraka ini."Kata Shelvi ia bergegas meraih sebuah tas dan bersiap pergi.
"Aku tidak sabar melihat bagaimana kita berjumpa di medan peperangan nanti, Yah. Aku harap kamu tidak akan menangis saat melihatku menertawan, Kamu!" Ucap Shelvi.
Bara mengepalkan tangannya kuat. Matanya mendelik tajam dan kemarahan tercetak jelas dari pancaran di wajahnya.
"Ya..., kita tunggu saja nanti, Papi pastikan, kamu akan habis di tangan Papi sendiri..."
****
Terhitung sudah lebih dari dua hari lamanya sejak pertengkaran antara Bara dan juga Shelvi. Begitu pula dengan Cindy yang di rawat di rumah sakit. Kini, keadaan sudah tidak serumit sebelumnya. Bahkan, kini Darren dan Daniel sudah mulai berangkat seperti sebelumnya.
__ADS_1
Dari pihak Kevin, tidak terdengar ada sesuatu yang mencurigakan. Bahkan, beberapa orang yamg sudah di utus oleh Alex untuk menyelidiki, sudah tidak memberikan kabar apa pun selain berita kepulangan Kevin.
Oleh karean itu, Bara tidak menyia - nyiakan kesempatan tersebut untuk menghembuskan napas sejenak.
Hatinya lega sebab semuanya sudah terkendali, meski nantinya, ia harus memikirkan rencana untuk menghadapi Kevin.
"Bagaimana keadaan Cindy, Darren? Sudah ada kemajuan?" tanya Helena saat sedang sarapan pagi.
"Entahlah, Ma. Aku juga tidak tahu.Kata dokter kondisinya sudah sangat membaik. Tapi, anehnya dia tidak kunjung sadarkan diri," balas Darren sambil meletakkan sendok dan garpu ke atas piring.
"Kamu tidak menyelidikinya, Darren?
Ayah rasa ada sesuatu yang ia rencanakan?" jawab Kenzo. Tatapan matanya begitu serius, sehingga membuat suasana ruang makan seketika tegang.
"Kami sudah menuelidikinya, Yah. Bahkan kami juga sudah mencoba melakukan sesuatu. Tapi dia juga tidak membuka matanya." ujar Daniel ikut menimpali.
Melihat hal itu, Kenzo mengernyitkan dahi. Ia lantas bersedekap sembari menatap ke arah dua putranya. Suasana ruang makan pun begitu cepat berganti. Yang awalnya tenang kini, mulai membuat tak nyaman.
Kiran yang sedari duduk di samping Darren.Kini duduk dengan gelisah. Selain karena meras tak nyaman, ia juga khawatir dengan Arka yang ia tinggal sendiri di kamar. kiran takut Arka terbangun dan menangis.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca.
Yosh... Agak tegang terus ya? Hehehe kebanyakan konflik ya? Kalau begitu beberapa bab kedepan mungkin nggak akan terlalu menegangkan ya hehe..
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen dan vote.