
Citra hanya tersenyum tipis sambil menggeleng perlahan. Setelah itu, ia mengalihkan pembicaraan agar Kiran tidak membahas hubungannnya dengan Daniel.
Sementara Darren melihat Daniel murung pun menghela napas pelan. Darren berjalan mendekati Daniel kemudian menepuk pundaknya pelan.
"Wanita masih banyak di dunia ini jangan murung hanya karena di tolak olehnya!" ujar Darren.
"Apa maksudmu? Siapa yang di tolak. Haha berarti aku salah ya?" goda Darren sambil tersenyum miring. Meski Darren tertawa tetapi tatapan dinginnya begitu menusuk bagi Daniel.
Daniel menyugar rambutnya ke belakang. Ia memejamkan mata kemudian menyadarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Sial! Kenapa kak Darren bisa tahu! gumam Daniel.
***
"Kamu mau sampai kapan di kota ini, Citra?" tanya Kiran sambil menatap Citra yang kini sedang duduk di samping Daniel. Namun, keduanya tampak canggung dan berjauhan.
"Aku masih bingung Mbak. Niatnya sih mau liburan, tapi mungkin aku kembali besok," jawab Citra. Ia tersenyum tipis sembari melirik sesekali ke arah Daniel yang masih tampak acuh padanya.
"Kenapa cepat sekali? Bagaimana kalau kamu menginap dulu di rumah? Tunggu sampai acara syukuran Arka selesai. Boleh kan, Mas? tanya Kiran. Ia menatap Darren yang sedang menimang Arka.
Darren menoleh, ia tersenyum manis kemudian menganggukan kepalanya.
"Atau mungkin kamu mau pindah kerja di Honey Sweet yang ada di kota ini? Biar nanti aku bicarakan dengan managernya," tawar Darren. Ia terkekeh pelan sembari melirik ke arah Daniel yang melotot ke arahnya.
"Eh tidak usah Pak. Aku tidak mungkin meninggalkan orang tua di rumah lama - lama," balas Citra. Ia merasa tidak enak karena Darren dan Kiran begitu baik padanya.
"Oh baiklah, kalau begitu menginaplah satu atau dua minggu di rumah. Biar Kiran ada temen ngobrolnya." ujar Darren tanpa menatap ke arah Citra. Ia justru sibuk menimang - nimang Arka.
"Apa tidak apa - apa? Aku takut merepotkan," kata Citra sembari tersenyum tak enak pada Kiran.
"Tidak merepotkan kok. Lagi pula biar kamu dan Daniel dekat juga. Haha siapa tahu kalian nanti bisa jatuh cinta" imbuh Kiran ia terkekeh geli, apalagi melihat rona merah di pipi Citra.
"Mbak Kiran bisa aja deh, aku tidak mungkin jatuh cinta dengannya," balas Citra. Ia tertawa geli wajahnya terlihat begitu riang. Berbeda dengan Daniel yang semakin muram.
"Takdir kan tidak ada yang tahu, Cit. Oh, iya ngomong - ngomong bagaimana kabar Mas Angga? Dia baik - baik saja kan?"
__ADS_1
"Siapa Angga, Ran?" tanya Darren. Ia menatap tajam ke arah Kiran.
Kiran menghela napas pelan. Hanya karena mendengar nama laki - laki lain pun Darren cemburu. Lalu bagaimana jika nantinya Kiran tidak sengaja berdekatan dengan lelaki?
"Itu bos aku, Mas. Nggak usah marah kami hanya sebatas rekan kerja saja, kok."
"Benar begitu?" tanya Darren ia menatap Kiran penuh selidik.
"Aku tidak mungkin membohongi kamu, Mas?. Kalau tidak percaya kamu tanyakan saja sama Citra!"
"Benar kok, Pak. Mbak Kiran tidak ada hubungan apapun dengan Pak Angga. Mereka berdua hanya berteman."
Darren menganggukan kepala. Setelah itu ia pun membaringkan Arka yang sudah terlelap ke dalam box bayi.
"Lain kali, jangan menyebut nama pria lain di depan aku, Ran! Aku cemburu dan tidak suka mendengarnya," kata Darren menatap Kiran.
