Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Titik Terendah


__ADS_3

Oleh karena itu, tanpa basa - basi Bara bergegas menyusul Kenzo. Dan di sinilah ia sekarang. Bara menatap tajam penuh minat ke arah Bima.


"Apa kamu begitu lemah, hingga menggunakan senjata, Bima? Tidak aku sangka dari dulu hingga sekarang kamu masih sama saja. Licik dan pengecut!"


"Lama tidak berjumpa Bara. Ngomong - ngomong, bagaimana kabar keluargamu? Sudah hancur atau belum? Haha.. Putrimu sungguh luar biasa," kata Bima. Ia tertawa renyah tanpa merasa bersalah kepada Bara.


"Sialan! Sudah tua tapi masih banyak gaya. Lebih baik kamu mati saja, Bima. Itu tanah kuburan sudah merindukan kamu!" Tukas Bara dengan suara yang tinggi. Rasa marahnya begitu besar dan menggebu - gebu.


Kenzo terkekeh sumbang. Ucapan Bara memang benar adanya. Bima sudah terlalu tua untuk bermain - main dengan senjata. Dan lagi ia terlalu jahat untuk ukuran seorang manusia.


"Kalian berdua yang pantas mati. Sudah tua kok, mainnya keroyokan," balas Bima sambil tersenyum miring. Sementara di sampingnya, Cindy. Sudah mulai merasa tidak nyaman lagi. Ia tidak suka di antara pria - pria yang tengah di liputi oleh emosi. Meskipun ia sendiri suka membuat orang emosi"


"Keroyokan? Kamu mau tahu bagaimana rasanya keroyokan yang sebenarnya Bima?" Bara bersedekap. Aura kemarahan jelas terlihat dari wajah maupun pancaran matanya.


Tidak lama setelah Bara selesai bicara, dari luar dua orang pria masuk. Bima yang semula terlihat santai, mendadak pucat. Jantungnya memburu, apalagi ketika dua orang itu mengacungkan pistol ke arahnya.


Kedua pria itu adalah Alex dan juga Bastian. Keduanya baru saja sampai setelah beberapa saat yang lalu Daniel memberikan kabar. Seperti biasa, Alex tampak santai meski pancaran matanya penuh kemarahan.


"Katakan, bagian tubuh mana yang ingin saya hancurkan?" tanya Alex. Ia tersenyum sinis sembari memainkan pistol di kedua tangannya.


"Cih! Kalian benar - benar brengsek!" Tukas Bima. Tangannya mengepal, tapi dengan sekejap ia menyembunyikan pistol di belakang tubuhnya.


"Yang brengsek itu kamu!" Balas Bastian sembari mendekat ke arah Bima.


Bima dan Cindy tidak banyak bergerak. Keduanya gugup dan takut karena berhadapan dengan empat pria yang begitu berbahaya.


"Sepertinya, kita harus pergi dari sini, Mas. Kita bisa mati kalau terus disini," kata Cindy sembari merangkul lengan Bima.


"Kamu benar, tapi memangnya mereka akan membiarkan kita pergi? Sial! Kita butuh strategi lain," balas Bima dengan gusar. Rasanya ia bingung harus melakukan apa.


"Kalian berdua tidak boleh pergi dari sini. Dan sebagai gantinya kalian berdua ikut kami ke kantor polisi," ucap Bastian


"Jangan bicara sembarangan! Aku tidak bersalah, jadi untuk apa pergi ke kantor polisi? Justru kalian yang harusnya masuk penjara karena tuduhan pengeroyokan!" ucap Bkma

__ADS_1


"Kamu merasa tidak bersalah? Kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan kepada Kenzo?" ucap Bara


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Cih! Dia benar - benar berlebihan hanya karena luka begitu, tapi...."


"Cukup! Jangan membuat keributan lagi di rumah saya! Kalian berdua harus pergi dari sini." ucap Kenzo


"Tidak bisa begitu, Ken! Kita tidak bisa membiarkan dua parasit itu tetap hidup dengan penuh kebebasan!" Kata Alex. Tentu ia tidak terima jika Bima dan Cindy di biarkan pergi begitu saja.


Kenzo menghembuskan napas panjang. Ia meringis merasakan lukanya yang semakin perih.


"Kalau begitu, kalian urus mereka. Saya keluar dulu," ucap Kenzo. Ia menghela napas pelan sembari menatap kebencian ke arah Bima.


