
Kevin menggelengkan kepala saat bayangan dirinya akan hidup miskin mulai berputar di pelupuk matanya. Sial! Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan semua apa yang aku miliki," gumam Kevin sambil memijat pelipisnya.
Tidak berbeda jauh dari Kevin, Bima pun merasakan hal yang sama. Meski sedari tadi ia terus menguatkan diri, tapi nyatanya hatinya tidak sekuat itu. Bima sangat cemas dengan kelangsungan hidupnya di masa depan.
"Aku tidak mau hidup miskin? Astaga? Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?" Kevin mengacak rambutnya dengan kasar. Kali ini benar - benar frustasi.
Mendengar ucapan Bima, Cindy mengusap wajahnya pelan. Ia sendiri pun mulai merasa pusing karena usaha yang selama ini ia kembangkan yang di mulai dari nol perlahan hancur dalam waktu satu malam.
Cindy menunduk, ia mengepalkan tangan sembari menggeram menahan amarah yang begitu besar di hatinya.
"Aku tidak bisa hidup miskin! Sial! Aku juga harus segera bertindak!"
Saat ketiganya sedang meratapi nasib tiba - tiba pintu utama terbuka dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Mereka sontak menoleh dan terkejut saat melihat Vanesha yang tampak murka di ambang pintu.
"Apa - apaan kamu Vanesha! Apa kamu sudah tidak memiliki sopan santun di rumah Suamimu!" Sentak Kevin. Ia berdiri lalu berjalan mendekati Vanesha.
"Kamu yang apa - apaan, Vin? Gara - gara kamu, dan kedua orang tua bodohmu itu! Karirku menjadi hancur, sial! Aku sangat menyesal menikah denganmu!" balas Vanesha matanya melotot dan raut wajahnya jelas menujukkan kemarahan.
"Apa maksudmu? Tunggu, jangan - jangan pekerjaan kamu juga bermasalah?" tanya Kevin ia bersedekap sembari menatap lurus ke arah Vanesha.
"Ya! Dan semua itu terjadi gara - gara ulah kalian bertiga. Padahal aku tidak pernah sekalipun ikut campur dengan rencana bodoh kalian. Tapi, kenapa aku juga terkena imbasnya?!"
"Ya mana aku tahu! Tapi selagi kamu masih menjadi istriku, apapun yang aku lakukan maka kamu pasti juga akan terlibat." ujar Kevin.
Jujur saja, Kevin sangat terkejut mendengar pengakuan Vanesha. Ia pikir Kenzo hanya mengahancurkan usaha keluarganya saja. Namun, Vanesha pun ikut merasakan dampaknya.
"Brengsek! Aku sangat menyesal karena sudah menikahi laki - laki bodoh sepertimu," Teriak Vanesha kesal.
Kevin menaikan sebelah alisnya.Ia menyeringai kemudian mendorong tubuh Vanesha hingga membentur dinding. Setelahnya ia pun mengurung Vanesha dengan kedua tangannya.
"Kau pikir aku tidak menyesal. Nesh? Kamu itu sangat tidak berguna.Bahkan rasanya aku sudah muak untuk melihat wajah sok cantik mu itu," balas Kevin dengan kasar.
"Apa?! Kamu bilang muak? Wah, hebat sekali. Padahal selama ini aku sudah mengikuti semua permintaan kamu.Dan sekarang kamu muak?"
"Ya, aku sudah muak memiliki istri bodoh seperti mu! Istri yang tidak berguna dan hanya selalu mementingkan pekerjaan!"
"Baik! Kalau begitu sekarang juga aku mau meminta cerai darimu! Aku sudah tidak tahan jika harus terus hidup bersama denganmu,"
Kevin terkekeh sumbang sembari mencengkram kedua bahu Vanesha. Tentu saja ia tidak akan melepaskan Vanesha begitu saja.
"Kamu pikir aku akan menuruti ucapanmu begitu saja, Nesh? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu."
Vanesha berdecak kesal. Ia mendorong tubuh Kevin hingga mundur beberapa langkah. Setelah itu, Vanesha pun kembali berkata, "untuk apa kamu tetap menahanku? Bukankah kamu sudah muak melihatku?"
__ADS_1
"Tentu saja aku menahanmu hanya karena ingin, melihatmu menderita di sampingku,"
"Brengsek kamu, Vin! Dengan atau tanpa persetujuan darimu, aku akan tetap mengajukan gugatan cerai.
"Kau....." Kevin mengangkat tangannya. Ia melayangkan sebuah tamparan, tetapi tangannya berhasil di cekal oleh Vanesha.
