Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Naik Pitam


__ADS_3

Alex tidak langsung menjawab. ia berkacak pinggang kemudian memberikan sebuah pukulan kepada Bima.


"Istrimu! Sudah melarikan diri Bodoh! Sialan! Kau pasti sudah sengkokol untuk merencanakan itu, kan?" tanya Alex.


Mendengar ucapan Alex. Bima terdiam, akan tetapi di detik selanjutnya ia langsung tertawa tanpa mempedulikan tatapan mematikan dari Alex.


"Mampus kau, Alex! Aku yakin sebentar lagi kau akan mati di tangan anakku. Haha! Sebelum waktu itu tiba, nikmatilah hidupmu."


Brak.


Alex semakin naik pitam. Kali ini ia mendorong Bima sampai menabrak sebuah kursi. Bima mengerang kesakitan, tetapi ia tidak bisa menghentikkan tawanya.


"Justru, kau akan mati di tanganku, Bima! Kalau bukan karena rasa kasihan, saya sudah pasti mengahbisimu," ucap Alex.


"Oh ya? Kamu tidak mungkin berani melakukan itu. Bukankah kau menjadi lemah lembut semenjak kau kenal dengan Kenzo? Yah... Kenzo memang tidak pantas menjadi Bosmu."


"Diam! Jangan sampai saya sumpal mulutmu dengan peluru dari pistol ini, Bima!" Sentak Alex yang kini sudah sangat marah. Ia mengacungkan pistolnya tepat ke arah kepala Bima.


Napas Alex memburu, rasanya ia begitu kesal setelah mendapat kabar dari Bastian jika Cindy berhasil meloloskan diri.


Alex mengacak rambutnya dengan kasar. Ia amat sangat frustasi saat memikirkan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi.


Melihat Alex yang terlihat begitu frustasi, Bima terkekeh sumbang. Rasanya ia begitu puas menyaksikan manusia sekuat Alex tampak tidak berdaya.


"Nikmatilah kebebasanmu, Alex! Sebentar lagi kamu akan musnah dari muka bumi ini!" Ujar Bima sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Diam kau bedebah!" ucap Alex begitu emosi.


"Hahahha, rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihatmu dan Kenzo mati."


"Brengsek."


Alex, kembali mendekati Bima. Namun, langkah terhenti karena ponselnya berdering. Alex menghela napas pelan. Dengan penuh emosi ia melihat siapa yang meneleponnya.


Alex mengernyitkan dahinya, ketika mendapatkan telepon dari Ivan. Ia heran, sebab bulu lama ini ia menyuruh Ivan untuk menyelidiki rumah Bima.


Alex bergegas menjauh dari Bima, dan menjawab panggilan dari Ivan.


"Ada apa?" tanya Alex.


"Bos, dugaan kita memang benar. Kevin memang bekerja sama dengan seseorang yang bernama, Niko,"


"Aku tidak mungkin salah, Bos. Tadi aku mendatangi rumah Bima. Dan aku melihat, bahkan bertanya langsung kepada Kevin, jika orang itu, memanglah Niko.


"Untuk apa kau datang kesana?"


"Tentu saja untuk mencari informasi. Untungnya Kevin, tidak tahu kalau kita sudah bekerja sama. Jadi aku bebas kekuar masuk ke rumahnya,".


"Baiklah!"


Tut.

__ADS_1


Aex mematikan sambungan teleponnya. Ia memejamkan mata kemudian tersenyum miring.


"Niko, Ya? Kita lihat saja, sejauh mana kau bisa melawan saya...


****


"Lun, kamu merasa nggak sih? Seoertinya ada orang yang mengikuti kita?" tanya Kiran sambik menatap ke arah Luna. Kali ini, setelah meminta izin kepada Darren, Kiran dan juga Luna, mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan.


"Tidak, kok. Memangnya kenapa, Kak?"


"Aku rasa dari tadi ada orang yang mengikuti kita. Aku jadi takut," ujar Kiran pada Luna.


"Tapi persaanku tidak enak, Lun. Kita pulang yuk!" Ajak Kiran memegang lengan Luna.


"Tanggung, Kak. Lagi pula, kita jarang - jarang pergi berdua begini. Mumpung Arka sama suami kamu nggak di rumah." ujar Luna.


"Tapi..... "


"Sudahlah ayo kita senang - senang," ucap Rena.


Kiran tidak punya pilihan lain, meski merasa gelisah tetapi ia tetap mengikuti langkah Kaki Luna,"


"Aku harap ini hanya .perasaanku," gumam Kiran.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.


__ADS_2