"Iya. Mas"
Percakapan Kiran dan juga Citra terus berlanjut. keduanya membicarakan banyak hal yang membuat Darren dan juga Daniel merasa bosan. Hingga tanpa mereka sadari jam sudah menujukkan pukulan 20.30 Wib.
"Kenapa harus aku, dia bisa pulang sendiri, kan? Lagi pula aku sibuk. Setelah ini aku mau pulang kerumah Om Alex," ujar Daniel.
"Lalu siapa yang harus mengatarnya pulang ke rumah kita? Apa kamu mau menyuruhku, hm?" tanya Darren tatapan matanya begitu datar saat menatap ke arah Daniel.
Daniel berdecak kesal ia beranjak dari duduknya kemudian menoleh ke arah Citra.
"Ayo pulang." ajak Daniel suaranya terdengar ketus.
Citra mengangguk kemudian mengikuti arah langkah kaki Daniel yang sudah keluar dari ruang rawat Kiran. Setelah kepergian Daniel dan juga Citra, Darren mendekati Kiran ia duduk di kursi sembari memijat kaki Kiran.
"Kira - kiraa Daniel kenapa ya, Mas? Kenapa dia terlihat marah begitu ya" tanya Kiran. Ia menatal lekat wajah Darren dengan serius. Setelah itu, ia pun memilih duduk di brankar tepat di samping Kiran.
"Daniel menaruh perasaan Kepada Citra. Tapi sepertinya Citra tidak membalasnya.Ya mungkin Daniel sedang kecewa," balas Darren sembari menyandarkan kepalanya di pundak Kiran.
"Oh begitu. Mungkin Citra merasa tidak enak hati kalau mau membalas perasaan Daniel, Mas."
__ADS_1
"Tidak enak hati kenapa?"
"Daniel kan punya segalanya sedangkan Citra ? Kamu tahu sendiri kan, apa pekerjaannya? Jadi itu yang membutanya minder,"
"Benarkah? Berarti kamu pernah minder mendapatkan suami yang begitu hebat sepertiku, hm?" tanya Darren sambil terkekeh geli.
"Dulu aku sempet minder, Mas. Aku pikir kamu tidak akan mungkin membalas perasaanku. Tapi ternyata cintaku terbalas," jawab Kiran ia melingkarkan tangannya pada lengan Darren.
Darren tertawa pelan tanpa membalas ucapan Kiran. Setelah itu, ia merengkuh pinggang Kiran dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Mas....," panggil Kiran dengan lembut setelah beberapa saat ia terdiam. Kiran mengeratkan pelukannya pada lengan Darren sembari menyadarkan kepalanya pada bahu Darren.
"Kenapa? Kamu butuh sesuatu, hm?"
Kiran menggeleng. Namun setelahnya ia berkata, " Apa mas Arya sudah bercerita padamu?"
"Bercerita tentang apa?"
"Tentang Ayahku? Apakah dia juga mengatakannya padamu?" tanya Kiran lagi. Ia mendongak dan langsung beradu pandang dengan Darren.
"Ya dia mau membantumu untuk menemukan Ayahmu, kan?" Darren tersenyum tipis ia mengecup bibir Kiran singkat lalu mengusapnya lembut.
Kiran tidak menjawab. Matanya justru berkaca - kaca. Selain itu bibirnya bergetar pelan, menandakan dirinya sedang menahan tangis.
" Kenapa menangis, hm? Seharusnya kamu bahagia karena Arya mau membantu kita, Sayang,"
"A..Aku memang bahagia, Mas. Tapi entah kenapa aku merasa tidak sanggup jika harus bertemu dengan Ayahku," jawab Kiran. Suaranya terdengar lirih tetapi begitu menyayat hati.
"Tidak sanggup kenapa? Bukankah selama ini kamu sangat ingin bertemu dengannya?"
"Aku tidak sanggup menahan rasa kecewa, Mas. Aku tidak membencinya, tapi entah kenapa rasanya begitu sulit untuk memaafkannya. Dia begitu jahat meninggalkan ibu dengan alasan merantau. Padahal di...." Kiran tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia menangis terisak dalam pelukan Darren.
"Jangan berpikir macam - macam begitu, Ran! Bisa saja Ayahmu memiliki alasan yang tidak bisa membuatnya kembali," ujar Darren berusaha menenangkan Kiran.
Jangan lupa untuk selalu like, komen dan Vote.
__ADS_1