"Apa? Apa kamu pikir aku tidak bisa melawanmu, hm? Cih! Pria pengkhianat dan bodoh sepertimu tidak pantas di pertahankan"
"Apa maksudmu?"
"Apa kamu pikir aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan Shelvi, Vin?"
Kevin membalalakan mata. Ia sangat terkejut setelah mendengar ucapan Vanesha. Selama ini ia tidak pernah berpikir jika Vanesha akan mengetahui perselingkuhannya dengan Shelvi. Namun, dugaannya salah besar.
"Sejak kapan kamu tahu?"
"Sejak kita libur bertega. Kamu kira aku wanita bodoh, hmm? Haha...., mulai sekarang anggap kita tidak pernah saling mengenal!" Ujar Vanesha sembari menghempaskan tangan Kevin.
Vanesha langsung berbalik, dan meninggalkan kediaman Bima. Namun langkahnya terhenti karena Kevin mencekal pergelangan tangannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Nesh!"
"Lepaskan aku, Vin."
"Ti...."
"Bukankah kalian yang sudah hidup miskin? Apa kamu pikir aku sudah bangkrut hanya karena kehilangan pekerjaan sebagai model?" tanya Vanesha sambil menatap sinis ke arah Cindy.
"Berani sekali kamu berbicara seperti itu!" Teriak Cindy kesal.
"Kenyataan bukan? Sudahlah, aku anggap semuanya sudah selesai." ucap Vanesha.
Kevin melepaskan tangan Vanesha. Tangannya sedikit gemetar setelah melepaskan kepergian Vanesha. Napas Kevin memburu, baru kali ini ia merasa hampa karena Vanesha.
"Bangsat! Awas saja kau, Nesh! Jangan harap aku mau memaafkanmu!" Teriak Kevin sambil menendang pintu.
Kini keadaan Bima semakin rumit. Namun siapa yang peduli pada orang yang jahat seperti mereka?
Bukankah ini imbalan yang tepat atas kejahatan yang telah mereka lakukan?
***
"Kenapa kalian tidak memberitahu saya kalau Darren masuk rumah sakit?" tanya Pandu sambil menatap tajam ke arah anak buahnya.
__ADS_1
"Maaf Pak, kami pikir anda sudah tahu?"
"Dasar tidak berguna! Astaga, anak dan menantu saya terluka, tapi saya di sini malah duduk santai. Tidak bisa di biarkan saya harus segera kesana," ucap Pandu.
Tanpa banyak bicara lagi, Pandu meninggalkan para anak buahnya. Ia berjalan tergesa - gesa menghampiri Lesti yang sedang memas di dapur.
"Les, kita harus kerumah saki sekarang!" Ucap Pandu tergesa - gesa.
"Siapa yang sakit, Mas?" tanya Lesti.
"Darren koma, dia tertembak oleh orang jahat yang berusaha menghancurkan keluarganya, Darren?" jawab Pandu Pandu cepat.
"Apa?! Ayo kita bersiap - siap, Mas. Kiran saat ini pasti sangat sedih," balas Lesti khawatir.
"Ya, kamu cepatlah bersiap. Aku tunggu di luar, dan ingat! Jangan lama - lama karena hari sudah mulai sore,"
"Ya,"
Setelah selesai bersiap, Lesti bergegas langsung menghampiri Pandu. Raut wajahnya di penuhi kekhawatiran karena telah memikirkan Darren serta Kiran.
"Kira - kira siapa yah, yang berani melakukan hal buruk kepada Darren, Mas?"
"Entahlah, tapi nanti kita tanya saja kepada Pak Kenzo,"
"Semoga saja musuh Darren itu, sudah di amankan oleh pihak kepolisian. Aku jadi was - was memikirkan mereka, Mas."
"Hmm, tapi menurut para anak buahku mereka belum di tangkap. Bahkan mereka sedang kembali menyusun rencana jahat."
"Astaga, sungguh manusia yang sangat kejam. Lalu apa yang harus kita lakukan, Mas? Kita tidak boleh diam saja. Saat keluarga anak kita dalam bahaya."
"Kamu jangan khawatir, Les. Aku tidak akan membiarkan siapapun berani menyentuh Kiran dan keluarganya,"
"Jadi..."
"Ya, aku sudah mencari beberapa orang untuk mencari informasi tentang mereka,"
"Kalau sudah ketemu bagaimana?" tanya Lesti.
"Musnahkan mereka. Aku tidak segan - segan untuk menghabisi siapa saja yang berani mengusik ketenangan keluargaku,"
Bersambung....
Kira - kira sanggupkah Bima menahan semuanya? Lalu bagaimana jadinya jika dia membangun kerja sama dengan orang lain lagi selain Niko?
__ADS_1
Nantikan terus kisah mereka ya! Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya.