
Hari sudah menjelang sore ketika Darren dan Kiran sampai di kediaman Kenzo. Senyum manis di bibir Kiran pun mengembang sempurna.Membuat Darren yang melihatnya semakin jatuh cinta.
"Hari ini dan seterusnya kita tinggal di rumah Ayah dulu yah, Mungkin setelah melahirkan kita baru pindah ke rumah kita sendiri," kata Darren. ia mengenggam tangan Kiran lembut lalu berjalan memasuki rumah.
"Kenapa begitu? memangnya tidak ada apa - apa kalau kita terus disini, Mas? Aku takut merepotkan Mamah." ujar Kiran, ia melirik Darren yang sedang berjalan tegap di sampingnya.
"Mama justru sangat senang, Sayang. Bahkan mama sendiri loh yang menyuruh kita untuk tinggal di sini,"
"Kalau begitu ya sudah. Aku juga senang bisa tinggal di sini. Kalau di rumah kita aku tidak punya teman untuk di ajak bercanda," ujar Kiran. ia terkekeh pelan lalu menggandeng lengan Darren dengan mesra.
"Benarkah? Kalau begitu besok kalau kita sudah pindah ke sana lagi. Aku akan mencarikan teman untukmu," kata Darren ia tersenyum simpul sembari mentap jahil ke arah Kiran.
Mendengar ucapan Darren, Kiran mengernyitkan dahi. ia heran sekaligus bingung dengan apa yang di maksud oleh Darren. Akhirnya, Kiran pun menghentikkan langkahnya.
"Teman? Teman apa maksudmu, Mas?" tanya Kiran. Tatapan matanya benar - benar lekat saat beradu pandang dengan Darren.
"Kamu kesepian dan butuh teman, Kan? Jadi besok aku akan memberikan seorang teman untukmu," jawab Darren. ia terkekeh geli saat melihat tatapan Kiran.
"Siapa? memangnya kamu yakin mau mencarikan aku teman, Mas?
"Aku juga tidak tahu, tapi bagaimana kalau aku menikah lagi? Bukankah nantinya kamu akan mendapatkan teman?"
Mata Kiran melotot dan mulutnya terbuka. Ucapan Darren benar - benar membuatnya kaget sekaligus kesal. "Kalau kau mau menikah lagi, lebih baik aku bersama Mas Arya saja. Karena dia itu tampan, baik hati dan juga perhatian sekali denganku," balas Kiran dengan sengaja memuji Arya di depan Darren.
"Aku cuma bercanda, Sayang? Mana mungkin aku menikah lagi, hm? Bagiku kamu saja sudah cukup Kok," kata Darren tertawa kecil lalu mengacak puncak kepala Kiran.
"Bercandanya nggak lucu, Mas!" ujar Kiran. ia bersedekap kemudian berjalan mendahului Darren.
Darren menggelengkan kepala. sejak bertemu kemarin, Darren merasa jika Kiran berubah menjadi manja padanya.
"Ahh, menggemaskan sekali, istriku," gumam Darren. ia tersenyum tipis lalu kembali melangkah mengejar Kiran.
Dari kejauhan Darren melihat Kiran hanya berdiri mematung di ambang pintu menuju ruang keluarga. ia heran, apalagi ketika melihat perubahan raut wajah Kiran.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Jangan murung gini dong! Aku kan cuma bercanda," kata Darren ia menyelipkan anak rambut Kiran ke belakang telinga.
"A...Aku tidak murung,Mas. Aku hanya....."
"Darren, kamu kemana saja? Aku rindu sekali sama kamu. Sudah lama loh, Aku nungguin kamu di sini," kata seorang gadis yang langsung memotong ucapan Kiran. Senyumnya tampak merekah dan matanya pun berbinar cerah ketika melihat Darren.
"Shelvi? ngapain kamu disini?" tanya Darren ia menatap tidak suka kearah Shelvi yang kini sudah berdiri di depannya.
Darren menghembuskan napas pelan. Perasaannya menjadi tidak nyaman dan campur aduk. Darren melirik ke arah Kiran. ia terkejut ketika samar - samar ia melihat setetes air mata turun membasahi pipi Kiran.
"Aku kangen kamu, makanya kesini. Oh iya, tante Helena mana? Aku bawa oleh - oleh buat dia," kata Shelvi sembari menunjukkan paper bag dengan logo dari sebuah merk ternama.
"M...Mas, aku masuk ke kamar dulu ya? Jangan lama - lama disini, nanti aku kangen sama kamu," ujar Kiran sambil bergelayut manja di lengan Darren. ia tersenyum manis lalu melirik tidak suka ke arah Shelvi.
