Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kedok Shelvi Terbongkar


__ADS_3

"Alasan! Sudahlah, Aku sudah capek mendengar semua kata - kata manismu," balas Kiran. Ia menyingkirkan tangan Darren dari pipinya.


Kiran kembali berbaring. ia membelakangi Darren yang kini menatap sendu ke arahnya. Kali ini Darren tidak punya pilihan lain. Hatinya menyerah untuk menenangkan hati Kiran.


"Kalau begitu katakan, Ran! Apa kamu benar - benar ingin berpisah dariku," Tanya Darren lagi. Karena ia ingin memastikan jika keputusannya tidak salah.


Kiran tidak menjawab, ia justru menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Seolah - olah, Kiran sudah tidak mau berbicara lagi dengan Darren.


Melihat hal tersebut, Darren tersenyum tipis. Air matanya kembali turun membasahi pipi. Darren mengangkat tangannya lalu menyentuh pundak Kiran.


"Kalau begitu baiklah. Aku akan segera mengurus semuanya. Sekali lagi maafkan aku. Maaf karena aku tidak bisa menepati janji. Maaf juga karena sudah menyakitimu," bisik Darren tepat di samping telinga Kiran.


Setelah merasa puas menatap Kiran. yang bersembunyi di bawah selimut. Darren pun beranjak. ia memilih tidur di ruang kerja Kenzo yang sekarang beralih menjadi ruang kerjanya.


Tepat setelah Darren menutup pintu kamar. Kiran menyingkap selimut. ia berbalik sedih menatap ke arah pintu.


"Entah dia jujur atau tidak. Tapi, apa aku bisa berpisah darinya," Lirih Kiran.


*****


"Darren kamu sudah pulang? Kenapa kamu tidak mengabariku?" tanya Shelvi saat melihat Darren baru menuruni tangga. Senyumnya tampak begitu manis, tetapi Darren justru tidak membalasnya.


"Memangnya kamu siapa? Kenapa aku harus mengabarimu jika pulang?" Tanya Darren balik. Ia memasukkan kedua tangannya pada saku celana.


Shelvi mengernyitkan dahi. Ia heran sebab kali ini ia merasa jika Darren sudah berubah. Darren tidak bersikap lembut dan penuh perhatian padanya.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku, Kan, Temanmu. Jadi...


"Teman apa maksudmu? Sudahlah jangan banyak basa - basi lagi, Shel. Sepertinya kamu memang tidak pantas berada di sini," Kata Darren tatapan matanya begitu tajam. Bagaikan seekor elang yang siap memangsa.


"Apa maksudmu, Darren? Apa sekarang kamu juga ikutan membenciku? Kenapa kamu lakukan ini? Aku...., aku merasa terluka dengan ucapanmu itu," kata Shelvi. ia menunduk dengan bahu yang bergetar pelan.

__ADS_1


"Aku jauh lebih terluka karena sudah percaya dengan wanita sepertimu, Shel! Tidak aku sangka ternyata kamu benar - benar ular berbisa!" bentak Darren. Nada suaranya mengalun tinggi dan sarat akan emosi.


Shelvi membelalakan matanya. Napasnya memburu dan jantungnya berdebar kencang. Setelah mendengar ucapan Darren. Ia menelan salivanya susah payah saat perasaan takut mulai memasuki relung hatinya.


"Darren, K..Kamu kenapa bisa berbicara seperti itu? Apa aku sudah berbuat salah padamu? Atau apa?" tanya Shelvi. Wajahnya terlihat begitu menderita. Namun, kali ini Darren sama sekali tidak terpengaruh.


Darren tersenyum sinis. Napasnya kian memburu seiring dengan emosinya yang mulai menggebu - gebu. Tanpa banyak bicara lagi, Darren merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.


Mengotak - atik ponselnya beberapa saat kemudian menujukkan sebuah vidio pada Shelvi. Melihat video tersebut, Mata Shelvi membelalak lebar. Keringat dingin pun mulai turun dan membasahi pelipisnya.


"D..Darren, I..Ini....." Shelvi tidak mampu melanjutkan ucapannya. ia menatap Darren yang kini mulai menunjukkan kemarahannya.


"Selama ini aku sangat percaya padamu, Shel. Aku pikir kamu sudah berubah dan meminta maaf dengan tulus. Tapi ternyata?" Darren menyeringai, ia merasa begitu bodoh karena sudah dengan percaya pada Shelvi dari pada Kiran.


"Darren...."


"Asal kamu tahu, Shel! Diam - diam aku sudah menaruh CCTV di kamar tamu dan menyelidikimu. Dan ternyata? Hahaha hebat sekali, kamu benar - benar pembohong ulung," tukas Darren.


