
"Arrrrrrrh,aku benci kau tuan Edward!"
Alexander terus mengatakan hal tersebut dan dengan perlahan kini air matanya mulai mengalir.
Sementara itu di dalam kamar tiba -tiba ada yang menyerang Melisa dari belakang sehingga membuat mantranya berhenti.
"Dasar wanita ular!"
Aira masuk ke dalam kamar dan menarik rambut Melisa,semua mantra yang kini sedang diucapkan oleh Melisa mendadak berhenti akibat Aira tiba - tiba masuk dan menarik rambutnya.
"Kau,untuk apa kau ikut campur dalam urusan ku pelayan!"
Aira yang ini telah mengunci Melisa berusaha untuk membuat Melisa tidak dapat bergerak lagi.
"Ya aku memang hanya pelayan,tapi kelakuan mu ini telah membuat hati sahabat ku berduka,dan aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi!"
Aira terus mengatakan hal tersebut sambil menahan Melisa agar tetap tidak bisa bergerak.
Sementara itu karena kini mantra Melisa sudah tidak bekerja dan itu semua akibat ulah Aira, membuat Alexander tiba -tiba terduduk di lantai dan memegang kepalanya dengan ke dua tangannya.
"Arrrrhh kepala ku sakit, kepala ku sakit"
__ADS_1
Alexander berteriak dengan kencang sambil terus memegang kepalanya.
"Alexander,ada apa dengan mu?"
Edward yang melihat anaknya menjerit kesakitan segera datang untuk mendekat.
"Diam!"
Alexander yang mengetahui pergerakan Edward segera mengarahkan pistolnya kembali kepada Edward.
"Aku tetap tidak akan mengizinkan engkau mendekat ke arah ku"
Alexander mengatakan hal tersebut sambil perlahan -lahan kembali berdiri dan pergi dari ruangan tersebut sambil tetap mengarahkan pistol ke arah wajah Edward.
Edward segera berkomunikasi dengan Jian Lee dengan alat kecil yang terpasang di telingga nya, setelah mengatakan hal tersebut Edward segera berlari ke arah halaman untuk membantu yang lainnya.
Sementara itu di kamar masih terjadi pergulatan yang sengit antara Aira dan juga Melisa.
Namun tiba - tiba Melisa meraih vas bunga dan memukul kepala Aira dengan vas bunga tersebut hingga pingsan.
"Sial, karena kau sekarang ritual ku jadi berantakan"
__ADS_1
Melisa mengatakan hal tersebut sambil merapikan kembali semua pakaiannya yang telah kusut karena di tarik - tarik oleh Aira.
"Dasar pelayan murahan,lebih baik kau mati saja!"
Melisa mengatakan hal tersebut sambil menginjak tubuh Aira yang sudah pingsan dengan ke dua kakinya,namun saat Melisa akan mempersiapkan ritual untuk yang ke dua kalinya tiba -tiba ada yang menghubungi ponsel nya dan berbicara secara serius.
"Baiklah aku mengerti"
Selesai melakukan percakapan tersebut Aira langsung menyeret tubuh Aira hingga ke balkon kamar,dan dari arah balkon muncul helicopter berlambang Negara B melemparkan tali ke arah Melisa,satu orang pengawal turun dari dalam helikopter tersebut.
"Nona naiklah terlebih dahulu"
Melisa segera naik ke atas helicopter tersebut sementara itu salah satu pengawal masih memegang tubuh Aira.
"Hei jangan kabur kau!"
Salah satu pengawal Chandradinata berhasil masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk beradu tembak dengan pengawal Dari Negara B tersebut namun tembakan pengawal Negara B tersebut ternyata mengandung racun sehingga pengawal Chandradinata di buat tidak berdaya.
"Ayo,cepat naik aku sudah di atas"
Melisa yang sudah di atas helikopter segera meminta pengawal yang membawa tubuh Aira itu untuk naik.
__ADS_1
Hai,pembaca setia tuan Alexander vote dan like
author yah agar authornya bisa tambah semangat lagi.