"Kamu tenang saja, Ken. Mereka berdua beres di tangan kami. Sekarang obatilah tanganmu! Jangan sampai Helena melihatnya." ucap Alex


"Hmm..," Kenzo hanya bergumam pelan. Setelah itu, ia pun berlalu pergi meninggalkan ruang tersebut.


Seperginya Kenzo, Alex mulai menujukkan kemarahannya. Ia mengusap lembut pistol di tangannya. Setelah itu, ia melirik ke arah Bima.


"Oh ya, kita lihat saja nanti," balas Bima sambil menyeringai.


Alex, Bastian dan Bara terdiam, ketiganya menatap penuh selidik ke arah Bima.


"Sepertinya memang benar, dia sudah merencanakan sesuatu yang cukup besar," gumam Alex.


"Kita apakan mereka, Alex? Tidak mungkin kita menyeret mereka berdua. "Di sini masih ramai orang," kata Bastian. Ia menatap lekat ke arah Bima dan juga Cindy yang mulai tedlihat gelisah.


"Memangnya kenapa kalau banyak orang? Bukankah justru itu bagus? semua orang akan tahu kalau mereka itu orang jahat." kata Bara. Ia bersedekap sembari bersandar di dinding.


"Tidak bisa begitu konsepnya, Bara. kita tidak bisa 'menunjukkan' wajah ke semua orang. Lagi pula, apa kata orang nanti jika melihat Bima di bawa pergi? Bukankah hal itu akan menimbulkan spekulasi yang buruk tentang kita?" Balas Bastian tanpa menatap ke arah Bara. Sebab fokusnya hanya pada Bima dan Cindy.


Bara menganggukan kepala. Apalagi yang di katakan oleh Bastian memang benar.


***

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Kiran. Ia terkejut saat melihat Darren yang tampak begitu kacau. Bahkan Kiran pun melihat air mata di sudut mata Darren.


"Tidak apa - apa," jawab Darren singkat. Ia duduk di tepi ranjang sembari menundukan kepala. Tangannya mengepal kuat dan rasa marah pun tak kunjung sirna dari dalam hatinya.


Kiran menghembuskan napas pelan.Ia tahu jika saat ini Darren telah berbohong kepadanya.


"Katanya kita harus saling terbuka, Mas. Tapi kenapa kamu tidak mau jujur, hm? Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dariku?".


Darren menggeleng pelan, ia menatap Kiran sekilas kemudian memeluknya dengan erat. Darren menumupukkan dagunya pada bahu Kiran perlahan - perlahan, bahu Darren bergetar. Ia menangis di pelukkan Kiran.


"Mas..."


"Aku tidak pernah meminta apa pun pada Om Bima. Jangankan meminta, aku bahkan sering memberinya banyak hal. Aku juga sering mengalah pada Kevin. Tapi kenapa dia sangat jahat padaku, Kenapa mereka berdua selalu ingin menghancurkan hidupku, Ran" Ucap Darren. Ia menangis karena luka yang begitu besar di hatinya akibat perbuatan Bima dan anaknya sekaligus sahabat baiknya dulu.


"Aku tahu bagaimana perasaan mu, Mas. Tapi kamu tidak boleh seperti ini. Jangan menangis dan terlihat lemah!" Kata Kiran sambil menangkup kedua pipi Darren.


Darren menghembuskan napas panjang. ia tahu ucapan Kiran memang benar. Namun, sekuat apapun Darren mencoba. Tapi kali ini ia tidak mampu lagi.


Kiran tersenyum sendu. Tentu ia tahu betul bagaimana perasaan Darren saat ini. Namun, ia tidak bisa melakukan banyak hal, ia hanya bisa memeluk dan menenangkan Darren.


"Jangan sedih lagi! Kamu sudah berjanji, kan? Kita akan bahagia?"


Darren mengangguk pelan. Setelahnya ia pun menangkup kedua pipi Kiran.


"Janji ya, kamu tidak boleh pergi dari hidupku. Jangan meninggalkan aku dan mengabaikanku,"


"Aku janji, Mas. Aku akan selalu berada di sampingmu. Bersama Arka dan anak - anak kita lainnya kelak."


"Terima kasih banyak. Aku sangat mecintaimu,"


"Aku juga mencintaimu..."


Jangan lupa, like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2