Ya......, beberapa hari ini Darren sudah menyelidiki Shelvi. Bahkan Darren sengaja melukai hati Kiran dan membela Shelvi hanya untuk membuktikan semuanya.


Meski tindakannya sudah salah besar karena melukai Kiran, tetapi Darren bersyukur sebab kedok Shelvi terbongkar. Bahkan, kini Darren juga sudah tahu siapa yang meniduri Shelvi. Bukan karena di perkosa melainkan karena keinginan keduanya.


"A...Aku bisa jelaskan ini, Darren. Aku...."


"Sudahlah Shel! Tidak ada yang perlu kamu jelaskan. Kamu berbohong hanya karena ingin menghancurkan semuanya, Kan?"


"Darren, dengarkan dulu. Aku benar - benar di perko...."


"Di perkosa apa maksudmu? Bukankah kamu sengaja tidur dengan Kevin di sebuah hotel,hm? Ah, ataukah aku perlu tunjukkan buktinya?" Sergah Darren.


Wajah Shelvi memucat. Semua rencana yang telah ia susun dengan matang, mendadak hancur berantakan.

__ADS_1


"Kamu....., Bukankah selama ini percaya denganku, Darren? Bahkan kamu lebih memilih aku daripada dengan Kiran. Jadi sejak kapan kamu menyelidiki semuanya?"


"Sejak Ayah dan Mamah pergi keluar negeri. Dan sejak saat itu gerak gerikmu sudah aku selidiki!"


"Darren kamu......"


"Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan hal yang menjijikan seperti itu, Shel. Aku pikir kamu benar - benar membutuhkan pertolongan. Namun, kenyataannya? Kamu hanya ingin merusak kebahagiaan orang lain.," ujar Darren panjang lebar.


"T...Tapi aku terpaksa melakukan ini, Darren. Aku mencintaimu, aku sangat menginginkan kamu menjadi suamiku." balas Shelvi. Suaranya terdengar parau ketika ia menahan tangisnya.


"Persetan dengan kata cinta, Shel! Seharusnya kamu tuh mikir! Aku sudah memiliki istri," tukas Darren ia berkacak pinggang sembari menatap tajam ke arah Shelvi.


"Tapi, Darren....." Shelvi menghentikkan ucapannya. Ia terdiam ketika Darren mengangkat tangannya.


"Kamu tahu apa yang sudah kamu perbuat, hm? Sekarang pernikahanku hancur,"


"Bukankah itu bagus? Kalau kamu bercerai aku bersedia menjadi istrimu Darren. Atau kalau perlu, ayo kita menikah sekarang," ajak Shelvi. Wajahnya tampak berbinar, seolah - olah rasa malu yang di milikinya telah sirna.


"Astaga..., Kamu benar - benar tidak punya rasa malu, Shel? Kamu juga sudah menghancurkan pernikahanku. Lalu sekarang? Apa...."


"Tunggu, Sejak kapan aku menghancurkan pernikahanmu? Bukankah kamu sendiri sendiri yang sudah menghancurkannya, Darren?" Shelvi tersenyum miring. Kali ini ia mencoba menyudutkan Darren.


"Apa maksudmu?" tanya Darren balik. ia mengernyitkan dahi dan menatap heran ke arah Shelvi. Darren benar - benar tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Shelvi.


"Kalau kamu memang pintar seharusnya kamu tidak perlu menyakiti atau bahkan memukul Kiran. Bisa saja kamu langsung menceritakan pada Kiran, Kan? Tapi ternyata kamu begitu bodoh," jawab Shelvi ia terkekeh sambil bersedekap.


Darren terdiam, Apa yang dikatakan Shelvi memang benar adanya. Jika dia bercerita dengan Kiran, maka semuanya akan baik - baik saja. Namun, ada banyak sekali hal yang menjadi pertimbangan untuk Darren.


Salah satunya, Darren tidak ingin membuat Kiran memiliki beban pikiran. Meskipun pada akhirnya dia sendirilah yang telah membuat Kiran memiliki beban pikiran yang cukup besar. Darren memang menyesal, tetapi ia lega karena pada akhirnya ia tidak terjerumus dalam perangkap Shelvi.


"Sudahlah, Jangan banyak bicara lagi, Shel! Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" kata Darren tatapan matanya begitu tajam, tetapi kali ini Shelvi sama sekali tidak takut padanya.

__ADS_1


Alih - alih takut. Shelvi justru terang - terangan menggoda Darren. ia tersenyum nakal sembari berjalan mendekati Darren. Kenapa aku harus pergi? Bukankah sebentar lagi kamu....


Jangan lupa like komen dan vote. kalau berkenan tekan tombol like..like..like..like. Di tunggu komentarnya ya~~


__ADS_2