Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Sebuah Tawaran


__ADS_3

"Kalau begitu, apa pantas seorang suami memukul istrinya yang sedang hamil, Mas? Mungkin kalau kamu tidak menamparku aku akan memaafkanmu," balas Kiran. Tatapan matanya begitu tajam meski air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


Darren terdiam. Ia akui dirinya sudah keterlaluan sebab berani main tangan kepada Kiran. Selama ini, meski semarah apapun Darren tidak pernah mengangkat tangannya kepada wanita.


"Jadi kamu benar - benar tidak mau memaafkanku?" tanya Darren sembari melepaskan cekalan tangannya pada Kiran. ia tersenyum sendu lalu mundur beberapa langkah.


"Apa kamu fikir memaafkan itu mudah, hm?" Kiran tersenyum paksa ia merapikan bajunya yang sedikit berantakan setelah itu, ia berjalan mrninggalkan Darren sambil membawa barang belanjaannya.


Darren terdiam sembari menatap punggung Kiran yang mulai menjauhinya. ia menggeram marah sembari mengambil perhiasan yang sudah ia siapakan untuk Kiran. Darren memasukkanya dalam saku celana lalu bergegas langsung menyusul istrinya itu.


"Biakan aku yang membayar semuanya. Kamu lebih baik duduklah dulu," kata Darren sembari mengambil barang - barang yang di pegang oleh Kiran. Ia tersenyum tipis kemudian mempersilahkan Kiran untuk duduk di sebuah kursi.


Kiran yang sudah merasa lelah pun menurut. ia duduk sembari memainkan ponselnya. Kiran tersenyum tipis setelah mendapatkan sebuah pesan masuk dari Arya.


"Ah, Kira - Kira bagaimana kabarnya sekarang, Apakah Mas Arya sudah mempunyai kekasih?" gumam Kiran. ia terkekeh pelan lalu mulai membalas pesan yang di kirimkan oleh Arya.


Kiran begitu larut berkirim pesan dengan Arya. Hingga tanpa ia sadari, Darren sudah berdiri di depannya cukup lama. Tatapan Darren yang semula lembut, Perlahan mulai berubah. Raut wajahnya tampak menegang karena perasaan marah yang diam - diam muncul di hatinya.


Darren cemburu yang melihat Kiran begitu bahagia saat melihat ponsel. Ia juga sakit hati ketika samar - samar dirinya mendengar nama Arya yang keluar dari bibir Kiran.


"Mau pulang denganku atau sendiri?" tanya Darren. Suaranya begitu datar seolah tidak ada emosi apapun di dalamnya.


Kiran tersentak kaget. ia mendongak kemudian menatap belanjaannya yang terletak di atas meja. Kiran mengangguk pelan, Setelah itu ia pun mengambilnya.


Tanpa mengatakan apapun lagi pada Darren, Kiran berjalan pergi. ia memilih menghindari Darren, dari pada harus sakit hati karena teringat kejadian semalam.


Melihat kepergian Kiran, Darren tersenyum miring. ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapan matanya begitu intens pada punggung Kiran yang sudah cukup jauh darinya.


"Baiklah, Mulai hari ini aku turuti maumu, Ran. kita kembali seperti semula." gumam Darren sambil tersenyum tipis.


Kiran menghembuskan napas panjang ia menatap ke arah bangunan di depannya dari dalam taksi. Hatinya begitu ragu jika harus meninggalkan Darren sendirian. Namun, di sisi lain Kiran tidak bisa menahan rasa sakit hatinya jika bertatapan dengan Darren.


"Sesekali dia harus di beri pelajaran agar tidak bertindak sesukanya, Ran. Jadi jangan ragu," gumam Kiran. Setelah menenangkan diri sejenak, Kiran pun meminta pada sopir taksi untuk mengantarkannya sampai ke rumah.

__ADS_1


Jika Kiran langsung memutuskan pulang ke rumah. Maka berbeda dengan Darren ia memilih datang ke kantor meski hari sudah terlalu siang.


Sepanjang perjalanan menuju kantor. Darren tampak lesu dan juga emosi. wajahnya yang tampan terlihat semakin menawan. dengan sorot matanya yang begitu tajam.


"Selamat siang pak? Ah, kebetulan Anda datang. Ada yang ingin bertemu." ujar Sekretaris baru Darren ketika melihat Darren baru saja sampai di ruang kerjanya.