Tentu saja Kiran tidak berniat pamer kemesraan di depan orang lain. Hanya saja, Kiran ingin menunjukkan kepada Shelvi jika Darren telah beristri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Kiran berharap Shelvi akan mengerti dan tidak lagi menganggu Darren.
"Jangan ke kamar sendirian, Sayang! Tunggu sebentar, aku mau bicara dulu sama Shelvi. Setelah itu kita ke kamar bersama," kata Darren mengedipkan sebelah matanya lalu mengecup singkat bibir Kiran.
Kiran mengerjapkan mata beberapa kali. Pipinya bersemu merah karena rasa gugup di hatinya. Kiran tidak meyangka jika Darren akan membalas sikap manjanya.
"Sialan! kita lihat saja nanti. Wanita rendahan sepertimu pasti akan di campakkan oleh Darren," gumam Shelvi
Shelvi menghembuskan napas panjang sebisa mungkin ia mencoba menyembunyikan emosinya. Shelvi tersenyum lalu menatap ke arah Kiran.
"Ngomong - ngomong kita belum berkenalan? Siapa namamu?" tanya Shelvi sembari mengulurkan tangannya.
Kiran terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membalas uluran tangan Shelvi. "N..Namaku Kiran, Mbak"
"Namanya bagus, tapi sayang nasibnya tragis," sindir Shelvi sambil tersenyum miring ke arah Kiran.
"Apa maksudmu, Mbak? Nasibku tidak tragis," balas Kiran ia merasa tidak terima dengan ucapan Shelvi
__ADS_1
"Jangan marah - marah begitu! Aku hanya bercanda saja kok. Oh iya, gimana rasanya hamil di luar nikah? Kamu nggak malu yah, di lihat sama orang - orang?
"Cukup Shelvi! jangan sampai membuatku marah!" ujar Darren ia mencoba mendinginkan Shelvi yang semakin menjadi - jadi.
"Marah kenapa? memangnya aku salah ya? Aku, kan hanya bertanya. Lagi pula apa yang aku bicarakan memang kenyataan, Kan?"
"Tapi kamu keterlaluan, Shel!! kamu....." ucapan Darren terhenti. ia menoleh ke arah Kiran yang tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku memang malu, Mbak. Tapi aku rasa lebih memalukan lagi kalau aku bersikap gatal dan menggoda suami orang.iiiihh....bukankah itu menjijikan, Mbak?" tanya Kiran. Entah keberanian dari mana hinggga dirinya berani menyindir Shelvi. Namun, yang jelas Kiran mulai marah dengan ucapan jahat Shelvi padanya.
Darren menaikan sebelah alisnya. Senyum tipis pun terukir di bibirnya setelah mendengar ucapan Kiran. " Sepertinya Istriku sudah mulai berubah," gumam Darren.
"Kamu...." Shelvi merasa geram tertahan. Tangannya terangkat tapi tidak lama kemudian ia buru - buru menurunkannya lagi. Hati Shelvi semakin meradang. Andai tidak ada Darren, Mungkin saat ini juga ia akan menghina Kiran dengan kata - kata kasar.
"Tapi kasihan loh, kalau anakmu lahir. Dia pasti akan disebut sebagai anak haram oleh teman - temannya," kata Shelvi lagi. Kali ini ia tersenyum puas karena merasa Kiran tidak akan mampu membalas ucapannya.
"Tidak ada anak haram di dunia ini, Mbak. Yang ada hanyalah perbuatan haram seorang gadis, yang terang - terangan menggoda Suami orang di depan Istrinya langsung," tukas Kiran. Suaranya terdengar santai, tetapi sukses membuat Shelvi diam tak berkutik.
Darren terkekeh geli. ia benar - benar terkejut melihat perubahan Kiran yang cukup besar. Jika Kiran yang dulu mana mungkin berani membalas ucapan tajam dari Shelvi.
"Mas aku ke kamar dulu, Silahkan selesaikan urusanmu dengan dia," ujar Kiran setelah beberapa saat tidak ada yang berbicara.
"Baiklah Sayang, aku akan segera menyusul." kata Darren.
Kiran menganggukan kepala. Setelah itu ia pun berjalan menuju ke kamar Darren yang terletak di lantai atas. Sepanjang perjalanan menuju kamar, Kiran terus menggerutu sembari mengusap perutnya. "Jangan dengarkan ucapan Tante jahat itu ya, Nak! Bagi mama kamu tetaplah anugerah terindah yang mama miliki."
Darren mulai bucin akut nih, sama Kiran😄Hati - hati Calon pelakor cantik udah mulai hadir lagi nih di kehidupan Darren dan Kiran. duhhh....gimana Ya..😥
__ADS_1
Nantikan terus kisah selanjutnya ya.......!!!
Jangan lupa like, komen dan vote.