
Ayo Peter jangan pedulikan kami, disini sudah banyak pengawal yang membantu kami"
Alexander kembali mengatakan hal tersebut kepada Peter.
"Baik tuan Alex"
Setelah Peter mengatakan hal tersebut,Peter segera meninggalkan Alexander dan naik ke lantai lima,lantai paling tinggi dari rumah tua tersebut.
Terdengar suara ledakan demi ledakan ketika Peter naik ke lantai lima,Peter berusaha untuk tidak menoleh kepada suara tersebut namun terus berlari hingga mencapai lantai lima.
"Lilian sayang kau ada dimana?"
Peter yang kini sudah berada di lantai lima kembali melihat banyak kamar dengan warna pintu yang berbeda - berbeda.
"Warna pintu yang berbeda - beda ini pasti ada maksudnya"
Peter mencoba berada di tengah ruangan tersebut,namun saat ini dirinya masih begitu bingung harus masuk ke pintu kamar yang mana.
"Peter kau mendengarkan aku?"
Suara Albert kembali terdengar ketika Peter sedang kebingungan menghadapi suatu pilihan.
"Tuan Alberf aku mendengarkan suara mu"
"Camera pengintai memberitahukan jika Lilian berada di kamar paling ujung,dengan pintu berwarna putih"
Peter langsung melihat kamar tersebut,satu kamar yang tampak dari luar memiliki ukuran paling besar.
"Baik tuan Albert,terima kasih"
__ADS_1
Peter mengatakan hal tersebut sambil berlari untuk menuju ke kamar tersebut.
"Kau harus hati - hati Peter, dibalik pintu tersebut terdapat para penembak - penembak jitu yang sudah siap mengarahkan pistonya "
Albert berkata demikian kepada Peter yang terus berlari.
"Aku mengerti tuan Albert"
Peter Sudah tidak memperdulikan dirinya lagi bagi dia saat ini yang penting Lilian bisa selamat
Dan pada akhirnya Peter berhasil mendobrak pintu tersebut.
"Selamat datang kembali tuan San - San"
Beberapa orang langsung mengarahkan pistolnya ke wajah Peter.
"Nona Lilian!"
Peter yang melihat Lilian terikat di tempat tidur langsung berlari ke arah Lilian dan membuka kemejanya serta menutupi tubuh bagian atas Lilian yang sudah tanpa busana.
"Peter aku takut, mereka menyakiti aku, mereka melecehkan aku"
Lilian mengatakan hal tersebut sambil menangis dan terus menangis.
"Maafkan aku yang datang terlambat, maafkan aku"
Peter mengatakan hal tersebut sambil memeluk Lilian,hatinya begitu sakit saat kini dia melihat keadaan Lilian yang telah mengalami pelecehan.
"Peter awas!"
__ADS_1
Lilian berteriak dan mendengar suara tembakan yang diarahkan kepada Peter,satu peluru pada akhirnya berhasil melukai Peter
"Maafkan aku tuan San - San,tapi kau bilang bahwa kita bukan lagi saudara dan aku sudah diberikan kebebasan untuk membunuh mu"
"Alfredo kau!"
Peter ingin mengatakan banyak kepada Alfredo namun kini tubuhnya terlalu lemah untuk melawan,darah segar terus keluar dari tubuh Peter.
Alfredo menarik Peter dari pelukan Lilian,menyeret Peter beberapa langkah,dan kembali mengarahkan pistol nya ke kepala Peter .
"Kau akan mati di tangan ku"
Alfredo mengatakan hal tersebut,namun tiba - tiba saja ada satu peluru langsung menembus kepalanya.
"Kau pikir aku akan mudah terkalahkan"
Michelle mengatakan hal tersebut kepada Alfredo yang langsung meninggal di tempat, Michelle yang menembak Alfredo.
"Kak Michelle,kakak baik - baik saja?"
Lilian langsung beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri Michelle.
"Lilian kau tenang saja aku aman"
"Kak tolong Peter kak"
Hai,pembaca setia tuan Alexander vote dan like
author yah agar authornya bisa tambah semangat lagi.
__ADS_1