"Siapa?" tanya Darren tanpa menatap ke arah sekretarisnya.


"Seorang pria, Pak. Sekarang dia sedang berada di ruang kerja pak Darren. Dia bilang na....."


"Cukup! Saya akan melihatnya sendiri lanjutkan pekerjaanmu," setelah itu ia bergegas memasuki ruang kerjanya.


Darren menghela napas pelan ketika melihat seorang pria yang berumur lebih muda darinya. Darren memasukan tangannya ke dalam saku celana. Setelah itu, ia pun mendekati pria tersebut.


"Ada perlu apa? Tumben sekali kamu datang kesini," ujar Darren sambil mentap pria berwajah manis di depannya.


"Tidak ada apa - apa. Aku hanya ingin mengunjungimu saja jawab Danu Teman kuliah Darren saat ini bekerja sebagai fotografer.


"Hm, Kalau tidak ada perlu apapun, pergilah! Aku sibuk dan tidak punya waktu mengurusimu," balas Darren.


"Berani bayar berapa?" tanya Darren. ia tersenyum miring lalu kembali sibuk.memeriksa beberapa dokumen miliknya.


"Ayolah Darren! Kita ini teman. Lagi pula ini bukan masalah besar. Aku hanya ingin kamu menjadi modelku," kata Danu. ia bersedekap sembari menatap lekat ke arah Darren.


"Tidak! Aku tidak sudi wajahku menjadi bahan tontonan orang - orang luaran sana," ujar Darren ketus.


"Aku mohon padamu, Darren! Aku tidak bisa menemukan pria yang cocok untuk project kali ini. Hanya kamu yang pantas menurutku untuk menjadi modelku." ucap Danu memohon.


"Aku tidak peduli. Lagi pula apa kamu tidak bisa melihat? Aku sangat sibuk." ujar Darren.


"Aku janji akan menuruti semua keinginanmu. Tapi kamu harus mau menjadi...." ucapan Danu terhenti saat melihat Darren mengangkat tangannya.


Darren mendengus kesal. Bersahabat bertahun - tahun lamanya dengan Danu, Darren tahu jika pria di depannya tidak akan berhenti jika keinginannya belum bisa terwujud. Oleh karena itu, dengan rasa penuh terpaksa, Darren bersedia menurutinya.

__ADS_1


"Oke! Tapi hanya satu kali."


"Kamu tenang saja!" ucap Danu. tersenyum lebar. Pria berusia 25 tahun itu tersebut merasa begitu bahagia. Sebab jarang bahkan hampir tidak pernah Darren bersedia menjadi seorang model.


"Hm, Model untuk apa?" tanya Darren lagi.


"Untuk majalah dan beberapa pakaian branded," jawab Danu.


Darren mengangguk lalu berakata "Hm, ada pasangannya atau hanya aku sendiri?"


"Tentu saja ada. Nantinya kamu akan berpasangan dengan....." Danu menatap ragu ke arah Darren. ia menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Siapa?"


"Aku takut kamu keberatan. Tapi, ah kamu kan sudah bersedia. Jadi kamu tidak bisa menolaknya," ujar Danu


"Siapa?" tanya Darren lagi.


"Vanesha"


"Apa?! kenapa harus dia? Brengsek! Apa kamu tidak tahu apa yang sudah terjadi antara aku dengannya."


"Justru karena itu, Darren. Kamu tahu? Banyak sekali netizen yang menginginkan kalian dalam satu frame. Jadi kupikir ini akan menjadi hal yang luar biasa dan di gemari," jelas Danu.


"Tapi aku tidak bisa melakukannya jika bersama dengan Vanesha. Ck! Kenapa kamu tidak bisa meminta kepada suaminya?" tanya Darren ia benar - benar kesal dengan Danu.


'Menyatukkannya dalam frame dengan Vanesha. Oh No!." ucap Darren dalam hati.


"Ini permintaan penggemar kalian, Darren. Masih banyak penggemar kalian yang tidak rela karena kalian berpisah. Jadi dengan ini, Mungkin bisa mengobati rasa rindu di hati mereka."


"Tapi aku tidak mau, Danu! Kamu tahu, aku sudah punya istri. Bagaimana kalau dia marah melihatku bersama dengan Vanesha?"


"What?!......

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2