
"Mereka sudah pulih seperti sedia kala, Ken. Setelah ini pun aku akan langsung menginformasikan kepada mereka" ujar Bara.
"Baguslah kalau begitu, saya harap semuanya cepat selesai. Saya malas kalau ada drama saat kita bertindak nanti." ujar Kenzo.
"Oke, kalau begitu aku pergi dulu. Aku ingin mengbari Bastian dan Alex."
"Bukankah kau ingin mencari Shelvi, Bara?" tanya Kenzo.
"Ah, itu besok saja, Ken. Hal ini jauh lebih penting. Lagi pula aku yakin, Kanaya pasti akan baik - baik saja." jawab Bara.
"Ya sudah kalau itu memang keputusanmu." ucap Kenzo.
Bara mengangguk lalu mengacungkan ibu jarinya ke arah Kenzo. Setelah itu, ia pun berlalu pergi dari dalam ruang kerja Kenzo.
Setelah kepergian Bara, Kenzo terdiam. Kini pikirannya semakin bimbang. Ia takut Darren akan marah jika tahu dirinya akan membuat perhitungan pada Bima.
" Bagaimana kalau Darren marah? Dan bagaiamana kalau dia membenci saya?" gumam Kenzo sembari menatap foto Darren kecil yang terletak di meja kerjanya.
****
"Rindu ya sama Papa?" tanya Darren sambil menimang Arka yang kini mulai terlelap.
"Arka pasti senang kalau kamu sudah pulang, Mas. Dia rindu main sama kamu," ujar Kiran. Ia tersenyum tipis sembari menatap ke arah Darren.
"Aku juga sangat merindukan Arka, Ran. Ah, rasanya rasanya aku ingin cepat - cepat pulang, tapi kata dokter harus menunggu beberapa hari lagi," ucap Darren.
"Iya, kamu harus benar - benar sembuh dulu baru pulang,"
__ADS_1
Darren mengangguk, setelah itu ia kembali menatap wajah Arka. Darren senang karena akhirnya ia bisa kembali berkumpul dengan anak serta Istrinya.
"Aku harap anak kedua kita perempuan. Rasanya pasti menyenangkan punya anak banyak," ujar Darren ia terkekeh pelan.
"Dua aja deh, Mas. Nggak perlu banyak - banyak." balas Kiran.
"Loh, aku maunya lima atau enam, Ran. Biar rumah kita ramai," ucap Darren.
"Oke, tapi kamu yang hamil dan melahirkan ya," ketus Kiran. Ia bersedekap lalu mengalihkan pandangannya dari sang Suami.
Melihat Kiran yang tampak kesal, Darren pun tertawa dan berkata, " Aku hanya bercanda sayang, aku terserah kamu saja. Kalau kamu anak banyak ayo, kalau dua ya tidak apa - apa.
Kiran tersenyum manis, lalu mendekati Darren. Setelah itu ia mengambil alih Arka dari gendongan Darren.
"Ngomong - ngomong, gimana ya kabar Citra sekarang? Sudah lama aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya," ujar Kiran.
"Aku jadi khawatir dengan dia. Bagaimana kalau dia berbuat hal yang tidak - tidak, Mas?" tanya Kiran.
"Aku juga tidak tahu, Ran. Tapi, semoga saja dia tidak berpikir pendek," jawab Darren.
"Ya semoga saja," balas Kiran.
"Oh ya? Hari ini kamu pulang, atau menginap di sini?" tanya Darren lagi.
"Sepertinya aku pulang. Kenapa, Mas? Kamu mau aku temani,"
"Tidak. Tapi kalau kamu ingin pulang, sekarang saja. Ini sudah mau malam loh," ucap Darren sambil mengusap lembut rambut Kiran.
__ADS_1
"Iya sebentar lagi. Nunggu sopir datang dulu, Mas."
Darren mengangguk lalu tersenyum. Setelahnya, hening. Keduanya tidak lagi berbicara. Merasa tangannya pegal, Kiran pun berniat menidurkan Arka di samping Darren.
Tepat saat Kiran sedang membaringkan Arka, dari televisi terdengar pembawa berita yang sedang menyiarkan berita terkini.
"Telah di temukan sesosok mayat wanita tanpa identitas dengan ciri - ciri sebagai berikut."
Kiran dan Darren saling bertatapan. Keduanya merasa cukup familiar setelah membaca beberapa ciri - ciri yang tertera di layar televisi. Jantung Kiran berdetak kencang, perasaan takut tiba - tiba merayapi hatinya.
"Mas, dia...."
"Mas, bukankah ciri - cirinya sama persis dengan..." Kiran tidak melanjutkan ucapannya. Ia justru menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Kaki Kiran terasa begitu lemas. Bahkan ia sampai tidak sadar, jika dirinya kini sudah terduduk lemas di atas sofa.
Bersambung...
Kira - kira siapa yang meninggal?
Benarkah Kiran dan Darren mengenalinya?
Nantikan terus kisah mereka ya...!
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1